The Unfinished and The Unpunished


Bukannya enggan berusaha, aku hanya merasa semua ini semakin sulit untuk kulalui seorang diri. Terlebih, semenjak mereka tak lagi mau mendengar, mengerti, alih-alih peduli terhadap segala hal yang kita berdua alami. Perlu kalian ketahui, dua tahun ini aku terus menghindar dan berusaha melepaskan diri dari semua ini, tapi….

Kamu tahu? Semalaman tadi aku benar-benar merasa tersiksa sendiri. Apa lagi penyebabnya kalau bukan kamu? Apa lagi pemicunya kalau bukan SMS-SMS darimu beberapa hari terakhir ini? Apa lagi penyebabnya kalau bukan rindu yang semakin menggila?

Oh, sialan. Aku tak mau bilang kalau ternyata kamu masih saja menjadi bagian penting dalam hidupku, setelah banyak hal yang terjadi dan seharusnya membuatku sadar sesadar-sadarnya bahwa segalanya lebih baik untuk diakhiri. Namun, apa mau dikata jika ternyata sejauh apa pun aku melangkah, dan sekuat apa pun aku berusaha, semuanya tetap kembali ke satu titik yang sama.

Aku harus bagaimana?

Jika jarak dan waktu dapat kulipat, tadi malam aku tak perlu memikirkan banyak kemungkinan dan pertimbangan untuk menemuimu cepat-cepat. Untuk segera melipur segala duka-lara yang kerap kamu keluhkan dalam setiap SMS dan perbincangan tengah malam kita. Memelukmu dan mengenyahkan segala kesepian yang mendera. Meyakinkanmu bahwa aku lah satu-satunya manusia yang mampu memenuhi segala yang kamu butuhkan di saat kekasihmu tak lagi bisa diandalkan.

Mereka benar, aku memang tong sampah yang diperlukan hanya ketika kamu sedang butuh teman dan merasa sangat kesepian. Seharusnya aku peduli dan lantas menyadari kegoblokanku harus segera dihabisi. Namun seperti yang kamu tahu–dan bodohnya aku telah mengatakannya kepadamu–bahwa satu dari sekian suara yang paling kudengar di dunia ini adalah suara yang berasal darimu. Dan segala hal yang berasal dari dirimu akan menjadi sesuatu yang berkebalikan dengan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Terkadang, aku merasa bahwa aku adalah seorang Masochist yang sedang berpura-pura sakit hati dan terluka setiap kali menerima perlakuanmu yang semena-mena. Masochist yang selalu berpura-pura menderita setiap kali berkeluh-kesah terhadap mereka tentang kita berdua. Masochist yang berlindung di balik derai-derai airmata yang membuat mereka iba sampai tak bisa berkata-kata.

Yang sebenarnya justru sedang menikmati setiap remah rasa sakit yang semakin terbiasa kini.

Aku harus bagaimana?

Jika satu-satunya pilihan yang tersisa hanya tinggal melepaskanmu seikhlas-ikhlasnya, aku tak benar-benar yakin itu adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan semuanya. Aku bahkan tak pernah berpikir bahwa semua ini akan benar-benar berakhir. Tidak, sampai kamu sendiri yang mengatakan bahwa semuanya telah benar-benar berakhir.

Dan kini aku sedang berpikir bahwa saat itu tidak akan benar-benar terjadi, sambil terus berpikir tentang rencana terbaik untuk menemuimu secepat yang aku mampu.

Persetan dengan mereka. Persetan dengan dia. Bahagia itu kita yang rasa.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s