Merapik Langit


Ada banyak hal yang secara otomatis saya ingat sebelum tidur. Jadwal meeting yang membikin pening. Berkas-berkas yang membuat waswas. Laporan-laporan yang membingungkan. Dan segala hiruk-pikuk pekerjaan lainnya yang semakin menjemukan. Kemudian kamu datang, seperti sebuah program pembersih dan penyegar memori komputer, lalu menjelma virus tangguh yang membangun teritorialnya sendiri. Hingga akhirnya hanya tersisa dua hal yang bertahan mendiami ingatan sebelum tiba di batas peraduan malam. Adalah kamu, dan kita berdua.

Langit tetap menjadi tujuan visual terfavorit saya pada pagi hari, siang, sore, hingga malam. Ia punya andil dalam banyak hal yang terjadi di kehidupan saya. Salah satu hal terbesar itu adalah pertemuan kita.

Sejak kecil, saya serasa memiliki ikatan yang begitu kuat dengan langit. Ia seperti kain ajaib yang dibentangkan Tuhan untuk menuangkan segala inspirasi dan petunjuk-Nya. Ia punya banyak warna di luar biru, abu-abu, merah jambu, dan ungu. Ia punya banyak benda selain awan, bulan, dan bintang. Bagi saya, langit lebih dari sekadar ruang tak berbatas. Membaca langit, menghadirkan keasyikan tak terdefinisi, namun sungguh-sungguh bersensasi.

Setiap kali melakukan perjalanan jauh, langit adalah sahabat terbaik saya untuk membunuh jenuh. Termasuk saat itu. Kemudian kamu datang, seperti sebuah program pembersih dan penyegar memori komputer, lalu menjelma virus tangguh yang membangun teritorialnya sendiri. Kamu, langit kedua yang menggetarkan jiwa.

Dunia saya berubah semenjak kamu ada. Langit tampak selalu cerah setiap kali kita bersama. Meski kita hanya duduk bersisian, saling menghangatkan lewat genggaman jemari tangan sambil bercerita tentang masa depan, diiringi lagu-lagu melankolis yang menghanyutkan. Meski kemudian kita hanya punya jatah berkomunikasi via telepon genggam, saling menanyakan kabar, berbincang soal hari yang melelahkan dan berakhir menyenangkan setelah kita tertawa bersamaan.

Langit akan berubah warna ketika kita dilanda pertengkaran. Pertengkaran kecil yang berawal dari perdebatan yang tak kalah kecilnya, namun luput kita hindari. Saya tahu semuanya akan baik-baik saja, selama kita masih sama-sama mengerti dan memahami, dan mampu berbicara dari hati ke hati tanpa saling menyakiti. Tetapi, ingatlah bahwa langit sesekali tak berbaik hati. Langit akan berhujan dan tingkahi halilintar. Saya benci itu. Kemudian saya takut. Terutama setiap kali memikirkan kemungkinan yang terjadi dengan langit yang saya miliki. Kamu.

Saya yang hanya pergi sesekali, sementara kamu selalu pergi selama berhari-hari. Saya yang hanya akan pergi dengan kemungkinan kualitas cuaca dan langit terbaik, sementara kamu harus selalu siap dan siaga dengan segala kemungkinan tanpa pilihan.

“Tenang saja. Kita akan bersama. Dan saling berkata ‘aku cinta’ setiap harinya.” Katamu. Selalu.

Ya. Saya percaya. Tapi saya akan lebih merasa tentram jika kamu selalu ada. Di sini. Setiap kali saya inginkan. Setiap kali saya rindukan. Meleburkan ketakukan ketika saya harus memandangi langit sendirian.

Seperti sekarang.

Ponselmu belum bisa dihubungi. Tetapi, saya selalu sabar menanti. Menanti penuh harap cemas sambil menatapi langit di atas sana.

Saya sayang kamu. Saya rindu kamu….

Saya tak peduli, sebosan apa reaksimu saat mengaktifkan ponsel dan menemukan kalimat itu di kotak pesan dan suara.

***

Ada dua hal yang secara otomatis saya ingat sebelum tidur. Kamu, dan kita berdua. Tapi kini menjadi tiga. Saya takut kehilangan kamu. 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s