Laki-laki Pertama


Seharusnya ada gerimis.

Diabaikannya cuaca gersang di luar, lantas ia kembali mempartisi dunianya melalui dua utas kabel earphone dan sebuah iPhone. Jari-jemarinya sudah seperti tongkat sihir yang lebih mutakhir dari pintu ke mana saja milik Doraemon, memungkinkan ia tetap terhubung dengan siapa pun, terutama orang-orang terdekatnya, sejauh apa pun mereka terpisah. Ada puluhan nama menyapanya, namun tak diacuhkannya. Kecuali, nama laki-laki itu.

“Sebentar lagi aku sampai. Jangan bilang kalau kamu masih minta dibikinin kaki sama Tuhan buat ngejemput  aku di stasiun! Aku nggak punya waktu sembilan bulan buat nunggu itu.”

Ia tersenyum sebelum memberi balasan yang tak kalah panjang, “Jangan khawatir, tadi saya abis dari kelurahan, ikut ngantre pembagian Kesabaran. Dan saya nyetok banyak buat nungguin kamu, juga supaya saya bisa betah nunggu di lobi stasiun yang panasnya minta ampun ini.”

Laki-laki itu meminjam tawa lewat beberapa emoticon, sebelum akhirnya offline.

Berbicara soal siapa yang paling ia nantikan dalam hidupnya, laki-laki itu adalah salah satu jawaban yang tepat baginya. Laki-laki itu ibarat dewa hujan yang paling ia nantikan sepanjang musim kemarau.

Dan, detik-detik yang dinantikan pun akhirnya tiba. Laki-laki itu muncul di hadapannya. Nyata. Tiga dimensi—atau bahkan mungkin empat dimensi. Bukan lagi sekadar citra digital yang hanya dapat dilihat dari satu sisi. Laki-laki itu ternyata tidak sesempurna yang dibayangkannya selama ini. Tapi, demi Tuhan, baginya itu sama sekali tidak penting. Hatinya sudah terlanjur senang.

Mungkin juga terlanjur sayang.

***

Seharusnya dia mengingat dan mengenang semuanya.

Tentang saat-saat mereka berkenalan. Saat pertama mereka bertegur sapa di jendela pesan instan. Semuanya memang berawal dari sebuah situs pertemanan yang sedang sangat populer beberapa tahun belakangan. Entah siapa yang lebih dulu meminta menambahkan sebagai teman, semuanya berproses seperti tepung dan telur di dalam sebuah adonan—tak lagi bisa dibedakan mana tepung dan mana telur. Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang merasa sangat kacau, seseorang menyapanya, lantas terciptalah percakapan yang bertahan sangat lama. Semalaman. Berlanjut hingga seharian. Lalu semingguan.

Satu hal yang mempersatukan mereka adalah kenyamanan.

Laki-laki itu bilang, hidupnya sedang tak kalah kacau darinya. Banyak masalah yang menggempur minggu-minggu terakhirnya. Yang paling menguras pikirannya adalah masalah mengenai ibunya yang tersangkut sebuah kasus, yang mengharuskannya bolak-balik ke kantor polisi.

“Memangnya, apa yang terjadi?” ia mengetik kalimat itu dilengkapi emoticon cemas sebagai wujud empati.

“Masalah surat-surat, akta tanah, tagihan…,” laki-laki itu baru menjawab beberapa menit kemudian. “Entahlah, aku nggak begitu ngerti. Selepas Papa meninggal, dia ninggalin bayak warisan yang bermasalah.”

“Ya ampun…,” ia berhenti mengetik, sebelum akhirnya melanjutkan. “Sekarang kamu lagi di mana? Nemenin Mamamu? Eh, ini udah jam sebelas lewat, loh.”

“Nggak. Sekarang aku lagi ngejagain adekku yang kena DBD di rumah sakit.”

“Ya ampun… seandainya saya ada di situ….”

“Ah, ya, makasih banyak. Dengan kamu nemenin aku malam ini aja, aku ngerasa amat sangat tertolong. Sekali lagi, makasih banyak, ya.”

