[fanfic] The Time Traveler’s Friend


 

Day 15 – A fanfic

 

The Time Traveler's Wife

Senin, 24 Januari 2011

(Henry 15 tahun)

HENRY:

Pintu menjeblak terbuka ketika aku beringsut dari sebuah lorong menuju tempat yang kuidentifikasi sebagai dapur. Seseorang muncul. Penampilannya yang menandakan bahwa ia adalah seorang anak perempuan membuatku refleks menutupi kemaluanku dengan tangan—lalu kulihat ada serbet di dekat lemari es dan kuraih benda itu untuk menutupinya secepat yang kumampu. Sebenarnya, tak peduli ia seorang perempuan atau laki-laki, aku tak akan membiarkan diriku dituduh sebagai seorang Eksibisionis, atau si tukang pamer penis.

Anak perempuan yang kelihatannya seumuran denganku itu tampak terkejut dan panik, sebelum akhirnya berteriak dengan menggunakan bahasa yang tak mampu kumengerti. Bahasa dari sebuah negara di kawasan Asia, tapi itu jelas tidak terdengar seperti bahasa China atau pun Jepang. Paras orientalnya ternyata bukan jaminan kalau ia berasal dari sana.

“Kumohon, jangan berteriak lagi,” pintaku dalam bahasa Inggris sambil benar-benar memastikan tak ada orang lain lagi selain kami berdua. Namun, gadis itu malah semakin gegabah. “Percayalah, aku bukan orang jahat yang harus kausambut dengan pisau itu, Nona.”

Gadis itu tak acuh. Namun, aku bisa mengendus aroma ketegangan dalam setiap langkah yang diambilnya. Tangannya yang mengacung-acungkan pisau ke arahku agak gemetar dan tampak jelas kalau ia tidak terbiasa memegang benda itu.

“Santai, Nona. Aku bisa jelaskan semuanya,” aku mencoba meniru gaya Kimy menenangkan pak tua gila yang mengamuk tiba-tiba saat kami sedang berada di sebuah toko bunga di seberang pemandangan sungai Chicago, beberapa blok dari apartemen di mana aku dan Kimy tinggal sejak ibuku meninggal.

Saat itu, Kimy seolah sedang menembakkan sinar laser lewat kedua telapak tangannya ke arah pak tua gila itu sambil melangkah pelan-pelan, berusaha mengalihkan perhatiannya dengan terus berbicara soal bunga peoni dan iris, sampai pak tua gila itu lengah dan Kimy berhasil merebut gunting rumput yang dijadikannya sebagai senjata. Namun, rasa-rasanya hal itu sulit kulakukan sekarang mengingat tubuhku hanya tertutup sehelai serbet kecil yang harus tetap kupertahankan. Jadi, aku bergerak menjauh sambil berusaha menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya secara perlahan.

“Oke, kedengarannya ini tak masuk akal. Tapi, aku baru saja berbaikan dengan Diriku Satu Tahun Sebelumnya setelah sedikit bertengkar karena persoalan mengubah masa lalu dan masa depan, juga soal mempertanggungjawabkan sesuatu yang berada di luar kehendak bebas—dan kemudian aku bilang pada-nya bahwa Dad tak akan mengacuhkan-nya selama tiga minggu. Dan baru saja aku berjalan melewati sebuah tangga kayu di luar apartemenku sebelum akhirnya aku menghilang dan tiba di sini, di dapurmu….”

“Persetan dengan omong kosongmu, Orang Gila yang Aneh!” akhirnya ia bericara dalam bahasa Inggris. Aku bersyukur bahasa Inggris menjadi bahasa internasional, dan ini memberiku keuntungan jika sewaktu-waktu aku mengalami kejadian yang sangat di luar dugaan—seperti sekarang. “Keluar dari rumahku! Sekarang!”

“Baiklah, aku akan segera keluar, bahkan sebelum kedipan mata indahmu berikutnya. Tapi tidak dengan sehelai serbet ini. Kumohon….”

“Kau pikir itu urusanku, eh? Kau punya waktu tiga detik untuk enyah dari hadapanku, sebelum kau berakhir sebagai pria tanpa penis.”

Gila. Gadis ini berani sekali. Awalnya ia mengingatkanku akan sosok Vivian Teska, anak perempuan yang berwajah cantik dan bersikap lembut—satu-satunya orang berdarah Asia di kelas geometri—yang baru saja kubahas dengan Diriku Satu Tahun Sebelumnya. Tapi menurutku, memang, siapa pun dirimu, kau bakal bereaksi seperti gadis ini ketika mendapati seseorang tak dikenal muncul di dapurmu secara tiba-tiba, dan dalam keadaan telanjang bulat.

