Kita Mau Pulang Jam Berapa?


“Kita mau pulang jam berapa?” Untuk yang kedua kalinya, kutanyakan hal yang sama kepada Nina, dan ia mengulang jawaban, “Tunggu setengah jam lagi, ya.” Aku tahu itu artinya kami akan berada di tempat yang menyebalkan ini lebih lama lagi. Ah, aku benci diriku sendiri yang tak bisa mempengaruhi dan memaksa siapa pun. Tiba-tiba saja aku mengharapkan alam mendengar suara hatiku, dan bersedia menurunkan hujan sederas yang ia mampu.

Siapa sih, pencetus ide konyol ini? Mengamen di tengah kemacetan. Bergerombol di trotoar, di sela-sela kendaraan di tengah jalan. Nongkrong dan membuat kegaduhan di depan swalayan. Mengisi malam Minggu dengan hal-hal yang tak masuk akal. Apa hebatnya? Di mana sisi kerennya? Aku tak habis pikir, mengapa Nina tampak nyaman dan menikmati suasana seperti ini. Gaul? Bagiku ini terlihat sangat Alay.

Aku masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin pendingin. Kugantikan CD kompilasi K-Pop favorit Nina dengan CD Enya volume terakhirku yang selalu diprotes dan diejek habis-habisan oleh Nina. Jika telingaku bisa berbicara, aku yakin ia akan berterima kasih kepadaku atas hadiah ini, setelah entah berapa lama tadi disuguhi lagu-lagu aneh dengan suara terparah yang pernah kudengar sepanjang sejarah. Suara anak-anak itu, teman-teman gaul Nina. Para pengamen dadakan itu.

Aku sedang memejamkan mata menikmati lagu yang kuputar dengan volume maksimal, ketika kurasakan getaran dari ketukan di kaca jendela tepat di sebelahku. Wajah seseorang di sana mengagetkanku. Ia tersenyum sebelum memamerkan sebotol plastik minuman dan sebuah hotdog yang menggiurkan. “Dari Nina,” ucapnya, setelah kuturunkan kaca jendela dan kupelankan volume lagu.

“M-makasih…,”dengan ragu, kuraih salah satu makanan favoritku itu, sambil kuingat-ingat siapa cowok yang diutus Nina ini. Alih-alih nama, mengingat dia yang mana pun rasanya sulit, sebab tadi Nina memperkenalkan aku kepada banyak orang.

Cowok itu masih berdiri di sampingku, memperhatikan aku yang sedang makan dan minum. “Ada apa?” aku bertanya tanpa menoleh kepadanya.

“Aku boleh masuk? Di sini panas.” Kata-katanya membuat mataku refleks menatapnya. Menurutku, ini tidak sopan. Kami tidak saling kenal, dan dia tidak sepatutnya bersikap demikian. Maksudku, ya, siapa tahu dia punya rencana jahat terhadapku.

Dia lantas berlari menuju arah pintu sebelah kiri. Terlalu percaya diri, padahal aku belum memberi jawaban pasti. Berusaha membuka pintu, kemudian dia mengucapkan dua kata yang dapat kubaca dari gerakan bibirnya, “Buka, dong!”

Aku menyerah dan membiarkan dia masuk. Kasihan. Dan lagi pula, sekilas dapat kusimpulkan bahwa cowok ini adalah anak baik-baik. Penampilannya cukup rapi dibanding anak-anak yang lain. Garis wajahnya tampak manis dan tak ada tampang nakal. Ada kalanya, cara kita menilai seseorang cukup mengacu pada kaidah menilai buku dari sampul depan. Dan ini memang cukup bekerja untuk beberapa kasus.

“Ah… segarnya…! Terima kasih telah menyelamatkanku dari neraka.”

“Lebay banget!”

Dia tertawa. “Yang lagi makan, ya makan aja! Nggak usah protes sama yang lagi kegerahan.”

“Terserah aku, dong. Ini mobilku, dan semua aturan berada di tanganku.”

Dia tertawa lagi. “Jangan ngaku-ngaku, deh! Ini kan mobil Nina.”

Sejak kapan ini jadi mobil Nina? Oh, jadi, diam-diam Nina pamer ke teman-temannya, menyebar cerita palsu bahwa mobil ini adalah miliknya? Pantas saja tadi ia bersikeras memintaku mengizinkannya menyetir. Kira-kira, selain mobil, apa lagi yang ia klaim sebagai miliknya?

