Cepat Pulang, Bu, Kami Rindu


 

 

Teruntuk Ibu,

 

 

Ini adalah hari keempat Ibu dirawat. Dan saya belum sempat melawat. Ah, ya, kita memang tidak begitu dekat. Namun begitu, saat hari Senin kemarin Bapak memberi kabar bahwa Ibu sakit parah dan harus dilarikan ke rumah sakit, ada sebagian di dalam hati saya yang serasa tercubit.

 

Selama tiga hari kemarin, Bapak selalu pulang dengan membawa kabar yang berbeda-beda. Bapak bilang, Ibu kena gejala DBD, kemudian ada masalah dengan jantung, lalu meranggas ke gangguan paru-paru hingga saluran kemih. Tapi yang pasti, Ibu harus dipindahkan ke ruang ICU.

 

Ya Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu?

 

Yang saya tahu, beberapa bulan belakangan ini, Ibu jarang keluar kamar. Saya faham. Mungkin beberapa wanita hamil akan mengalami fase kemalasan yang luar biasa. Sempat juga sesekali saya dengar kabar bahwa Ibu sakit. Tapi sepertinya sakit ringan, dan kalaupun harus ke dokter, itu lebih dikarenakan untuk mengecek kandungan.

 

Dan yang selalu Ibu katakan kepada saya, dan juga anak-anak yang lainnya, bahwa ketika Ibu sakit, Ibu akan berusaha melawan penyakit itu sekuat kemampuan Ibu. Dengan kata lain, Ibu bukanlah tipe manusia cengeng saat sedang sakit. Sebisa mungkin tak perlu ke rumah sakit, tak perlu menenggak obat; cukup banyak beristirahat.

 

 

Jika harus mencari tahu apa penyebab sakitnya Ibu, yang paling mungkin adalah takdir. Mungkin Ibu akan tertawa jika membaca bagian ini. Saya sekadar mengingatkan Ibu yang selalu bilang bahwa Ibu selalu menjaga kesehatan dan kebersihan, dan mengingatkan kami soal itu. Membeli pakaian–hingga pakaian dalam–yang harganya sangat mahal, bagi Ibu dan Bapak bukan berarti sekadar menjaga gengsi dan harga diri, melainkan juga untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Dalam sebuah obrolan santai, Bapak pernah berkelakar, kalau membeli celana dalam yang harganya murah itu bisa membikin gatal selangkangan. Ibu juga pernah setengah bercanda setengah serius menyebut saya kurang gizi karena Ibu pikir, saya tidak mampu membeli makanan dan minuman mahal yang biasa Ibu konsumsi.

 

Asumsi saya, Ibu atau pun Bapak sudah memiliki pola hidup yang ideal dan sehat, didukung segala fasilitas yang bersih dan asupan vitamin dan gizi yang memadai. Jadi, datangnya si penyakit ini bisa  jadi memang karena takdir.

 

 

O iya, saat makan siang kemarin, Mbak yang bertugas mengurusi anak Ibu curhat kepada saya. Katanya, saat ia sakit parah hingga sulit bangun dari tempat tidur, ia jelas-jelas mendengar Ibu bukannya memberi ucapan semoga cepat sembuh, malah sesumbar bilang, “Saya yang capek, kok malah kamu yang sakit?!”

 

Apakah itu benar, Bu? Ibu bilang begitu kepada Mbak?

 

Tapi, yang pasti Ibu ingat soal yang satu ini. Saat saya sakit cukup parah beberapa bulan yang lalu, Ibu mengirimi saya SMS yang isinya kurang lebih begini, “Kerjaan kamu kan banyak. Jadi, nanti sebagian kerjaannya dibawa ke rumah.” Saya tidak mengharap Ibu mengucapkan semoga saya lekas sembuh atau sejenisnya. Mungkin lebih baik kalau waktu itu Ibu tak perlu meng-SMS saya seperti itu. Tapi, oke, itu memang hak Ibu. Dan saya mau tak mau harus menerimanya.

 

Oh, tentu saja, saya tidak menyimpan dendam sedikit pun soal itu. Dan saya yakin, apa yang terjadi pada Ibu saat ini tidak ada hubungannya dengan kejadian-kejadian saat itu. Ibu adalah orang baik, dan banyak membantu orang lain, termasuk saya. Mungkin karena kita tidak begitu dekat, terkadang saya berpraduga tak semestinya terhadap Ibu.

 

Mungkin, nanti sore saya dan beberapa anak lainnya akan melawat Ibu ke rumah sakit. Ibu mau dibawakan apa? Kue kesukaan Ibu yang harganya sangat mahal itu? Hm… baiklah, saya dan anak-anak lain akan patungan untuk membelinya.

 

Di akhir surat ini, saya berdoa semoga Ibu lekas sembuh, dan semoga kandungan Ibu tidak mengalami masalah serius. Cepat pulang, Bu. Kantor jadi sepi, dan kami rindu omelan dan omongan besar Ibu.

 

 

 

 

Hormat saya,

 

Dadan Erlangga

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s