Tentang Menyukai dan Tidak Menyukai


 

 

Menyukai dan tidak menyukai seseorang itu merupakan pilihan dan hak setiap orang. Namun, beberapa orang merasa memerlukan alasan untuk memuaskan keingintahuan. Dan menurut saya, itu pun sebuah pilihan dan hak setiap orang. Hanya saja, mungkin tidak semua orang bisa menyadari dan menerimanya, atau mereka hanya terlambat saja.

 

Beberapa pekan yang lalu, saya bertemu dengan seseorang, dalam konteks pertemuan yang bisa dibilang sangat personal untuk tidak menyebutnya sebagai sebuah kencan. Dan, pertemuan pertama itu berakhir cukup menyenangkan. Namun, hal berbeda terjadi pada pertemuan berikutnya. Tidak ada yang salah, hanya mungkin segala sesuatunya berjalan tidak sesuai apa yang saya harapkan, dan semua itu agaknya terlalu abstrak untuk dijelaskan. Lagipula, persoalan perasaan itu memang sedikit lebih rumit untuk dijabarkan. Kesimpulannya, saya tidak menyukai dia.

 

Beberapa hari setelah saya mulai menunjukkan reaksi apatais terhadapnya, sepertinya dia mulai merasakannya. Lantas, dia mencecar saya dengan berbagai pertanyaan yang diawali kata “Kenapa”, sampai akhirnya saya merasa jengah dan muak  sedikit tertekan sebab dia mulai bertingkah kelewat batas. Sampai akhirnya, melalui sebuah surat elektronik yang panjang dan agak berputar-putar, saya bilang kalau saya tidak menyukainya, tidak memiliki ikatan perasaan yang kuat dengannya. Saya rasa itu sudah cukup menjawab semua pertanyaannya. Dan saya harap dia memahami dan menerimakannya.

 

Jadi, ketika–misalnya–kamu bertanya kepada seseorang tentang kenapa dia tidak menyukai ikan, dan dia menjawab karena lidah dan penciumannya menolak makanan itu masuk ke mulut dan perutnya, sampai situ seharusnya kamu sudah merasa cukup puas. Menyukai dan tidak menyukai sesuatu atau seseorang itu sifatnya sangat personal.

 

Tetapi memang, terkadang kita sebagai manusia yang tak kenal rasa puas selalu ingin tahu lebih dan lebih. Bahasa anak zaman sekarangnya mungkin “Kepo”. Dan itulah yang terjadi pada saya ketika pagi itu seorang teman chatting di BBM meminta tolong untuk dibukakan sebuah tautan, yang ternyata berisi sebuah gambar desain panggung untuk konser Lady Gaga bulan Juni mendatang.

 

Dan pertanyaan itu pun muncul, “Kenapa sih, kamu suka banget sama Lady Gaga?” Bagi saya, rasa ingin tahu itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa  bahkan mungkin lebih istimewa dari tahu Sumedang.  Sebab, ya, hal ini menyangkut sosok fenomenal sekaligus kontroversial. Saya berharap dia memberi jawaban yang tak kalah fenomenal dan kontroversial juga.

 

“Maaf ya, Kak, aku nggak mau jawab. Pasti nanti Kakak bakalan nge-judge macem-macem. Jadi, lebih baik aku diam.”

 

Oh, sepertinya, teman saya ini memang bukan sekadar fans biasa. Saya pun membalas, bahwa saya berada di pihak yang netral. Saya tidak memuja, tidak juga mencela Gaga. Sebagai penikmat musik segala aliran, saya menyukai beberapa lagu Lady Gaga, hingga menjadikannya lagu wajib setiap berkaraoke ria. Tapi memang saya tidak menempatkan diri di barisan fans Gaga yang diberi nama Little Monster itu (oh, ya, saya bahkan tahu nama itu dari teman saya ini). Dan saya pun bukan termasuk orang-orang yang mencela Gaga. Jadi, sekali lagi saya tegaskan pada dia, saya netral. Dan saya hanya ingin tahu alasan kenapa dia sangat menyukai Lady Gaga sampai segitunya. Ya, siapa tahu ada fakta-fakta menarik meski subjektif yang tidak saya tahu sebelumnya. Tapi… yah, sudahlah, agaknya, pembicaraan itu memang terlalu sensitif baginya. Saya pun memilih untuk diam.

 

Día masih sering meminta tolong kepada saya untuk membuka tautan-tautan yang tak bisa dibuka dari ponselnya karena mungkin keterbatasan paket BIS-nya.

 

Sampai tadi pagi, dia mengirim BM. Isinya, dia sedang mencari pembeli untuk Blackberry jenis tertentu dengan spesifikasi tertentu, lengkap dengan harga penawaran. Ini adalah BM keduanya setelah kemarin malam.

 

“Hei, jangan bilang kalau BB yang mau dijual ini adalah BB punya kamu!”

 

Dia membalas, “Hehe… iya, Kak. BB aku mau dijual. Kakak berminat, nggak?”

 

“Yah, kalau dijual, nanti kita nggak bisa BBM-an lagi, dong. Waktu dulu dijual karena kamu bilang selalu galau. Sekarang, galau karena apa lagi?”

 

“Sekarang galaunya dikit kok, Kak. BB aku dijual buat beli tiket nonton konser Gaga. Hehe…”

 

Dan tiba-tiba saja saya didatangi semacam perasaan terharu.

 

Ya, memang seperti inilah perasaan menyukai, mencintai, dan memuja. Siapa pun bakal melakukan apa pun untuk sesuatu atau seseorang yang disukai, dicintai, dan dipujanya–juga untuk sesuatu atau seseorang yang tidak disukainya, hanya agar ia mengetahui dan memahaminya.[]

 

2 thoughts on “Tentang Menyukai dan Tidak Menyukai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s