Vacation


(1)

Kenapa aku di sini?

Pagi kedua di sebuah pulau nan sepi. Ia tampak menikmati tiupan angin Bintan yang mendesir dari luar, membiarkan dirinya terombang-ambing.

Tak berapa lama, angin membawanya pada sebuah panorama pantai yang sejak kemarin hanya terbingkai jendela kamar hotel. Hembusan yang sempurna menerpa-nerpa wajahnya, mengoyak rambutnya. Sang ombak bergantian menepi, menggoda kakinya. Terjejak tapak-tapak mungil pada putihnya pasir kemudian hilang tercuri gelombang. Kali ini ia boleh tenang bertelanjang kaki sebab tiada bulu babi dan antek-anteknya yang akan ia temui di sini. Setidaknya itu yang ia dengar dari seorang pelayan hotel yang tadi mengantarkan sarapan.

Kenapa dan untuk apa aku di sini?

Liburan ini bahkan tak pernah ia rencanakan. Keputusan yang mendadak dan –mungkin– dianggap tidak rasional mengingat seminggu yang lalu sepupunya baru meninggal. Sepupu tersayang, tempat curahan segala perasaan.

“Kalau aku mati, kamu jangan nangis, ya!” ia tak pernah lupa kata-kata itu. Beberapa hari sebelum kecelakaan, sepupunya menginap di rumahnya dan tidur sekamar dengannya. “Nanti, siapa yang akan melipurmu? Cowokmu, kan, nggak tahu apa-apa tentang kamu. Malah ia pikir, lucu, waktu kamu menangisi kematian kucing tetangga yang sering main di rumahmu.”

Seandainya ia tahu itu malam terakhir mereka; semalaman ia coba membelalakkan mata, menghadapkan muka, tak sedikitpun menyisakan kata yang besok atau lusa tak lagi dapat diungkapnya.

“Setelah kupikir panjang, ternyata mati itu enak juga; damai, tenang, istirahat panjang. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang penuh kesibukan, melelahkan, menyakitkan,” ia malah berusaha menutup mata dan telinganya dengan bantal demi mengabaikan sepupunya yang semakin meracau. “Pantas nenekku, teman sebangkuku waktu SD, kemudian mamaku, adik lelakiku yang baru lahir, sampai beberapa orang tua temanku yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri berlomba-lomba pergi, secepat itu mendapat tiket mati.”

Ia selalu memilih menghindar setiap sepupunya mulai ngelantur soal kematian. Berjingkat ke kamar mandi dengan alasan sakit perut sekiranya tak menampakkan kesan “aku mau kamu diam!”.

“Untuk apa, sih, sebenarnya kita hidup kalau akhirnya harus mati juga? Lebih baik aku nggak pernah bertemu dan mengenal siapa-siapa biar nggak perlu sedih dan kehilangan saat ditinggalkan. Dan lebih baik aku nggak pernah hidup saja,” ironisnya, justru di saat-saat terakhir, sepupunya seakan mematahkan semua sinisme itu.

Ia tak perlu lagi berusaha ‘menyadarkan’ sepupunya; “Kamu tahu, untuk apa kita makan kalau toh akhirnya harus ‘dikeluarkan’? Untuk apa memotong rambut dan kuku kalau besok atau lusa ia tumbuh lagi? Lalu untuk apa mempertanyakan semua ini? Hidup ya memang seperti ini.”

Dan betapa ia tak pernah mengira sepupunya yang kerap ditinggalkan orang-orang tersayang dalam hidupnya harus pergi secepat ini, menyusul mereka dengan skuter matic-nya yang bertabrakan dengan truk pasir setelah berusaha menghindari perempuan tua yang sedang menyeberang.

Seolah menerima ‘warisan’ dari sepupunya, kini ia tahu seperti apa rasanya kehilangan ‘sesuatu’. Dan sekacau apa pikiran yang tengah digenangi rasa ‘kehilangan’ itu.

Apakah aku ke sini demi mendamaikan hati? Atau melarikan diri?

Ia mendesah, mencoba mengusir segala pikiran tentang sepupunya. Kini ia duduk pada sebuah kursi kayu beberapa meter menjauhi bibir pantai. Setelah cukup bosan dengan desau angin dan buih lautan, telinganya rindu belaian suara seseorang. Tangannya meraih dua utas kabel yang terburai dari sebuah benda seukuran kotak korek api yang pas di kantong hot pants-nya. Kedua ujungnya yang terhubung dengan alat pancar suara kemudian disumbatkan pada telinganya, dan sebelah tangannya yang lain menekan tombol power pada iPodnya.