Ada perasaan hangat yang tak terjabarkan di dalam dadanya. Laki-laki itu, siapa pun dan di mana pun dirinya, membuat ia merasa lebih ada dibanding hari-hari sebelumnya.

“Puji Tuhan, masalah demi masalah satu per satu terselesaikan,” ungkap laki-laki itu beberapa hari kemudian. “kondisi adekku membaik. Thanks ya, semua ini berkat doa kamu juga. Dan secara pribadi, aku juga berterima kasih, karena kamu selalu nemenin, nyemangatin, dan nguatin aku.”

Sepanjang yang ia ingat, hanya ada sedikit orang di dunia ini yang pernah mengucapkan terima kasih kepadanya, dan laki-laki itu salah satunya. Ia kerap berada pada satu situasi di mana ia merasa hidupnya tak lagi berarti. Kuliahnya berantakan, kehidupan asmaranya acak-acakan, dan keluarganya tak lagi mengacuhkan. Ia sama sekali tak bisa dibanggakan.

“Kamu tau? Beberapa saat sebelum kita chatting malam itu, saya hampir bunuh diri,” giliran ia yang bercerita kepada laki-laki itu.

“O ya? Bercandamu berlebihan, ah.”

“Saya bahkan nggak bisa bercanda.”

“Lantas, kenapa nggak jadi?”

“Entahlah. Rasanya, ngedengerin curhatan kamu dan menantikan kelanjutan kisah kamu jauh lebih menarik daripada menyilet urat nadi.”

Laki-laki itu tersenyum. “Aku juga nggak ngerti, kenapa aku bisa nyaman dan ngerasa aman curhat sama orang asing. Aku nggak tau kamu orang baik atau jahat, nggak tau siapa dan gimana kamu sebenarnya, tapi yang jelas, rasa nyaman itu benar-benar berasa setiap kita ngobrol. Padahal sebelumnya, aku sangat anti berkomunikasi dengan orang-orang di dunia maya. Dan malam itu pun aku cuma iseng online karena nggak tau apa yang harus aku lakukan.”

“O Ya? Mungkin cara kerja takdir emang kayak gitu.”

“Kamu percaya takdir?”

“Tuhan itu penulis paling jenius. Dan alur cerita yang dibuat-Nya bisa disebut sebagai takdir. Jadi, saya sih, percaya-percaya aja.”

“Menurut kamu, ada takdir bunuh diri yang dituliskan Tuhan dalam jalan hidup kamu?”

Selama beberapa detik ia berpikir sebelum mengetik, “Ah, entahlah. Mencoba mengintip takdir diri kita sendiri rasanya jauh lebih sulit daripada mengobrak-abrik takdir orang lain.”

“Hmmm…. Anyway, chatting sama kamu seru, ya. Pembicaraan kita nggak cuma sekadar asl-pls-stat yang membikin aku malas dan underestimate sama orang-orang dari dunia maya,” ungkap laki-laki itu. “Jadi, plis, jangan bunuh diri, ya! Demi aku.”

“Kalau saya jadi bunuh diri dan kemudian mati, apa kamu bakal sedih?”

Laki-laki itu tercenung beberapa saat. “Tentu saja. Buat ngebayanginnya aja, mataku udah berkaca-kaca.”

“Sok melankolis!”

“Hei, seumur hidupku ini, aku udah berkali-kali mengalami kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Adik laki-lakiku yang pertama, kucing kesayanganku, Opaku, sahabat terdekatku saat SMA, dan Papaku. Itu semua udah lebih daripada cukup. Aku nggak mau kehilangan lagi.”

“Saya kan, bukan siapa-siapa. Nggak berarti apa-apa.”

“Siapa bilang? Kamu tau? Kalau lagi di kantor, aku sering kepikiran kamu, keingetan pembicaraan kita, dari mulai hal-hal konyol, gila, sampai yang serius. Kadang aku senyam-senyum sendiri kalau ngebayangin ekspresi foto-foto aneh kamu, banyolan-banyolan garing kamu. Dan aku kepingin cepet-cepet pulang biar bisa bebas chitchat sama kamu. Jadi, plis, jangan ngomongin masalah bunuh diri itu lagi. Aku nggak mau kehilangan momen-momen sederhana yang bikin aku berbunga-bunga itu.”

