Saat Saya Ingin Dilayani dengan Baik


Saya sempat heran, bahkan sempat berpraduga kalau bos saya sepertinya punya beberapa kepribadian; di depan konsumen selalu tampil bak dewa-dewi dengan jubah, sayap, dan lingkaran halo di atas kepala yang kesemuanya serba putih, sementara di depan saya… dan di depan teman-teman saya yang lainnya… berbeda-beda? Namun kemudian, secara diam-diam saya melakukan penelitian kecil di laboratorium yang berpusat di dalam anu saya, seiring proses yang berjalan. Saya pun agaknya sedikit paham.

Sudah lewat dari satu tahun saya bekerja di sini, dan itu artinya saya sudah sanggup menerabas semak-semak mengerikan bernama adaptasi, yang artinya juga saya sudah berada di satu kawasan bernama kerasan, betah, atau apalah. Setiap hari saya melihat, mendengar, dan merasakan segala hal yang terjadi di sini. Sedikit-banyak saya belajar, terutama bagaimana cara bersikap sebagai seorang entrepreneur (CMIIW about this spell :p).

Salah satunya adalah, memberikan pelayanan terhadap konsumen.

Konsumen adalah raja. Catet ya, Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak! Mau mungkir sejauh apa pun, rezeki itu dititipkan Tuhan melalui tangan-tangan konsumen. Sehebat dan sedahsyat apa pun manajemen dan imej sebuah perusahaan, tanpa konsumen, semua itu tak lebih dari sekadar lukisan abstrak berseni tinggi yang terpajang di dinding sebuah galeri yang sepi.

Kenapa saya tiba-tiba ingin menulis tentang ini? Bukan tanpa alasan, teman saya bilang, segala hal yang terjadi di dunia ini untuk sebuah atau beberapa alasan. Tentang sebab dan akibat.

Jadi, ceritanya begini….

Saya punya proyek menerbitkan buku secara indi, dan seorang teman merekomendasikan saya memakai jasa printing di mana ia mencetak bukunya. Tersebutlah sebuah tempat–untuk tidak menimbulkan ekses negatif, saya tidak akan menyebut nama dan lokasi tempat tersebut–sebut saja tempat X di kawasan Y.

Setelah menilai kualitas cetaknya dari buku yang dikirimkan teman saya (juga mengestimasi biaya produksi yang relatif murah), rasanya saya tertarik untuk mem-publish buku di sana. Maka, sepulang bekerja hari itu, saya mampir ke tempat X itu untuk survei. Ternyata, letaknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Cukup naik angkutan umum sekali dan duduk manis barang tiga sampai lima menit.

Saya agak terkejut saat melihat tempatnya. Mungkin saya yang terlalu berekspektasi lebih atau entahlah. Tapi saya pikir memang, jangan menilai sebuah percetakan atau digital printing dari tampilan luarnya.

Dengan canggung, saya mengucapkan salam. Ya, semacam Assalamualaikum, punteun, permisi…. Saya benar-benar bingung bagaimana memulai transaksi di tempat itu. Empat orang Mas-Mas di dalam tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sedang memperbaiki mesin. Ada yg sedang mendesain, ditemani seorang temannya. Dan ada yang sedang browsing.

Ruangan yang kira-kira berukuran 4 x 6 meter itu seharusnya mampu menciptakan suasana hangat di antara kami dalam hubungan profesional. Tetapi yang terjadi, saya yang awalnya adalah calon konsumen mulai berpikir dua sampai dua juta kali untuk berpartner dengan mereka.

Kenapa? Apakah saya terlalu sensitif dan lebai?

Saya: “Mas, saya mau cetak buku….”

Mas A yang saya ajak bicara malah diam, sibuk dengan browsing-an-nya. Saya pun bertanya ke Mas B yang sedang mendesain, dan responnya sama. Agak dimaklumi sih, soalnya Mas B ini sedang khusyuk mendesain. Sampai akhirnya saya bertanya ke Mas C yang sedang memperbaiki mesin. Dan kemudian Mas C melempar saya kembali ke si Mas A. Dan si Mas A ini tampak mau tak mau meladeni saya. Dia bahkan menjawab pertanyaan saya tanpa melakukan kontak mata, alias membelakangi saya dan menghadap monitornya.

Apakah itu cara melayani konsumen yang baik dan sopan?

Pelayanan seperti ini sangat jauh berbeda dengan pelayanan di tempat saya bekerja. Oke, sebut saja beda bidangnya, yang satu jasa percetakan, yang satu jasa pernikahan. Tapi menurut saya, idealnya, apa pun jenis perusahaannya, sudah seharusnya mereka memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen atau pun calon konsumennya.

Dan akhirnya, saya tidak jadi mencetak buku di sana.[]

gambar dipinjam dari sini

3 thoughts on “Saat Saya Ingin Dilayani dengan Baik

  1. Yah itu kan ciri khas pelayanan “sederhana” di Indo. Jangankan UKM seperti itu, kadang perusahaan besar saja masih melayani konsumen seenak jidatnya kok hehe. Prinsipnya kan dicuekin aja masih laku, ngapain capek2 ngelayanin 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s