I’m a big big girl
In a big big world
It’s not a big big thing
If you leave me

Ah, kenapa harus lagu ini yang pertama memenuhi kepalanya? Ia dan sepupunya kerap memutar dan menyanyikannya, terutama di saat salah satu dari mereka ada yang berduka. Mereka bisa menangis bersama, kemudian salah satunya menghibur pihak yang terluka hingga bisa tertawa. Tetapi kali ini, ia terpaksa menangis sendiri, tak ada yang membuatnya bisa tertawa kembali.

Ia baru menyadari sesuatu setelah jemarinya yang menjadi tanggul penahan air matanya mulai tumbang satu per satu. Seorang lelaki duduk di sampingnya dengan saputangan yang diarahkan padanya. Entah berapa lama ia melakukannya.

“Thanks,” ditolaknya penawaran lelaki itu sebab ia sudah berbekal seplastik kecil tissue dalam jaketnya. Dalam hati, ia berjanji akan memaki pelayan hotel tadi yang juga sempat bilang bahwa pantai ini sangat sepi pengunjung; jarang ada wisatawan, kecuali staf hotel yang membersikhan rumput laut di sana-sini. Bagaimanapun ia malu air matanya diketahui seseorang.

“Sedang liburan?” lelaki itu bertanya setelah membiarkannya beberapa saat.

“Apa?” ia balas bertanya sambil melepas handsfree-nya.

“Sedang liburan?” ulang lelaki itu setengah berteriak. “Dari pulau Jawa, ya?”

“Ya!” balasnya tak kalah berteriak. “Tapi aku nggak budek, kok!”

“Aku tahu,” lelaki itu tertawa. Beberapa detik kemudian, ia pun tersenyum.

***

(2)

“Baru pertama datang ke Bintan, ya?” ia bertanya pada perempuan yang masih membekaskan rona merah pada area matanya yang sembap itu, yang kemudian hanya memberinya anggukan sekadarnya.

Ia tak berhak tersinggung sebab sejauh ini dirinya terlalu asing untuk perempuan itu betapapun ia cukup trenyuh melihat air matanya jatuh.

“Bintan; pulau terbesar di Riau, lho. Luasnya saja sekitar 1800 kilometer lebih,” sekadar usaha, ia mengumpan pembicaraan yang sedikit lebih ‘tidak standar’ dibanding pertanyaan semacam: ‘boleh tahu nama kamu siapa?’ Atau bahkan pertanyaan bergaya si Selalu Ingin Tahu Urusan Orang: ‘kulihat tadi kamu menangis. Kenapa?’

Ia tahu perempuan itu tak akan merespon. Maka ia pun melanjutkan, “Aku tahu, kamu pasti nggak tahu.”

“Ya,” aku perempuan itu pelan tanpa melepaskan tatapnya dari laut. “nilai Geografiku buruk.”

Ia tersenyum, “Bukan itu maksudku. Tapi lebih kepada; siapa saja, sih, yang tahu keindahan pulau Bintan ini? siapa saja, sih, yang tahu kalau di sini terdapat lebih dari seratus ribu spesies laut? See? Pulau ini begitu sepi.”

“Tapi kupikir kesepiannya cukup menjual.”

“Hm, sepertinya aku mencium bau pelarian.”

Perempuan itu berpaling padanya dan mendelik. Tak menunggu hingga berdetik-detik, tanpa pamit, perempuan itu bangkit. Tapak-tapak kecilnya terjejak menjauh dari tempat duduknya.

Shit! Ia sukses memperkenalkan diri sebagai seorang asing yang sok ingin tahu urusan orang lain.

Ya, menjadi orang yang bersimpatik memang jauh lebih sulit daripada menjadi apatis. Ia tak pernah belajar pada seorang saksi mata yang akhirnya justru tersudut perkara. Dan ia merasa tak jauh lebih baik dari seorang penjual kondom yang bertanya: ‘untuk apa Anda membelinya dan dengan siapa Anda akan melakukannya?’.

Padahal, ia hanya ingin sekadar menghibur perempuan itu, sedikit menyeka air matanya. Padahal, ia pun–nantinya–bisa saja bilang kalau kedatangannya ke sini tak bukan sebab pelarian.