Kuabaikan hotdog kesukaanku. Lekas kuraih sesuatu dari tempat penyimpanan di dashboard, lantas menunjukkannya kepada dia. “Liat, SIM dan STNK-nya atas nama siapa!”

“Oh… jadi nama kamu Julia Isabel,” ucapnya tenang, setelah membaca tulisan pada SIM dan STNK-ku. Kemudian, dia mengulurkan tangannya ke arahku, “Aku Pinus.”

Pinus? Nama yang aneh. Selama beberapa detik kubiarkan tangannya menggantung, sampai kemudian kugerakkan tangan kananku untuk sekadar menyentuh ujung jari tangannya, “Panggil Juli saja.” Tunggu, mengapa ini jadi ajang perkenalan?

“Hai, Juli,” senyum manis terkembang di wajahnya. “Sori, tadi aku harus melibatkan Nina cuma untuk tau siapa nama kamu.”

“Maksudmu?” pertanyaanku hanya ditanggapi senyuman. Oh, ya, seharusnya aku tak gampang percaya begitu saja kepadanya. Mana mungkin Nina bertindak sekonyol itu—mengklaim milikku sebagai miliknya? Kami bersahabat sejak kelas tujuh, sudah saling percaya, dan tak mungkin saling mengkhianti. Untuk hal sekecil apa pun, tanpa terkecuali.

“Hotdog dan minumannya beneran dari Nina. Tenang saja,” seakan mampu membaca pikiranku, Pinus menjawab pertanyaan yang bahkan baru saja kupikirkan.

Agak janggal.  Jika memang Nina yang menyuruhnya mengantarkan makanan dan minuman itu untukku, otomatis Nina bakal memberitahukan namaku. Dan jika memang Pinus berasal dari kelompok gaul Nina, seharusnya dia tahu namaku saat perkenalan beberapa jam yang lalu. Ah, aku lupa apakah tadi kami bertemu atau tidak. Bisa saja, Pinus baru datang beberapa menit yang lalu. Tapi….

“Dia tuh perhatian banget ya, sama kamu.”

“Ya, kami memang sudah bersahabat dekat sejak dulu. Kamu sendiri, siapanya Nina? Maksudku, teman… main?”

“Semacam itu. Nina pernah jadi sosok yang spesial di mataku….”

Selama beberapa detik, kami dilanda keheningan. Entah mengapa aku harus menggubris orang asing bernama Pinus ini. Dan entah mengapa, secara perlahan namun pasti, aku merasakah semacam kedekatan dengannya, entah dari sudut mana.

“Nina itu orang pertama di sekolah yang mau berteman denganku,” tanpa kuduga, aku telah mengatakannya. “Dia  baik dan tulus terhadapku. Dia mau merangkulku di saat nggak ada yang mau jadi temanku. Dia nggak peduli kami punya banyak perbedaan dari segi gaya dan kesukaan. Sekalipun dia memiliki banyak teman, aku merasa nggak pernah dilupakan.”

“Kurang lebih, seperti itu juga yang pernah kurasakan,” sahut Pinus, membuat mataku otomatis menatapnya.

“Kamu… suka sama Nina?”

Pinus mengangkat bahu. “Sebagai laki-laki, bohong kalau aku bilang enggak. Nina cantik, modis, supel, dan pinter.”

Aku mengangguk. “Nina membuatku iri pada kesempurnaannya, dan membuatku cemburu pada keberuntungannya.”

“Nina membuatku patah hati karena penolakannya,” sekali lagi, jawaban Pinus membuatku harus menatapnya.

“Nina selalu cerita soal cowok-cowok yang dekat dengannya. Tapi dia nggak pernah cerita soal kamu.”

“Aku emang nggak penting buat dia,” nada suaranya terdengar putus asa, membuatku merasa bersalah. “Tapi dia pernah cerita soal kamu.”

“O ya?” semakin lama, ketertarikanku kepada Pinus semakin menjadi-jadi. Maksudku, ini bukan ketertarikan soal fisik atau sejenisnya. Lebih ke ketertarikan untuk mengenal lebih jauh siapa sosoknya. “Cerita soal apa?”

