Setelahmu



Dalam benak tersimpan kenangan

yang tak ‘kan kubilang pada semua

Dalam ingatku ada namamu

belahan hatiku waktu dulu…

 
Aku yakin kamu akan menyebut ini sebagai serendipity. Hanya karena aku merasa bosan dan ternyata salah menekan tombol yang seharusnya mengaktifkan pemutar CD dan bukannya radio, lagu lama itu pun tepat terdengar mulai dari intro. Lagu kesukaanmu. Lagu yang sering kamu putar dan nyanyikan berulang-ulang. Di kamarmu. Di kampus. Hingga di kamarku. Dulu.

Seharusnya di luar macet dan hujan, biar dramatisasi akibat ingatan tentangmu ini terasa lebih maksimal. Namun lalulintas lancar, dan cuaca hari ini terlalu manis untuk dibilang buruk. Matahari bersinar penuh toleransi dan kebijaksanaan. Langit pun seperti kain yang baru dibeli, dicuci, dan disetrika rapi, seperti yang sering kamu katakan untuk mengumpamakan langit cerah waktu itu.

“Hei, di luar cerah banget. Kita makan eskrim, yuk!”

Aku tak langsung menggubris usulmu, sebab tugas-tugasku masih menumpuk. Hari itu adalah dua hari sebelum ujian akhir semester terakhirku. Kode program salah satu tugas besarku masih kacau dan tombol enter di laptopku kerap menjadi korban pelampiasan emosiku akibat program buatanku belum bisa dieksekusi dan dioperasikan.

“Lagi sibuk banget, ya?”

Dan lagi-lagi responku teralihkan tugas-tugas sialan itu. Entah berapa lama aku tak mengacuhkanmu. Sampai kemudian kusadari sesuatu, kamu tertidur dalam posisi duduk, dengan kepala beralaskan ranselku di atas meja. Wajahmu menghadap ke arahku, menampakkan keluguan yang indah, kesederhanaan yang mewah.

Sore harinya, kita meninggalkan perpustakaan dengan langkah riang. Dan sebagai penebus rasa bersalahku, aku mentraktirmu makan eskrim sepuasnya. Sampai kamu kenyang. Sampai kamu senang. Untuk yang keberapa kalinya kamu menyadarkanku tentang sesuatu, senyummu adalah kebahagiaan terdekat dan terlengkap untukku.



Masih terasa kita bersama

Indah dan tak indah berdua

Jemput aku dalam kenanganmu di sini…

 
Entah kenapa kamu sangat menyukai lagu melankolis ini, dan sayangnya kamu tak pernah memberi jawaban juga alasan serius soal ini. Padahal, di mataku, kamu adalah sosok yang sangat ceria. Aku tak pernah lupa bagaimana kita berjumpa, berkenalan, lalu dekat. Kamu kerap menggangguku dengan tingkah konyol namun lucu. Menghiburku dengan lelucon garing namun seru. Menghangatkanku dengan perhatian berlebihan namun membikin ketagihan.

Kamu juga sering membawakanku masakan dan kue buatan ibumu. Ah, ya, ibumu, apa kabarnya? Sehat wal afiat, kan? Apakah masih rajin memasak dan bereksperimen dengan resep-resep menakjubkannya? Dulu, ibumu kerap menyebutku Pemuda Kutilang. Ah, ya, aku kangen predikat itu setiap kali memandangi diriku di depan cermin. Alih-alih sempat berolah raga, sisa waktuku kini sering kali tersita urusan pekerjaan.

Kamu pasti akan menyebutku pemalas. Dulu, kamu yang paling cerewet soal yang satu ini. Kamu rajin membangunkanku di Minggu pagi untuk jogging di Sabuga. Kamu juga sering memaksaku menemanimu lari sore di sana. Dan kamu juga lah yang memaksaku menjadi anggota sebuah klub kebugaran.

Lebih dari sekadar teman di kala susah dan senang, bagiku, kamu adalah pengendali dan pengatur ritme  hidupku. Kamu adalah sahabat terbaikku.

Tetapi, tiba-tiba kamu menangis sesaat setelah kukatakan hal itu. Ada yang salah dengan pernyataanku? Kamu bergeming. Selama beberapa hari kita pun hening. Sampai pada suatu malam yang berhujan, kamu hadir lewat sebuah panggilan telepon. Tanpa tendeng aling-aling, kamu memintaku menjemputmu dari suatu tempat yang sangat jauh dari arah rumahmu, saat itu juga, dan tak ada tawar-menawar lagi. Sepanjang perjalanan, kepalaku tak bisa berhenti bertanya apa yang kamu lakukan di tempat itu, dan bagaimana bisa kamu berada di sana.

Jawaban itu baru kudapatkan beberapa hari kemudian. Setelah kamu tenang. Usai kamu pulih dari demam. Kamu bilang, kamu frustrasi, dan melampiaskan semua itu dengan cara berkencan dengan seseorang yang baru seminggu kamu kenal lewat situs pertemanan di internet. Terus terang aku kecewa. Dan aku benar-benar tak habis pikir. Sebenarnya, apa yang kamu cari? Kamu bilang, kamu jatuh hati kepadanya hanya karena dia mirip denganku. Dan malam itu, untuk yang pertama kalinya kalian berjumpa, kemudian bercinta.

Tak ingin kulepas kenanganku

Karena kutahu ini berarti

Walau kau tak lagi di sisiku

Tak apa…
 

 

Lagu itu sudah berakhir, digantikan lagu yang lain. Namun bayanganmu masih berada tepat di ujung mataku, dan segala kenangan tentang kita masih tersimpan rapi dan utuh di dalam kepala dan dadaku.

Perjalananku berakhir di depan sebuah rumah berpagar abu-abu. Setelah beberapa kali menekan klakson, seseorang membukakan pagar. Seorang perempuan cantik berambut sebahu yang memiliki senyum terindah kedua setelah kamu. Dia, istriku. Aku jatuh hati kepadanya hanya karena dia mirip denganmu. Dan seiring waktu berlalu, aku mulai menyayanginya secara tulus dari dalam hatiku. Seperti halnya kamu dengan lelaki yang kamu bilang mirip denganku itu.[]

 

 

* * *

 

 

Lagu “Tak Apa” oleh Melly


One thought on “Setelahmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s