Sedikit Jeda


Hari ini, Jakarta sedang cukup bersahabat. Kurang dari setengah jam, Forsace hitam kesayangan sudah tiba di parkiran. Elevator kosong. OB menyiapkan secangkir kopi dengan komposisi yang sangat tepat. Bos besar sedang tidak berada di tempat.

Sesuatu yang sangat langka terjadi hendaknya dihargai dengan sebuah perayaan. Itu yang selalu kamu bilang. Perayaan kecil-kecilan saja, seperti menyobek selembar kertas dan kemudian menggambar sebotol anggur, menyobek selembar lagi dan kemudian menggambar dua buah gelas yang kemudian disobek lagi hingga menjadi dua gelas yang terpisah. Sobekan-sobekan itu kamu letakkan di atas meja. Lalu, kamu mengambil satu sobekan bergambar botol anggur, dan seolah-olah menuangkan isinya ke gambar gelas dalam sobekan lainnya. Lantas kita mengangkat masing-masing kertas. Cheers! Dan kita seolah-olah meminumnya. Kamu tertawa, sebelum kemudian menangis begitu saja.

Tiba-tiba saya teringat mimpi tadi malam. Kita bertemu di sebuah lorong panjang berdinding logam, dan tanpa jendela di kedua sisinya. Tempat itu terasa sangat familiar, sampai saya tak perlu waswas kalau-kalau bakal tersesat. Kamu tampak bersedih, bahkan benar-benar menangis. Saya bertanya, kenapa, tetapi kamu malah diam saja. Kemudian saya ingat, setiap kali kamu menangis, kamu tak suka diinterogasi, alih-alih dikonfrontasi. Kamu lebih menyukai dan menghargai genggaman di jari tangan, atau pelukan penenang. Maka, itulah yang saya lakukan.

Kamu menangis dalam durasi yang begitu panjang. Hingga saya bisa merasakan getaran dan guncangan tubuhmu yang terisak dalam. Namun, lama kelamaan, guncangan itu serasa mereda, diam, lalu hilang. Kamu menghilang sebelum sempat memberi jawaban. Membuat saya bertanya-tanya dan diliputi kecemasan. Membuat saya terbangun dengan segala perasaan tak keruan.

Ternyata, masih ada banyak hal yang tidak saya pahami tentang kamu. Mungkin begitu juga sebaliknya. Sebenarnya, ini hanya masalah kecil, kalau saja jarak dan waktu mau lebih bersahabat dengan kita. Dan ketika situasi itu benar-benar nyata terjadi, kita tak perlu lagi melakukan perayaan kecil-kecilan yang melibatkan sobekan-sobekan kertas macam ini, melainkan sesuatu yang lebih realistis.

Namun, entahlah…. Mungkin saat ini, saya perlu mengambil jeda. Merenungkan kembali apa yang benar-benar saya inginkan dan saya butuhkan. Memikirkan kembali apa yang benar-benar kamu inginkan dan kamu butuhkan. Sampai kemudian kita sama-sama saling menemukan.

Telepon berdering. Namamu memanggil. Saya bergeming. Dan kertas perayaan itu tetap kosong, bahkan setelah saya meremas dan melemparnya ke tong sampah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s