#300Kata : Kupu-Kupu di Ruang Tamu


Sore itu, kulihat seekor kupu-kupu di ruang tamu. Sayapnya berwarna gelap, bermotif minimalis, dan berukuran sedang. Ia berputar-putar dan hinggap pada satu pot bunga artifisial di sudut ruangan. Memandanginya, lelahku seusai bekerja serasa terbayarkan.

Kupu-kupu itu masih berada di sana, terbang, berputar-putar, hinggap di tempat yang sama, selepas aku mandi dan berganti pakaian. Ibu bilang, itu pertanda bahwa rumah ini akan didatangi seseorang. Tamu.

Tiba-tiba aku teringat kepadamu. Dengan peran itulah kamu datang ke rumahku, dulu. Bermaksud mendaftarkan namamu sebagai warga baru di kompleks yang Rukun Tetangganya diketuai ayahku.

Ayah selalu memintaku membantunya mempersiapkan dokumen. Sering kali aku merasa kesal, termasuk saat itu. Namun, saat menyerahkan form kosong itu kepadamu, rasa kesalku seakan terhapuskan.

Kamu tersenyum, manis seperti gulali berwarna-warni. Senyuman itu yang kemudian lengket di kepalaku dan selalu mengusik hari-hariku. Namun, aku sama sekali tidak merasa terganggu. Aku justru merasa bahagia hanya membayangkan senyum itu saja. Senyuman yang seolah-olah khusus dialamatkan kepadaku, dan kemudian menghadirkan sepasukan kupu-kupu di dalam perutku.

Dulu, tak pernah kulihat kupu-kupu di ruang tamu, kecuali kamu. Dengan berbagai alasan, kamu berada di sana, duduk di kursi yang memunggungi jendela. Dari mulai meminjam peralatan rumah, hingga iseng membunuh waktu luang bermain catur bersama Ayah. Kamu juga selalu ada jika kami membutuhkan bantuan sukarela.

Dan kamu selalu menjadi bagian penting dalam setiap cerita yang kutuliskan. Cerita-cerita yang tak pernah kamu baca.

Sampai pada suatu ketika, kamu membacanya. Aku benar-benar takut menghadapi reaksimu, dan kamu malah tertawa. Lantas kamu menarik kepalaku tanpa diduga-duga. Mengacak-acak rambutku, dan berakhir membelainya.

Tapi kamu tidak mengucapkan apa-apa. Tidak benci, alih-alih sayang. Tidak juga selamat tinggal. Kamu pergi. Bertahun-tahun tak kembali.

***

Ibu bilang, kupu-kupu di ruang tamu itu hanya terlihat setelah aku pulang. Sampai hari ketiga, kulihat ia masih ada. Namun, kupu-kupu itu tak lagi nampak setelah aku pulang bersama seseorang. Dia.[]


gambar dipinjam dari sini

2 thoughts on “#300Kata : Kupu-Kupu di Ruang Tamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s