Radius


Ternyata, kedewasaan justru membuat kita jauh lebih kanak-kanak.

Sedianya, perasaan itu bukan untuk disiakan, hanya sedikit disisakan jika suatu saat terasa masih dibutuhkan. Tapi, nampaknya kamu menampiknya. Saya tahu, sikap kamu mengatakan lebih dari yang mulut kamu bilang.

Sekarang kita adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Sekarang kita saling melupakan kenangan. Dan sekarang kita sedang mencoba berjauhan.

Lucu; seperti dua balita yang bermusuhan karena sebuah mainan. Kemudian berbaikan setelah mulai jengah dengan kemarahan masing-masing.

Tapi, kita adalah seorang dua puluh tiga tahun dan dua puluh empat tahun yang sedang berjaga-jarak dengan radius yang terukur lebih jauh dari rentang Merkurius dan Pluto, padahal kita berdua masih bernapas di atas Bumi tercinta ini. Dan hanya karena sebuah perasaan, kita menjadi dua orang yang tidak berperasaan.

Dan kita bukan balita yang lantas berbaikan, melainkan dua orang dewasa yang kelak saling mendendam.

Saya tidak tahu, entah sampai kapan saya dan kamu harus selalu berjauhan; menghindari tatapan, dihantui kecurigaan, bahkan menabukan perbincangan—yang saya pikir bisa menjadi pemutus radius ini.[]

***

{gambar dipinjam dari sini}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s