“Tunggu. Aku pernah bertemu dengan Diriku yang Berusia 29 Tahun dan punya seorang istri yang sangat cantik bernama Clare Abhsire. Itu artinya kau tidak akan mengebiriku. Kau akan menolongku, Nona.”

“Siapa tadi? Clare—Clare Abhsire?”

“Ya. Kau mengenalnya?”

Gadis itu mengangguk. Dan air wajahnya pelan-pelan berubah, terlihat seperti pelangi ekspresi. “Dan kau… Henry… DeTamble? Si Penjelajah Waktu?”

Kali ini aku yang mengangguk, dan giliran air wajahku yang ikut berubah. “Kau… siapa?”

***

Senin, 24 Januari 2011

(Kara 16 tahun)

KARA:

Seharusnya, aku sedang bermimpi ketika cowok gila dan aneh itu berbicara soal Clare Abshire dan Henry DeTamble. Bagaimanapun, aku ini bukan lagi anak kecil berumur 5 tahun yang masih menganggap siapa pun yang memakai band aid bergambar Batman itu sangat keren, dan masih memelihara fantasi ajaib tentang singa yang mampu berbicara dan tinggal di sebuah negeri di dalam lemari pakaiannya. Dan seharusnya, aku tak percaya begitu saja kepadanya hanya karena dia mengetahui banyak hal tentang si Penjelajah Waktu.

Akan lebih masuk akal jika aku memercayai kemungkinan kepalaku terbentur sesuatu saat turun dari pohon jambu di belakang rumahku sebelum akhirnya mengalami delusi hebat bertemu dengan orang asing—seorang cowok bule tanpa sehelai busana di dapurku, dan dia mengaku sebagai si Penjelajah Waktu.

“Kakakmu punya selera fashion yang bagus,” dia berkomentar dalam bahasa Inggris sambil mematut diri di depan jendela yang sedikit membiaskan refleksi tubuhnya. Beberapa saat yang lalu, kupinjami dia pakaian milik Kevin. “Dia pasti idola cewek- cewek di kampusnya.”

“Tentu saja. Aku sudah menduga sejak dulu kalau Kevin memang lebih cocok tinggal di masa lalu.” Aku memang belum terlalu fasih berbahasa Inggris, namun kurasa inilah saat yang tepat untuk menguji hasil les bahasa Inggrisku.

Lewat senyumnya, kurasa dia mengerti maksudku. “Aku memang berasal dari tahun 70-an, tapi aku nggak akan tersinggung kok. Dunia fashion mengalami perubahan setiap tahun, tapi ia bukan teknologi di mana kamu akan menertawakan orang lain yang masih memuja telegram sementara kamu sudah mulai muak dengan telepon genggam polifonikmu.”

“Kamu beruntung nggak kenal Kevin. Kamu pasti bakal menyesal karena baru saja membelanya.”

“Aku nggak sedang memihak dan membela siapa-siapa, kok.” Dia berjalan menuju lemari es. “Kamu punya apa, wahai Nona…?”

“Kara.”

“Ya, Nona Kara, apa yang kamu punya? Aku boleh minta—sereal ini? Kamu pasti tau, melakukan penjelajahan waktu, selain membuatku telanjang, juga membuatku kelaparan.”

“Hei, itu punya Kevin. Dia pasti bakal mengomel selama satu abad kalau tau sereal kesukaannya kuberikan pada orang asing—tapi… yah, makanlah. Kamu memang nggak bisa dicegah.”

Cowok itu nyengir sebentar sebelum kembali melahap serealnya secara tergesa. “Maaf.”

Aku mengambil kursi dan duduk di seberangnya. Meja makan berukuran 1,5 x 1,5 meter itu memisahkan kami. “Maaf, tapi, apa kamu beneran… Henry… DeTamble?”

Dia menatapku sambil mengangkat bahu yang artinya, “Menurutmu?” kemudian menghabiskan sisa serealnya.

“Seseorang pernah bercerita tentang Henry DeTamble si Penjelajah Waktu, dan meminjamkan novel itu kepadaku. Tapi aku bukan kategori orang yang suka baca. Jadi, aku terima novel itu cuma karena nggak mau bikin dia kecewa. Aku cuma kepingin ngeliat dia senenga.”

Dia… pacarmu?”

Aku menggeleng. “Selama beberapa tahun, kami bersahabat karena jarak rumah kami sangat dekat. Dia tetanggaku. Namanya Kenzie, tapi kami memanggilnya dengan nama Kenz.”

