Hujan di Ujung Bulan



Hujan di akhir September selalu mengingatkan saya kepada kamu. Empat tahun telah berlalu semenjak pertama kali kita bertemu. Empat tahun yang bagi saya terasa lebih lama dari waktu yang sebenarnya. Jika bagi kebanyakan orang, teori relativitas waktu itu menyatakan bahwa waktu akan terasa singkat jika kita menikmatinya; maka bagi saya, justru sebaliknya.

Mungkin kamu tidak pernah tahu bahwa saya suka melakukan hal-hal yang saya sukai secara berulang-ulang, salah satunya adalah memikirkan kamu sembari memandangi langit dan hujan. Dan satu hal lainnya yang pasti tidak pernah kamu ketahui: saya kerap menangis diam-diam, dengan, atau pun tanpa alasan, setiap kali ingatan saya tertuju kepada kamu.

Dan setiap kali melewati Garbarata—di bandara mana pun, selalu ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada dan kepala saya. Ada bayangan dan senyuman kamu yang menempel di setiap sentimeter dindingnya. Ada kisah sederhana tentang pertemuan pertama sepasang insan yang diam-diam menyimpan rasa sayang. Dan ada kisah rumit tentang sebuah perpisahan yang tak terhindarkan.

Saya pernah berpikir bahwa Garbarata dan cinta sama-sama mampu menghubungkan dua hal yang berbeda. Dan saya pernah percaya bahwa sedemikian banyaknya perbedaan di antara kita adalah keindahan yang sangat menakjubkan.

Sampai kemudian, dua tahun yang kita lalui dalam kebersamaan memperlihatkan kenyataan yang berlainan. Sebenarnya, saya masih bisa mengalokasikan ruang toleransi bagi beberapa perbedaan-perbedaan itu. Kecuali satu hal.

Saya tidak minta banyak. Hanya satu, tetaplah di sini, temani hari-hari saya di tempat ini. Kedengarannya memang begitu egois. Tapi percayalah, itu semua demi kebaikaan kamu juga. Ya, lebih tepatnya demi kebaikan saya. Kebaikan yang kemudian akan saya persembahkan sebagai wujud rasa cinta dan sayang saya kepada kamu.

Tetapi, kamu seakan tidak pernah mau mengerti.

Dan saya pernah, dan selalu berusaha mempertahankan apa yang kita miliki. Namun ternyata, kamu masih saja tak mau mengerti, dan bersikukuh pada pendirianmu sendiri. Berkali-kali dihinggapi tragedi yang berakibat pada rasa kehilangan seseorang yang saya sayangi bukan menjadikan hati dan diri saya kebal, melainkan sebaliknya. Dan saya tidak ingin itu terulang lagi.

Tetapi, kamu seakan masih tidak mau mengerti. Kamu bilang, menjadi Pramugari adalah impianmu sejak kecil, dan keterwujudannya adalah sebuah pencapaian impian yang menakjubkan. Bagimu, melepaskan pencapaian itu sama konyolnya dengan mati bunuh diri.

Kamu selalu bilang, tingkat paranoid di diri saya sudah melampaui batas konyol dan tolol. Melepaskan ketakutan di diri saya akan jauh lebih baik daripada melepaskan pencapaian impianmu. Kata-kata itu seperti deras hujan yang ditingkahi angin mengerikan dan petir memekakkan. Selalu terngiang. Dan menusuk pikiran. Namun sekali lagi saya tegaskan, ini semua demi kebaikan kamu. Ah, seandainya kamu jadi saya. Seandainya kamu paham seperti apa rasanya dihantui perasaan takut kehilangan.

***

Hujan di ujung bulan September ini tidak lebih deras dari tahun kemarin, namun sama sekali tak mengubah ingatan saya terhadap kamu. Ya, seperti yang pernah saya bilang, langit dan saya memiliki ikatan yang cukup kuat. Ia selalu memberi pertanda.

Saat itu, pesawat di mana kamu berada mengalami kecelakaan. Dengan mental setengah kacau, saya bergegas ke tempat evakuasi korban kecelakaan. Saya nyaris mematahkan hidung petugas pendata nama-nama korban yang tidak menyebutkan namamu dalam daftar korban terselamatkan. Sampai kemudian seseorang memberi tahu saya bahwa kamu selamat.

Usai kejadian itu, saya mulai berpikir bahwa kamu benar. Saya terlalu konyol dan tolol. Bahwa ternyata, ketakutan sayalah yang telah merusak segalanya. Maka, demi kebaikan bersama, saya putuskan untuk menghilangkan diri darimu sementara waktu. Menghindari dan menolak semua panggilan telepon dan SMS-mu, juga ajakan bertemu, setidaknya sampai segala ketakutan itu benar-benar lenyap dari dalam diri. Namun nyatanya, ketakutan itu malah semakin menjadi-jadi.

***

Hujan akhirnya berhenti ketika malam beranjak dini hari. Saya masih terjaga, duduk di tempat yang sama dengan beberapa jam sebelumnya, menghadap jendela yang warnanya telah berubah sesuai keinginan langit. Di sana, nampak sebias refleksi siluet tubuh laki-laki bersetelan hitam-hitam. Bau tanah pemakaman sudah mulai menguap, tersamarkan aroma kehilangan yang kian menyengat. Ah, ya, lagi-lagi kamu benar. Saya terlalu konyol dan tolol. Ketakutan sayalah yang telah merusak segalanya.

Butiran-butiran pil penenang yang ditemukan sepupumu di samping jasadmu seakan membisikkan saya sebuah jawaban tentang bagaimana cara menghapuskan segala ketakutan itu.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s