Perbincangan Semalam


 

 

Teruntuk Kamu,

 

 

Dari perbincangan semalam, rasanya aku perlu bertanya, kamu itu manusia atau siluman? Datang tiba-tiba, pergi begitu juga. Mungkin, seharusnya aku melakukan hal yang sama, supaya kamu juga berpikir hal yang sama tentangku. Tapi itu tak mungkin. Kamu terlalu realistis untuk kuajak berkelana di dunia abstrakis.

 

Semalam, kamu lebih banyak berbicara, berkata-kata. Entah salah makan atau memang itu adalah sisi lain kamu yang menyenangkan. Biasanya, cuma kata-kata semacam hoi, ya, hehe, atau hanya emotikon senyum, nyengir, dan melet saja yang kamu ketikkan di jendela pesan instan sebagai balasan.

 

Aku tak henti tersenyum waktu kamu menjelaskan kesibukanmu akhir-akhir ini. Terlalu detail untuk ukuran manusia irit kata-kata seperti kamu. Sampai kemudian, kamu bertanya tentang aku. Dan kamu bilang, tak banyak hal yang kamu ketahui tentang aku.

 

Ya, selama ini, kamu memang tak pernah peduli kepadaku.

 

Kamu tertawa usai membaca kalimat itu. Kamu bilang, kita hanya dua orang yang baru berkenalan, dan rasanya masih terlalu dini untuk memvonis salah satu dari kita dengan kalimat “kamu memang tak pernah peduli kepadaku” itu.

 

Aku tertegun. Kamu benar. Kita memang bukan siapa-siapa.

 

Bagaimana bisa aku merasa kalau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Aku tahu ini gila, dan bagimu tak masuk akal. Apa yang kamu katakan membuatku merasa semakin terpartisi jauh darimu. Kita tidak hanya dipisahkan dua jarak yang cukup jauh, melainkan dua dunia yang luput ditempuh. Kamu yang realistis, dan aku yang hiper melankolis.

 

Aku mundur selangkah. Mencari celah untuk menentukan arah. Betapapun, kini aku bukan lagi seorang bocah yang menggilai sebuah kisah yang terjalin secara instan. Pengalaman memberiku pelajaran sederhana tentang waktu. Bahwa, apa pun akan terjadi bila sudah saatnya, dan tepat pada waktunya. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, di luar kenyataan apakah kita sudah benar-benar berusaha sekuat yang kita bisa atau hanya diam saja.

 

Lantas, aku mengajukan pertanyaan kepadamu tentang masa lalu. Mungkin dengan begitu, aku bisa lebih dan semakin tahu seperti apa kamu. Dan lagi-lagi aku tak henti tersenyum saat kamu menceritakan sesuatu secara terperinci. Aku suka melihat banyak kata-kata yang bermunculan darimu, sekalipun itu bukan tentang aku, melainkan tentang kamu dan dia. Cintamu. Kenangan manis dan tak manis tentang kalian berdua.

 

Aku tak boleh cemburu. Aku tahu, aku bukan siapa-siapamu, dan kamu bukan siapa-siapaku.

 

Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku ingin menjelma menjadi dia. Ya, dia, sosok yang tak kukenal itu. Yang bisa membuatmu begitu menginginkannya. Yang kelak akan kamu ceritakan kepada seseorang di masa depan dengan sorot mata berbinar-binar dan raut wajah merah padam. Juga dengan debaran-debaran menyenangkan.

 

Dia, yang tak terlupakan. Dan aku, yang siap-siap dilupakan.

 

Aku semakin mundur. Namun hal itu tak lantas membuatku hancur. Sedikit, sih. Tapi setidaknya, aku semakin tahu di mana posisiku yang sebenarnya.

 

Mungkin kamu menangkap kegelisahanku. Nada itu terbaca dari kata-katamu kemudian. Kamu bilang, hal seperti ini sudah sering terjadi, dan kamu tak ingin terjerembap ke dalam lingkaran itu lagi. Angan-angan semu. Dunia khayal. Delusi. Apa pun kamu menamainya.

 

Ya, aku pun pernah, beberapa kali, termasuk saat ini. Tapi aku punya alasan untuk semua ini. Meski kedengarannya klise dan cukup abstrak bahkan tak masuk akal bagimu. Terserah. Aku melakukannya dengan kesadaran penuh, dan tentu saja dengan senang hati. Tanpa perlu kamu minta. Tak juga meminta pamrih.

 

Dan karena aku semakin menyadari bahwa hidup ini adalah semacam potongan-potongan refleksi dan repetisi. Jatuh cinta dan patah hati hanya siklus kecil di dalamnya.

 

Aku menulis surat ini hanya agar kamu tahu seperti apa perasaanku yang sebenarnya. Jadi, terserah, setelah ini kamu mau berbuat apa. Terserah juga sih, kalau kamu mau balas jatuh hati kepadaku. Dengan senang hati aku menangkap hatimu. Hahaha :p

 

 

 

 

Tertanda,

 

#kurakura

One thought on “Perbincangan Semalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s