Pinus mentapku, “Aku nggak mau ikut campur urusan dan persahabatan orang lain. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Selama kalian saling percaya, persahabatan di antara kalian bakalan baik-baik aja. Dan kamu juga tau, kan, di dunia ini nggak ada hal yang sempurna. Nggak ada sahabat yang sempurna. Nggak ada persahabatan yang sempurna.”

“Kamu nggak menjawab pertanyaanku. Tapi, ya udahlah. Aku ngerti, kamu hanya sedang memosisikan diri kamu di pihak yang netral.” Aku menarik napas dalam. Rasanya, aku memiliki banyak unek-unek yang bisa kucurahkan kepada Pinus. “Kamu benar soal ketidaksempurnaan itu. Nina cenderung nyebelin dengan sifat dan sikapnya yang otoriter dan suka mendominasi. Merasa dirinya paling bener dan pinter. Merasa dirinya lebih tau. Dan merasa dirinya lebih layak dalam banyak hal, terutama dalam memiliki seseorang yang kusukai.”

“Mungkin itu cuma perasaan kamu.”

“Ya, mungkin. Dan mungkin saja yang kamu katakan tadi soal Nina yang mengklaim mobilku sebagai mobilnya itu juga benar. Mungkin saja kamu membiaskannya jadi sebuah kebohongan hanya untuk melindunginya. Seperti yang kadang-kadang harus kulakukan jika sewaktu-waktu aku berbicara dengan orang lain dan keceplosan soal dress indah yang dikenakan Nina dan menjadi bahan puja-puji itu sebenarnya milikku yang Nina pinjam.”

“Lalu, apakah kamu membenci Nina? Apakah kamu ingin hubungan persahabatan kalian berakhir begitu saja?”

Aku sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan sulit yang dilontarkan Pinus ketika kulihat Nina berjalan ke arahku, bersama seseorang. Seorang cowok, dengan badan dibungkukkan, dan sebelah tangannya dirangkulkan ke bahu Nina. Sebelum mereka tiba, Pinus cepat-cepat  keluar dari mobil setelah berkata, “Sori, Juli, aku harus pergi. Lain kali, kita pasti ketemu lagi.”

“Pinus! Tunggu!” aku berusaha menahannya, dan dia pergi lebih cepat dari yang kuduga.

“Jul, kotak obat, Jul!” ucap Nina setengah berteriak saat ia dan cowok itu tiba di mobilku. Cowok yang ternyata Ernest itu masuk dan duduk di kursi belakang, menahan sakit akibat luka di wajahnya. Disusul Nina yang memintaku cepat-cepat mengeluarkan kotak obat.

Seharusnya aku peduli terhadap Ernest—yang menurut cerita Nina—menjadi korban sasaran pengamen beneran yang merasa wilayah teritorialnya terjajah anak-anak SMA sok keren ini. Seharusnya aku cemburu melihat kedekatan dan kemesraan Ernest dan Nina di kursi belakang sepanjang perjalanan ke tempat kost Ernest. Dan seharusnya aku marah karena telah dimanfaatkan Nina sebagai supir pribadinya.

Namun, semua hal yang seharusnya terjadi itu terabaikan oleh kesan yang ditinggalkan Pinus di dalam hatiku.

***

“Kita mau pulang jam berapa?” ini adalah pertanyaan ketiga yang kuajukan kepada Nina.

Namun kali ini Nina menjawab, memberi kepastian, “Udah lewat jam satu pagi, Jul. Dan jarak dari kosan Ernest ke rumahmu sangat jauh.”

“Kalian bisa tidur di sini,” jawab Ernest enteng sambil memakai kaos singlet usai keluar dari kamar mandi. Muka bengepnya masih kentara. Tapi dia tetap kelihatan tampan seperti biasa. Ah, abaikan.

“Ya, kurasa, itu ide satu-satunya,” Nina menyetujui.

Tiba-tiba aku mengendus persekongkolan di antara dua orang yang sepertinya baru resmi menjadi sepasang kekasih ini. Kalau saja aku berani pulang sendiri pada waktu dini hari begini. Kalau saja aku berani mengambil keputusan untuk pulang sendiri sedari tadi. Kalau saja aku punya keberanian untuk melakukan apa pun yang kuinginkan tanpa harus merisaukan perasaan orang lain.