“Kedengarannya itu sangat berlebihan,” tak bisa dipungkiri kalau sesungguhnya, hatinya merasa senang saat membaca ketikan laki-laki itu. “Kita cuma ketemu lewat tulisan, dan cuma memandang foto satu sama lain. Dan kita nggak sungguh-sungguh saling mengenal.”

“Perlu kamu tau, adik laki-laki pertamaku meninggal sewaktu masih dalam kandungan. Tapi aku bener-bener ngerasain kehilangan yang berkepanjangan. Seperti udah ada ikatan batin.”

“Itu karena kalian sedarah. Ah, udahlah. Sori, saya jadi ngebebanin kamu dengan masalah yang nggak penting ini. Anggap aja kita nggak pernah ngebahas ini. Oke?”

Laki-laki itu menghela napas, sebelum membalas, “Oke. Tapi, plis, jangan bunuh diri. Demi aku. Apa pun alasannya. Apa pun masalahnya. Aku bisa jadi teman bercerita soal apa saja.”

“Sungguh?”

“Ya.”

Dan laki-laki itu memenuhi janjinya. Hampir setiap malam menjelang dini hari, mereka semakin intens berbincang lewat jendela mini di komputer portabel masing-masing. Tidak hanya itu, mereka punya ritual baru, bercakap-cakap lewat telepon sebelum tidur. Bertukar informasi dan pendapat. Berbagi cerita dan rahasia.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan lamanya.

***

Seharusnya kita tak perlu canggung.

Mereka duduk berhadapan, dengan sepasang paket makanan dan minuman. Laki-laki itu perlu mengganti energi yang hilang selama di perjalanan dengan makanan yang agak berat, sedangkan ia hanya perlu camilan untuk menemani laki-laki itu makan.

“Ternyata teori itu benar,” laki-laki itu akhirnya berujar, “seseorang yang cerewet di dunia maya adalah manusia introver di dunia nyata.”

“Saya? Cerewet?” ia meneguk minumannya. “Introver?”

Laki-laki itu tersenyum. “Tapi, aslinya kamu lebih keren.”

Kata-kata itu membuat ia tersipu dan meneguk minumannya sekali lagi. Betapapun, sangat jarang ada orang yang memujinya seperti ini. Tetapi ia tak lantas besar kepala. Ia sadar benar siapa dirinya dan batas-batas apa saja yang ada di antara ia dengan lelaki itu. Ia tampak semakin canggung.

“Kamu tau? Sejak dulu, aku tuh kepingin banget tinggal di Bandung. Menurutku, Bandung itu ibu kota yang paling ramah dan bersahaja. Kita bisa nongkrong di mall dan menjalani kehidupan ala masyarakat kota, dan kita juga masih bisa menikmati keindahan alam perkebunan dan pegunungan yang sejuk dan memesona. Dan jarak keduanya nggak begitu jauh untuk ditempuh.”

Ia sangat berharap laki-laki itu tidak sekadar berkata-kata. Dalam hati, ia mengucapkan kata “Amiiin” sekhidmat mungkin. Ia sangat mendambakan hari-hari yang lebih dari sekali bersama laki-laki itu. Namun ada banyak hal yang membuat lidahnya kelu.

“Kamu bersedia jadi tour guide-ku kan?”

Tentu saja, ke mana pun asal kausuka! Batinnya bersemangat, namun mulutnya hanya sedikit terbuka, “Ya.”

***

Siang berganti sore, dan sore beranjak malam. Mereka sudah lelah berjalan-jalan, menyisir jalan Merdeka, lalu Cihampelas, keluar-masuk pertokoan, mengitari Ciwalk, kemudian berlanjut ke Suka Jadi, berakhir di Paris Van Java.

“Capek juga, ya?” laki-laki itu meluruskan kakinya, duduk di selasar lantai berundak yang terletak di depan pintu gerbang utama. Suasananya tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang yang duduk yang saling berjauhan. Sisanya, hanya mereka yang sekadar berlalu-lalang.

Ia mengangguk, dan diam-diam memandangi wajah lelah laki-laki itu, seolah akan mencuri sesuatu dari situ.