Dia tersenyum, membuatku memikirkan betapa Clare Abshire tergila-gila akan senyuman cowok itu beberapa tahun kemudian. “Apa yang Kenz ceritakan soal—diriku?”

Pelat hitam di otakku berputar-putar, antara sedang mencari detail kenangan itu dan berpikir tentang bagaimana merangkai kata yang tepat untuk menceritakan kembali semuanya. Bisa dibilang, aku lupa-lupa-ingat. Dua tahun yang lalu Kenz menceritakannya kepadaku.

“Kara, sini, aku baru aja baca novel tentang seorang penjelajah waktu!” Saat itu, sepulang sekolah, aku datang ke rumahnya. Kenz sedang duduk di teras belakang ditemani sebuah buku tebal. Aku berusaha menunjukkan respon antusias, padahal sebenarnya aku agak malas. Tujuan kedatanganku siang itu bukan untuk mendengarkan cerita tentang seorang penjelajah waktu atau apa pun itu, melainkan untuk memberitahukan sesuatu yang bisa dibilang sangat penting bagiku, bagi dunia kewanitaanku. Ya, saat itu adalah hari di mana aku mendapat menstruasi pertama. Dan kupikir, sebagai satu-satunya orang terdekatku, Kenz wajib tahu. Akhirnya, sepanjang siang menuju sore itu kami habiskan dengan membahas siapa itu Henry DeTamble dan kiprahnya dalam menjelajahi waktu.

“Kenz bilang, Henry DeTamble itu manusia cacat krono yang beruntung.”

Cowok abege bule—yang lama-lama semakin terlihat ganteng—di hadapanku tampak mengerutkan dahi. Aku lupa sedang berhadapan dengan orang yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Kuulangi sekali lagi dalam bahasa Inggris.

“Sampai saat ini, aku sendiri masih harus berpikir keras untuk memahami mekanisme penjelajahan waktu yang kamu lakukan,” aku melanjutkan. “Kadang-kadang, aku harus mengambil kertas untuk membuat pemetaan mengenai bagaimana semua itu berproses. Kenz pernah berhasil menemukan formula sederhana untuk menjelaskannya. Sayangnya, sekarang aku sudah benar-benar lupa. Hahaha… aku memang bukan cewek pintar.”

“Mana mungkin? Selain cantik, bahasa Inggrismu pun lumayan.”

“Ya, kamu tau aku bakal mengusirmu dalam keadaan telanjang kalau kamu nggak ngasih aku pujian.”

Kami berdua tertawa.

“Jadi, apa yang membuat Kenz berkesimpulan kalau aku ini manusia cacat krono yang beruntung?”

“Kenz bilang, kamu beruntung karena dicintai Clare seumur hidupnya.”

“Oh, sungguhkah?”

“Ya, Kenz juga bilang, nggak ada manusia yang paling beruntung dari mereka yang sudah menemukan belahan jiwanya. Dan kami sepakat kalau kalian berdua memang soulmate.”

Pipi cowok itu merona. “Ah, entahlah, di usiaku yang masih 15 ini, aku belum tiba pada perjalanan cerita cinta sedramatis itu. Aku bahkan belum bertemu dengan Clare.”

“Ya, aku juga nggak ingat kalau Kenz pernah cerita soal Henry yang berumur belasan tahun. Dia bercerita soal Henry dewasa yang bertemu dengan Clare, kemudian mereka berkencan, lalu Henry melamar Clare, mereka menikah, dan Henry mulai menelusuri masa lalunya, menjelajahi waktu, bertemu dengan Clare yang masih berusia 6 tahun, lalu Henry pulang-pergi ke masa lalu dan masa kini, bahkan ke masa depan….” Ingatanku tentang Kenz yang menceritakan detail cerita itu seakan datang begitu saja. Syukurlah. Jadi, aku tidak terlihat payah di depan cowok yang mengaku sebagai Henry DeTamble berumur 15 tahun ini.

***

Senin, 24 Januari 2011

(Henry 15 tahun)

HENRY:

Gadis yang sedang duduk sambil bercerita di hadapanku ini benar-benar berbeda dari gadis yang tadi berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arahku. Wajahnya terlihat semakin cantik jika ia tersenyum. Dan jelas, rona-rona indah di wajahnya itu disebabkan hal lain yang berasal dari hatinya. Terutama, di setiap ia menyebut nama pemuda itu: Kenz.