“Ayolah, Jul. Mumpung Oom dan Tante lagi di luar kota. Simbok udah pinter jawab kalau mereka nanya kamu lagi apa dan di mana.”

Aku bergeming, memikirkan apa yang harus kulakukan. Namun entah mengapa orang-orang selalu menganggap kediamanku sebagai pertanda setuju. Dan tololnya, aku sulit mengatakan tidak pada sesuatu yang sepatutnya kutolak.

Aku benci diriku sendiri yang tak pernah bisa benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku benci Nina dan Ernest yang kini tengah tidur saling berpelukan di sebelahku. Mereka bahkan tak sungkan untuk bercumbu, seolah menganggapku hanya sebagai aksesoris tempat tidur. Sesekali kudengar Ernest mengaduh karena luka di wajahnya tersentuh, lalu Nina berbisik meminta maaf. Selebihnya, tentu saja desahan dan lenguhan nikmat.

***

“Kita mau pulang jam berapa?” ini adalah pertanyaan keempat yang kuajukan kepada Nina.

“Hmmmh…,” hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Nina masih terkulai lemas, dengan kondisi setengah telanjang, bekas pergulatan dini  hari tadi bersama Ernest.

“Jawan, Nina! Kita mau pulang jam berapa?” suaraku meninggi, namun Nina seakan tak peduli. Membuatku emosi. Lekas kuambil barbel 5 kg yang tadi kugunakan untuk memukul kepala Ernest hingga hancur. Kulakukan hal yang sama. Sekuat tenaga kuhantamkan barbel itu ke kepala Nina berkali-kali. Ia sempat membuka mata dan berusaha melawan, namun kesadaran total yang kumiliki jauh lebih berkuasa di atas kondisi setengah sadarnya. Darah mengalir dari luka di kepalanya, dan dari lubang-lubang di sekitarnya.

Jantungku berdegup di atas normal, dan napasku terengah tak beraturan. Namun ada satu kelegaan yang tak dapat kuabaikan. Akhirnya, aku tahu bagaimana cara mengatasi hubungan persahabatan di antara kami.

Saat hendak bangkit untuk mencuci tanganku di kamar mandi, tiba-tiba kurasakan tangan seseorang mencengkeram tanganku. Nina. Dengan mata membelalak maksimal, tangannya erat mencengkeram tanganku. Aku berusaha melepaskan diri, namun percuma. Entah dari mana Nina mendapat kekuatan seperti ini.

Aku berteriak, dan terus berteriak.

“Jul, Juli! Bangun!” wajah Nina yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Kemudian kutemukan tangannya mencengkeram tanganku. “Kamu kenapa? Mimpi buruk?”

Jantungku masih berdegup kencang dan napasku terengah tanpa aturan. Tak hanya itu, keringatku pun bercucuran.

Ini adalah kali kedua aku bermimpi membunuh Nina. Malam-malam sebelumnya, aku bermimpi menjorokkannya dari gedung lantai empat sekolah. Oh, Tuhan, apakah arti dari mimpi-mimpi itu? Apakah aku mulai memiliki kebencian terpendam terhadap Nina?

Ernest menyapaku saat kami berpapasan di depan pintu kamar mandi. Tak kuacuhkan. Dan kemudian muncul pertanyaan, apakah aku mulai membenci Ernest juga?

Aku duduk di atas kloset yang tertutup, berusaha menenangkan diriku sendiri. Tarik napas dalam. Lepas napas perlahan. Berulang. Berulang. Dan berulang. Sampai kurasakan diriku sudah benar-benar tenang.

“Hei, Juli! Apa yang sedang kamu lakukan? Ayo, cepat mandi! Kita mau pulang jam berapa?”

Suara itu. Sepertinya aku mengenalnya. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk memikirkannya. Ah, Pinus!

“Pinus? Di… di mana kamu?” aku bangkit dan menempelkan telinga ke dinding. Kemungkinannya, Pinus berada di kamar sebelah.

Kudengar Pinus tertawa. “Aku di sini Juli. Di sini!”

“Di mana?”

“Coba putar kepalamu ke arah kiri!”

Aku melihat cermin.

“Ya, aku di sini,” Pinus tersenyum.

Aku pun tersenyum.

Iklan

3 thoughts on “Kita Mau Pulang Jam Berapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s