“Tapi aku senang,” lanjut laki-laki itu. “Akhirnya, bisa ketemu seseorang yang selama ini bisa bikin aku senang. Meskipun….”

“Meskipun apa?”

“Meskipun aku belum bisa membikin dia senang.”

Ia merasa keberatan. Laki-laki itu tidak pernah tahu sebahagia apa ia setiap mereka berbincang-bincang di telepon atau sekadar berbalas komentar di akun facebook dan lainnya. Hanya saja, ia tak cukup sanggup mengungkapkannya. Ia takut merusak segalanya.

“Dan aku pun nggak pernah tau masalah apa yang sebenernya terjadi sama kamu. Terutama tentang… kenapa… kamu… mau bunuh diri.”

Ia menunduk lemah. Karena saya pernah diperkosa—berkali-kali, batinnya menderita.

“Oh, baiklah. Mungkin aku memang belum terlalu pantas untuk melewati batasan itu. Nggak masalah. Asalkan kamu tetap berjanji, kamu bakalan nyingkirin niat untuk bunuh diri itu. Plis. Demi aku.”

“Kamu selalu bilang begitu, seolah-olah saya ini… cukup berarti buat kamu.”

Laki-laki itu tersenyum, lalu memandanginya dengan mata berbinar yang mampu mengalahkan cahaya lampu jalan. “Aku nggak ngerti situasi macam apa ini. Dan aku nggak tau sejak kapan ini terjadi. Tapi yang pasti, buat aku, kamu sangat berarti.”

Dadanya mengembung, dipenuhi udara yang terasa hangat usai mendengar pengakuan laki-laki itu. Ia tak menyangka laki-laki itu punya perasaan yang sama. Dan tiba-tiba, matanya sudah berkaca-kaca, “Sungguh?”

“Ya. Menurutmu, untuk apa aku jauh-jauh datang ke sini?”

“Siapa tau, sebenernya kamu ada janji dengan perempuan lain.”

Menggeleng, laki-laki itu meraih tangannya. Menggenggamnya, lalu menyembunyikannya di balik tas jinjing yang beirisi satu-dua setel pakaiannya. “Aku cuma mau ketemu kamu. Dan aku seneng bisa menghabiskan waktu dengan kamu.”

“Saya juga. Seneng banget. Tapi, saya takut…..”

“Aku ngerti. Kita bisa menjalani hubungan ini secara diam-diam. Kita nggak perlu mengumbar kemesraan di hadapan orang-orang. Yang terpenting, kamu tau kalau aku sayang sama kamu, dan aku juga tau kalau kamu sayang sama aku. Dan kita masih bisa mengekspresikan rasa sayang dengan cara-cara yang kita punya.”

Ia menarik napas panjang dan dalam. Merasakan kebahagiaan sekaligus sedikit kegelisahan. Namun, genggaman hangat dan kuat laki-laki itu membuat ia percaya bahwa segalanya akan berjalan baik-baik saja. Dan malam itu menjadi salah satu malam terindah bagi mereka berdua.

“Happy Valentine’s Day, anyway.”

Ia tak pernah menduga kalau laki-laki itu adalah orang pertama yang mengucapkannya, bahkan dalam semua bulan Februari yang pernah ia lalui seumur hidupnya.

Seharusnya laki-laki tidak jatuh cinta kepada laki-laki. Tetapi…. {}

Bandung, 06 Februari 2011

20:03:34

2 thoughts on “Laki-laki Pertama

  1. Bagus dun. mengalir lancar…

    cuma sayangnya aku udah bisa menebak endingnya dari part pertama (aku paksa baca sampe selesai :D), bahwa ini tentang forbidden love dan tokoh “ia” itu laki-laki :((

    • catet ya: saya nggak maksa mbak eti buat baca. hahaha

      ini emang nggak ada unsur kejutan-di-ending kok, mbak. cuma ingin bercerita tentang sesuatu yg biasa dengan memainkan karakter orang2 yg dianggap nggakbiasa, forbidden, dsb.

      makasih dah mampir mbak. btw, meme-ku bolong beraa hari nih :((

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s