Cerita dari Jendela


Bekerja dengan tirai jendela yang tertutup di siang hari itu rasanya cukup aneh. Setiap kali cahaya matahari terasa menyilaukan, tirai akan diturunkan, dan sebaliknya. Saya pernah mengusulkan agar meja kerja saya dijauhkan dari jendela. Namun, untuk beberapa alasan yang tak pernah diutarakan, hal itu tak pernah dikabulkan.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan melindungi kesehatan mata saya. Sebab mata adalah aset berharga, penunjang utama produktivitas sehari-hari saya. Di luar itu, bagi saya, mata merupakan media sederhana namun paling sempurna untuk menikmati keindahan dunia—menikmati keberadaan dia.

Ya, dia. Saya ulangi, dia.

Awalnya, dia bukan objek menarik di mata saya. Mungkin selalu seperti ini reaksi kimianya. Segalanya butuh proses, dan setiap proses mesti punya progres. Semakin sering melihatnya, semakin saya menyadari keberadaannya. Menyadari keindahannya.

Ternyata benar, sesuatu yang sedikit itu lama-lama bisa menjadi bukit. Dalam sehari, dia hanya beberapa kali muncul di sana. Dia berdiri di depan tempat kosnya, di seberang jendela di mana saya berada. Menunggu temannya. Mengobrol dengan entah siapa. Membeli jajanan yang lewat. Atau hanya sekadar berdiri tanpa motivasi yang terprediksi.

Segmen-segmen kecil itu membentuk pola, yang kemudian diterjemahkan reaksi kimia di dalam diri saya sebagai rasa suka.

Ya, suka.

Dia menjadi sesuatu yang saya nantikan setiap harinya. Menjadi kebahagiaan di antara keluh-kesah dan kesedihan. Menjadi inspirasi di tengah pantulan-pantulan cahaya dari luar yang menyilaukan.

Sampai pada suatu hari, pandangan kami bertemu di satu titik di antara kedua mata kami. Titik tak nampak yang berarti kami saling menatap. Saat itu, ungkapan spontan yang mampu saya lakukan adalah berteriak “Anjrit, dia ngeliat gue!” di dalam hati. Selanjutnya, setiap kali dia berdiri di sana, sihir-sihir matanya mulai bekerja, berbisik, dan membukakan dimensi yang tak kenal batas toleransi.

Syukurlah, curi-curi pandang tidak termasuk ke dalam tindakan kriminal.

Dia melihat saya; saya pura-pura tidak melihatnya. Mungkin, begitu pun sebaliknya. Ada kalanya kami gagal menghindar, dan akhirnya saling menatap juga. Saya cuma bisa tersenyum di belakang rasa malu dan canggung, lantas melarikan diri ke kamar mandi dan senyum-senyum sendiri.

Sesederhana inikah rasanya jatuh hati?[]

9 thoughts on “Cerita dari Jendela

  1. Dia menjadi sesuatu yang saya nantikan setiap harinya. Menjadi kebahagiaan di antara keluh-kesah dan kesedihan. Menjadi inspirasi di tengah pantulan-pantulan cahaya dari luar yang menyilaukan. -@daaduun

    Rangkaian kata-katanya menjadi mantra yang menyihir. Vote now for Kang Dadan Erlangga (@daaduun) *asa kampanye partai euy* *coblos dadanya #eh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s