Sepertinya, persahabatan di antara mereka berdua bukanlah persahabatan biasa. Maksudku, itu tentang sesuatu yang rentan terjadi pada sebagian besar pasangan sahabat yang berbeda jenis kelamin.

Dia… pacarmu?” setelah aku mengungkapkan pertanyaan itu, wajahnya tampak semakin merona meskipun ia berusaha menggelengkan kepala dan menyangkalnya. Lantas, pertanyaanku ia jawab dengan kata-kata yang diawali, “Kenz bilang….” Dan setiap ia mengucapkannya, ia akan terlihat semakin berwarna, berbunga-bunga, bergairah.

Lama kelamaan, aku tak lagi peduli tentang pendapat orang-orang di masa depan mengenai kisah perjalanan hidupku yang telah diterbitkan dalam sebuah novel yang cukup fenomenal di seluruh dunia. Well, sebelum aku terlempar jauh ke tahun 2011 ini, aku sedang berjalan-jalan dalam catatan waktu yang menunjukan hari Minggu, tanggal 10 Desember 1978. Maka, tak salah kalau aku menyebut Kara sebagai seseorang dari masa depan. Dan saat ini, aku malah lebih tertarik untuk mengetahui sesuatu di antara Kara dengan Kenz.

“Sebelum aku menghilang, bisakah kau membawaku bertemu dengan Kenz?”

“Untuk apa?” Kara tampak sedikit terkejut.

“Setidaknya, aku ingin berterima kasih kepadanya. Jika saja ia tidak pernah menceritakan kisah Henry DeTamble kepadamu, mungkin tadi kau akan bersikeras mengusirku karena menganggapku alien atau semacamnya—atau bahkan kau akan benar-benar mengebiriku. Jadi, ayolah, mungkin waktuku tidak banyak.”

Kara nampak menghela napas berat, selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia berucap, “Kami tidak lagi bertetangga. Setahun yang lalu, Kenz pindah ke Jakarta, sekeluarga. Jakarta adalah kota yang sangat jauh dari Pontianak, tempatku berada saat ini.”

Aku menangkap nuansa sepi dan putus asa di dalam kalimatnya. Berpisah dari seseorang yang kausayang adalah sesuatu yang sangat berat, dan kau akan mengutuk betapa takdir teramat bejat. Mendadak, aku merasa bersalah atas perubahan air wajahnya. Pelangi ekspresi dan rona bunga warna-warni itu seakan mengalami desaturasi.

“Aku minta maaf….”

“Bukan salahmu.”

Aku tak tahu harus berkata apa. Tampaknya, aku baru saja mengacaukan segalanya.

“Kau tahu? Semalam aku mimpi bertemu dengan Kenz. Bukan cuma tadi malam, sih. Hampir di setiap malam, bahkan di setiap aku tertidur, Kenz selalu datang dalam mimpiku.”

“Ya. Terkadang, tidur adalah kendaraan yang lebih canggih dibanding pesawat terbang,” aku memberi tanggapan. “Bahkan bisa jadi, pada saat itu, Kenz sedang melakukan penjelajahan waktu, seperti yang kulakukan.”

“Menurutku, Kenz jauh lebih hebat darimu.”

Hei, kali ini aku tersinggung. Tapi, baiklah, di mata Kara, Kenz adalah segalanya.

Well, Kara, pernahkah kau melakukan metode berkomunikasi yang paling canggih di tahun 2011 ini? Maksudku, seperti yang kubilang sebelumnya, setiap tahun teknologi mengalami perubahan, dan perkembangan. Jadi, apakah pada abad 21 ini telepon masih menjadi alat komunikasi utama?”

“Sebenarnya, ada sebuah teknologi bernama 3G, di mana kami bisa berbincang sambil saling menatap. Namun hingga detik ini, kami tak pernah melakukannya.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Membayangkan hal itu terjadi akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, sekaligus mengerikan. Tapi aku yakin, kami hanya akan terjebak dalam suasana canggung yang menyebalkan. Lagipula, kalaupun Kenz memang benar-benar menginginkannya, Kenz pasti sudah melakukannya. Yah, kuharap itu cukup menjawab pertanyaanmu.”

“Jadi, sejak kalian terpisah, Kenz belum pernah menghubungimu? Dan kau terlalu takut untuk menghubunginya lebih dulu?”

“Kenz pernah meneleponku, memberi kabar kalau ia sudah tiba di Jakarta. Selanjutnya, Kenz banyak bercerita soal hari-harinya di sana, di lingkungan barunya, di sekolah barunya, tentang teman-teman barunya…,” Kara berhenti untuk mengambil napas agak panjang, sebelum melanjutkan, “dan tentang seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya.”

