The Invisible Me


Beberapa saat  yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman semasa SMA. Dan ajaibnya, viola! dia tidak mengenali saya. Ha-ha. Oh, baiklah, ini memang cerita lama. Dan sepertinya, saya memang salah menyebut dia dengan predikat Teman Semasa SMA. Seharusnya Seseorang yang Pernah Satu Sekolah dengan Saya Saat SMA.

 

Bagi dia–seseorang yang pernah satu sekolah dengan saya saat SMA itu, sepertinya ini bukan masalah ingat atau tidak ingat, melainkan kenal atau tidak kenal. Beberapa teman yang pernah satu kelas dengan saya dulu pasti bakal menegur atau sekadar tersenyum dan melambaikan tangan kepada saya jika tiba-tiba kami bertemu di mana pun. Dan dia yang sedang saya bicarakan sekarang memang tidak pernah satu kelas dengan saya saat itu. Jadi, ya, oke, kita sebut wajar kalau dia tidak mengenali saya, alih-alih menyapa saya.

 

Dan selama dua tahun berada di tempat ini, hal semacam itu sudah terjadi berkali-kali. Saat melihat sebuah nama tertulis di jadwal pernikahan bulan ini atau bulan-bulan berikutnya, saat kemudian melihat seseorang yang datang dan masuk galeri, saat kemudian mengetahui bahwa dia adalah seseorang yang pernah saya lihat di suatu tempat atau bahkan ternyata teman satu sekolah atau kakak kelas atau adik kelas saya atau bahkan seseorang yang pernah saya lihat di facebook, saat kemudian saya ingin menyapa dan urung karena saya yakin dia tidak akan mengenali saya dan saya bakalan tengsin dibuatnya; saat itulah saya membenci keisengan otak saya. Membenci ingatan saya yang berlebihan.

 

Sisi buruknya, ini menjelaskan siapa saya dulu dan sekarang. Errr… mari kita sejenak berpura-pura sedang hidup di dalam sebuah cerita teenlit berseting SMA, di mana tokoh utamanya adalah seorang anak laki-laki yang tidak populer, dan selalu memperhatikan orang-orang di sekitarnya secara diam-diam. Dan ternyata, si tokoh utama itu tidak mengalami perubahan nasib setelah lulus SMA dan lulus kuliah. Tetap menjadi sosok yang tak terlihat.  Dan, bisa ditebak kan, siapa anak laki-laki itu? Ya, siapa lagi?

 

Mungkin, memori saya terlalu kuat untuk mengingat orang-orang yang pernah saya temui atau sekadar saya lihat. Terkadang ini menyebalkan. Rasanya seperti merendahkan diri sendiri, menganggap seolah-olah orang lain yang kita kenali itu seorang selebriti dan saya tak lebih berarti hanya karena dia tidak ingat bahkan tidak tahu kami pernah berada di satu tempat yang sama pada saat yang sama. Dan ketika saya bilang kepada orang lain bahwa saya mengenal  siapa dia, orang itu bakal menganggap saya cuma ngaku-ngaku. Oh, ya, betapa menyedihkan menjadi sosok yang tidak populer, menjadi seseorang  yang tak terlihat.

 

Namun, saya percaya bahwa selalu ada sisi baik dalam segala hal. Tidakkah ini membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan mengingat wajah dan nama seseorang dalam jangka waktu yang sangat panjang? Untuk saat ini, efek positif dari kamampuan itu mungkin belum terasa. Mungkin suatu saat nanti. Dan, ya, saya percaya, segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan, dan selalu terjadi tepat pada waktunya.

 

Dan saya percaya, bahwa menjadi seseorang yang tak terlihat itu bukan berarti bahwa saya tidak ada. []

One thought on “The Invisible Me

  1. hahaha, mirip banget dengan saya.
    sampe2 kalau ada temen lama yang tiba2 menyapa, saya langsung bersyukur kepada tuhan, kalau punya teman yang super sekali bisa kenal dan mengingat saya.😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s