Dan tentu saja sebab ia sedang butuh teman betapapun ia ingin sendirian.

Kemarin malam, salah seorang kerabatnya yang tinggal di Singapura menyampaikan kabar buruk lewat telpon, “Maaf, Saudaraku, baru saja aku menerima kabar bahwa namamu telah dicoret dari daftar antrean pasien transplantasi jantung.”

Prediksi terburuknya akhirnya terjadi juga. Betapapun hidupnya digelimangi materi, bukan berarti kehidupan selalu dapat dengan mudah ia beli. Terlalu pelik masalah yang ia hadapi. Sejak beberapa tahun yang lalu, ia dideteksi menderita penyakit jantung bawaan. Berbagai pengobatan ia lakukan sampai pada tahap pemeriksaan tertentu, penyakitnya semakin parah, berlanjut pada gagal jantung. Keluar-masuk pintu terapi yang tanpa hasil membuatnya semakin frustrasi. Hanya ada satu jalan: transplantasi.

Tetapi, tentu saja ini bukan perkara mudah. Di Indonesia sendiri, donor organ–alih-alih jantung, selain masih cukup rancu secara teknologi medis, juga masih diperdebatkan perihal ‘halal-haram’-nya. Maka, salah seorang kerabatnya yang bersuamikan seorang warga Singapura yang cukup berpengaruh di sana, menawarkan angin surga lewat upaya mendaftarkan namanya sebagai salah satu dari sekian banyak pasien transplantasi. Memang menjadi kecurangan tersendiri mengingat adanya kebijakan memprioritaskan penduduk pribumi. Tetapi, memang, prioritas untuk keluarga sendiri jauh lebih penting dan tidak bisa dihalangi.

Ia pun pernah menolak hingga ia pikir mati adalah hal yang paling mengerikan dari kehidupan. Orang bilang, rasa sakit yang paling luar biasa adalah saat seseorang sedang meregang nyawa. Alih-alih membayangkan “alam kemudian” dengan seting serba gelap dan menakutkan. Tentang perasaan-perasaan kehilangan; orang tua, karib kerabat, kekasih dan sahabat tercinta sebab bukan sehari dua hari ia akan meninggalkan mereka. Dan masih terlalu banyak hal duniawi yang menyesaki pikirannya, obsesi dan ambisi yang masih dikejarnya di usia akhir dua puluhnya.

Kabar buruk itu seketika mematahkan tulang-tulang semangatnya, memupuskan napas asanya. Semalaman itu matanya tak luput terjaga. Pikirannya ke mana-mana. Hingga akhirnya pandangannya terarah ke sebuah pulau di seberang tempat ia tinggal. Maka, siangnya ia pun bertolak dari Batam ke Bintan dan menyewa sebuah kamar.

Di sinilah ia menemukan ketenangan. Di pantai inilah kemudian ia bertemu seseorang yang ia pikir–setidaknya punya kesamaan nasib dengannya. Tapi berkat kecerobohannya, ia pun terpaksa menanggung sedikit perasaan bersalah padanya.

Ia mendesah dan membenamkan wajahnya dalam sepuluh jemarinya.

“Hm, sepertinya aku yang lebih mencium bau pelarian di sini,” ia terkejut saat perempuan itu kembali dengan topi dan dan tas kecil. “Mau menemaniku? Kemarin aku tak sempat berkeliling.”

Ia pun tersenyum dengan rona di pipinya.

Dan angin semakin berdesir kencang, setiap desaunya seakan membisikkan, tidakkah kamu sadar bahwa hidup adalah serupa liburan? Dan kematian adalah caramu pulang. Rumahmu yang sebenarnya adalah di sana. Lantas apa yang kamu ragukan atas panggilan Tuhan? Berpaling dan datanglah pada-Nya. Biarkan mereka menangisi kepulanganmu sebab mereka pernah tertawa bahagia saat menyambut kedatanganmu ke dunia. Dan relakanlah setiap pertemuan dan perpisahan sebagai dua hal yang selalu berdampingan. Sebab Tuhan selalu punya alasan yang terkadang terlambat untuk dipahami, bahkan sama sekali tidak terdefinisi.[]

[Rabu, 16 Januari 2008 09:55:24]

2 thoughts on “Vacation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s