Ah, ya, tentu saja aku tahu seperti apa perasaan Kara saat itu. Selama beberapa saat kami terdiam. Lantas, aku berinisiatif mencuci mangkok yang kupakai untuk menampung sereal yang rasanya tidak begitu enak tadi. Dan kini, tenggorokanku seperti dicekat sesuatu. Ada rasa pahit dan pedih yang entah berasal dari mana.

“Kau tahu? Hampir sepanjang waktu aku memikirkannya,” aku tak berani melihat wajah Kara saat ia mengucapkannya dengan nada suara yang berbeda. Aku mengurangi volume air keran agar tetap bisa mendengar suaranya. “Rumah ini terlalu sepi bagiku, sehingga aku tak bisa tidak mengingat-nya. Perceraian kedua orang tuaku jauh lebih buruk daripada kemungkinan kalau mereka meninggal dunia. Dan mungkin, Kevin bakal jauh lebih baik jika ia seorang perempuan….”

Aku hendak mematikan keran dan bermaksud kembali ke meja makan ketika kurasakan sebagian tubuhku mulai menghilang. Pandanganku mulai memudar, dan suara Kara semakin tak terdengar.

Oh, sialan.

***

Senin, 24 Januari 2011

(Kara 16 tahun)

KARA:

“… dan kau tahu? Seperti apa rasanya ketika satu-satunya orang yang peduli padamu akhirnya pergi meninggalkanmu?” sekuat tenaga aku menahan airmata, namun sia-sia. Aku lekas menghapusnya dari wajahku sebelum Henry kembali dan melihatku dalam kondisi menyedihkan.

Namun setelah beberapa lama kubiarkan, tak terdengar suara sahutan, kecuali kucuran air dari keran di bak cuci piring. Aku berpaling, dan tak kutemukan siapa pun di sana. Henry menghilang, meninggalkan mangkok dan sendok di bak cuci piring, juga pakaian milik Kevin di atas lantai.

Tiba-tiba saja tungkaiku terasa lunglai. Kenapa semua orang pergi di saat aku benar-benar sedang membutuhkannya? Aku memunguti pakaian Kevin sambil menangis sejadinya.

Sialan kau, Henry! Aku belum selesai bercerita. Kembalilah!

***

Rabu, 26 Januari 2011

(Henry 15 tahun)

HENRY:

Kupikir, aku tiba di neraka saking panasnya udara di tempat ini. Aspalnya benar-benar membakar kakiku. Aku segera berlari mencari persembunyian ketika kudengar sekelompok orang datang. Sepertinya, aku sedang berada di sebuah taman. Well, di mana pun aku sekarang, rasanya masih jauh lebih baik dibandingkan dengan penjelajahanku beberapa waktu yang lalu, meskipun sempat dikejutkan dengan seorang gadis yang nyaris melukaiku. Ah, Kara. Kalau saja aku bisa menemuinya sekali lagi.

Dari tempat persembunyianku, aku melihat seorang pemuda yang sedang duduk sendiri, bersila di bawah pohon. Di pangkuannya ada sebuah benda persegi yang pada bagian belakangnya menampilkan objek berupa buah apel yang tergigit. Sedang apa ia dengan benda itu? Raut wajahnya terlihat sangat serius.

Beberapa saat kemudian, datang seorang gadis cantik menghampirinya. Membawakan satu cup minuman untuk dirinya dan pemuda itu. Raut wajah keduanya tampak cerah dan berbunga-bunga. Sepasang remaja yang sedang jatuh cinta. Ah, dadaku terasa hangat menyaksikan kemesraan mereka. Sampai akhirnya kudengar gadis itu memanggil nama si pemuda dengan sapaan Kenz.

Kenz? Kenziee?

Aku menghilang ketika kupikirkan apakah itu Kenz yang diceritakan Kara atau bukan. Oh, sialan!{}

***

Bandung, 26 Januari 2011

coba-coba bikin fanfic dari THE TIME TRAVELER’S WIFE-nya Audrey Niffenegger. Dan kebetulan lagi kepingin “memainkan” karakter Kara & Kenz. semoga masih bisa dinikmati 😉

2 thoughts on “[fanfic] The Time Traveler’s Friend

  1. Halooo ijin baca y..
    sebelumnya aku chandra, salam kenal..
    Aku suka gaya penulisannya, baku tp nggak kaku dan alurnya bikin penasaran buat baca terus..
    Dannn apa ini bakal stop sampek sini aja?? Kayagnya gantung bgt kalo emang udah selesai..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s