#300kata : Mama


Senyumnya selalu menyambutku setiap aku pulang sekolah. Sambil membantu melepaskan ransel dari punggungku, Mama bertanya bagaimana hariku di sekolah, dan apakah ada pekerjaan rumah. Apa pun jawabanku, ia selalu menanggapinya dengan senyuman. Membuatku merasa nyaman.

Sewaktu-waktu, aku akan menemukan Mama dengan wajah kesal. Itu berarti bahwa aku dianggap telah melakukan kesalahan. Lupa mencuci tangan sebelum makan, malas mencuci piring setelah makan, lalai dalam beribadah, meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, membangkang apa yang diperintahkannya. Kekesalan Mama berdampak pada sikapnya yang agak keras. Ia akan mengomeliku, memarahiku, namun ia tak pernah memukuliku.

Setiap hari, Mama selalu bangun lebih awal dariku. Usai menunaikan sholat subuh, Mama akan membersihkan rumah dan mempersiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah. Untuk Om, Tante, Mas Ari, Lani, Deva, terakhir untuk aku dan Mama sendiri. Setelah itu, Mama harus mencuci piring dan pakaian, memandikan Deva yang masih balita, mengurus dan mengasuh Deva sementara Om dan Tante pergi bekerja, menyetrika dan melakukan pekerjaan lainnya saat Deva tidur. Sore hingga malam, Mama masih harus mempersiapkan makan malam untuk kami semua, menyelesaikan sisa tugas lainnya, dan tak lupa menemaniku belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah. Dan setiap hari, Mama selalu tidur paling akhir.

Tahun demi tahun berlalu, hidupnya masih berputar di lingkaran itu. Namun, senyumnya sudah mulai jarang kutemui sepulang aku kuliah. Ia juga tak lagi menanyakan bagaimana hariku, dan apakah ada tugas. Tak juga lekas menegur atau memarahiku jika aku berbuat salah. Entah sejak kapan Mama berubah.
Dingin.

Oh, mungkin sejak aku tumbuh remaja. Sejak aku mulai banyak bertanya soal kenapa ia tak seperti ibu rumah tangga pada umumnya, soal kenapa ia harus manut pada semua perintah Om dan Tante juga anak-anaknya, soal kenapa kamar kami berada di bagian paling belakang rumah ini, soal kenapa ia tampak seperti seorang pembantu di rumah kakak kandungnya sendiri.

Dan soal apakah Papa benar-benar sudah mati.[]

***

gambar dipinjam dari sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s