[Holiday Writing Challenge] Romansa Bias


sebelas

“Kamu yakin?” tanya Krisan, saat sepeda motornya melintas perlahan di depan sebuah kafe yang dijadikan Bias sebagai tempat pertemuan kami, sesuai dengan apa yang disebutkannya lewat ponsel tadi.

“Ya. Jalan terus!” aku berusaha meyakinkan diri, membulatkan hati untuk tidak menemui Bias lagi.

“Kalau kamu berubah pikiran, kamu tinggal bilang. Aku bisa putar balik.”

“Jalan!” kutegaskan ucapanku dengan sebuah pukulan di bahunya, dan kurasa Krisan memahaminya.

Gerimis turun sejak tadi, sedari kami meninggalkan bukit. Namun, ia baru terasa dingin dan ada saat ini. Terutama di sini, di kedua pipi. Gerimis yang datang dari dalam hati.

Sepanjang perjalanan, aku bungkam, menangis dalam diam. Rasanya, aku sedang sangat memerlukan sandaran untuk mengempaskan segala beban kegundahan dan kesesakan. Tapi di mana? Siapa? Satu-satunya sandaran yang kuinginkan jauh berada di sana. Bias. Dan aku baru saja melarikan diri darinya.

Kurasakan laju kendaraan Krisan mengalami penurunan kecepatan, hingga akhirnya berhenti di titik sebelum garis pembatas lampu merah. Sesuatu yang sangat jarang dilakukannya. Lalu, kurasakan tangan kanannya bergerak ke belakang. Dan secara perlahan namun pasti, ia meraih jemariku, menggenggamnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya membimbing tanganku memeluk pinggangnya. Sesuatu yang baru pertama kali dilakukannya.

Dan beberapa saat setelah itu, kurasakan sesuatu yang tak terduga menyergap diriku. Sesuatu yang lantas menuntun kepalaku untuk segera bersandar di punggungnya, untuk menumpahkan tangis dan segala kepedihan yang tak sanggup kulalui sendirian.

Masih terbayang bagaimana reaksi Krisan saat mengetahui telunjukku terluka gara-gara tergores benang layang-layang di bukit tadi. Masih teringat betapa sungguh-sungguhnya ia berusaha menghentikan pendarahan kecil yang sebenarnya sangat sepele itu. Dan masih jelas terlihat semburat-semburat kecewa memuramkan wajahnya ketika aku menerima panggilan telepon dari Bias.

Sebenarnya, saat itu mulutku terasa berat untuk mengatakan bahwa Bias mengajakku bertemu di kafe itu, untuk membicarakan sesuatu yang tampaknya cukup serius. Namun, Krisan berhasil meyakinkanku bahwa bersamanya, aku bebas mengutarakan apa saja, dan tak perlu menyimpan rahasia. Itu akan mempermudah segalanya.

“Kalau kamu keberatan buat nganterin, aku bisa nyari taksi,” dan aku merasa tak enak hati.

“Aku yakin, taksinya bakal lebih keberatan,” seakan tak peduli, Krisan bersiap-siap untuk pergi. “Ayo, cepet naik! Kafe yang dibilang Bias lumayan jauh dari sini.”

Untuk yang pertama kalinya, aku merasa sungkan menerima bantuan Krisan. Dan agaknya, terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi pada hari ini.

Di sepanjang perjalanan, aku tak henti memikirkan perubahan rasa yang pelan-pelan mulai kentara. Tentang sesuatu di antara kami berdua. Sesuatu yang mengganggu hati dan pikiranku. Yang semakin dirasakan dan dipikirkan, segalanya semakin menyesakkan, juga menghadirkan gundah yang tak berkesudahan.

Apakah Krisan menyukaiku, seperti halnya aku menyukai Bias?

Dan kini, aku terus menangis di punggungnya, sambil memeluknya. Sementara, hatiku berkata bahwa aku tidak punya perasaan apa-apa terhadapnya.

Mungkinkah kalimat yang sama akan dikatakan Bias kepadaku, jika kami jadi bertemu di kafe itu?

Aku takut. Sangat takut.

***

 

 

[image source]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s