Kalau Kamu Mau Menemukan Cinta, Terlebih Dahulu Kamu Harus Bercinta!


Day 13 – a fictional book

Here, After. Ini adalah novel yang seperti kumpulan cerpen, sekaligus kumpulan cerpen yang memiliki satu benang merah dan memiliki keterikatan satu sama lain sehingga dapat juga disebut sebagai novel. Apa pun sebutannya, saya sangat menyukai buku ini. Awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk membacanya saat melihat promosi di facebook. Sampai kemudian, beberapa hari yang lalu, saya menemukan buku ini di toko buku dalam keadaan tanpa baju sehingga saya leluasa mengintip apa saja yang ada di dalamnya. Dan, wow… tanpa membuang waktu lebih lama untuk membaca, saya memutuskan untuk membeli buku itu, meskipun tidak tepat pada saat itu.

Anyway, ini bukan review atau resensi atau apa pun istilahnya itu, sebab saya bukan peresensi. Ini cuma… ya, katakanlah semacam testimonial. Tentang kesan dan pesan saya terhadap buku ini.

***

Cerita di buku ini dibuka oleh seorang tokoh bernama Adi. Bagian pembukanya sendiri terasa seperti khotbah cinta yang agak menjemukan, tetapi saya mencoba bersabar, sampai akhirnya tiba juga saat-saat yang dinantikan. Cerita. Ya, saya butuh cerita, bukan sekadar uraian kata-kata. Adi patah hati karena diputuskan Diana gara-gara mereka berjarak dua benua, kemudian bertemu dengan Juliet dan terlibat one night stand.

Selanjutnya, giliran Diana yang bercerita. Secara instan, saya berkesimpulan kalau Diana yang memakai sudut pandang “gue” ini ditujukan untuk menunjukkan karakter Diana yang cuek, santai, dan semau gue. Nggak masalah sih. Hanya saja, terkadang efeknya jadi agak ribet dan kurang matching ketika kata gue (yang terkesan sangat kasual) ini bergandengan dengan kata-kata yang umumnya tetap dibikin “cantik” dalam sebuah narasi. Diana sendiri digambarkan sebagai sosok yang sedikit “labil” akibat trauma yang ditinggalkan papanya.

Cerita tentang Rio menyusul setelah Diana. Gara-gara sang penulis menyebutkan ciri-ciri fisik Rio (pada Bab Diana) yang katanya campuran antara Eric Bana dan Christian Sugiono, maka begitu menyelami dunia Rio, bayangan Christian Sugiono seperti mengejar-ngejar kepala saya. Bagi saya, tokoh Rio lebih menarik dibanding kedua tokoh sebelumnya. Cara dia berkenalan dengan Diana (pada Bab Diana) benar-benar sangat berkesan. Dan  saya mengagumi tokoh Rio karena pemikiran-pemikirannya, terutama tentang teori-teori mengenai mimpi dan kenyataan yang dihubungkan dengan Sharen dan Diana.

Bab keempat bercerita tentang Putra, sahabat Rio. Bagian ini tidak menjelaskan sebersahabat apa dia dengan Rio, melainkan tentang upaya Putra untuk pedekate dengan Santi, gadis yang digambarkan berwajah agak indo, bermata biru, cantik, enerjik dan sedikit tomboi. Bagian ini juga bercerita tentang betapa beratnya menjalani hubungan kakak-adik-kakak-adikkan yang tak lain cuma kamuflase dan strategi Putra dalam mendekati Santi. Sampai akhirnya dia lelah dengan semua itu.

Fakta tentang Putra baru terkuak pada bab berikutnya, dari sudut pandang Nia, seseorang yang bisa dibilang sebagai belahan hati Putra yang sesungguhnya. Mereka adalah sepasang insan yang saling menyayangi, dan memiliki cinta yang utuh, namun menjadi rapuh gara-gara campur tangan pihak orang tua dan jodoh yang sudah dipilihkan. Hingga akhirnya Putra frustrasi dan mencoba melarikan diri ke dunia Santi. Penceritaan tokoh Putra melalui tokoh Nia ini berhasil menggeser kekaguman yang awalnya saya letakkan pada diri Rio menjadi di diri Putra.

Cerita pun bergulir kepada Arya. Dialah penyebab perpisahan Nia dengan Putra. Namun demikian, Arya bukanlah sosok berperangai memuakkan khas para antagonis. Arya bahkan digambarkan sebagai sosok pria dewasa yang mapan dan tampan. Sepanjang perjalanan ceritanya berkisar tentang pengharapan Arya akan cinta yang sempurna dari seorang Nia yang teramat sangat mencintai Putra. Dan kegigihan Arya sungguh patut diacungi jempol.

Tanpa saya sadari, saya semakin bergairah membaca buku ini. Greget utama yang saya rasakan agaknya terletak pada cerita cinta di antara Putra, Nia, dan Arya. Di bagian ini saya dibuat berdebar-debar dan, ehm, sedih. Dan tanpa saya sadari juga, kekaguman saya telah berpindah kepada Arya. Hahaha. Tapi, Putra tetap juara. Jadi, ya, mereka berdua juara bersama lah (labil mode).

Bab selanjutnya bercerita dari sudut pandang Novi Rizal, Intan dan Ollie, yang tentu saja memiliki keterikatan dengan salah satu atau beberapa tokoh sebelumnya, dan lebih memperjelas ke mana akhirnya buku ini akan bermuara (cailah bermuara).

***

Ada beberapa hal yang “mengganggu” di buku ini. Pertama, bahasa percakapannya yang terlalu kaku. Mungkin, ini dibuat untuk membantah apa yang dikatakan tokoh Nia mengenai sinetron Indonesia yang memiliki dialog yang tidak berbobot. Tetapi, menurut saya, percakapan yang terlalu formal malah berkesan kurang memanusiakan tokoh-tokohnya. Memang nggak semua sih, tapi bagian ini terasa dominan. Selain itu, ada beberapa typo, dan tanda baca yang hilang.

Kedua, tentang hal-hal kecil yang menimbulkan pertanyaan dan membikin saya harus menandai sampai di mana saya membaca untuk memastikan kebenaran hal itu di halaman-halaman sebelumnya, dan itu agak merusak suasana saat membaca. Yang paling saya ingat adalah di bagian-bagian menjelang akhir. Pada bagian di mana diceritakan Nayla berulang tahun yang ketiga sekitar dua minggu yang lalu; sementara pada bab sebelumnya yang diceritakan Rizal, Nayla masih berusia dua tahun, dan seakan-akan kejadian tragis yang menimpa Rizal terjadi pada saat yang tidak terlalu jauh dengan saat itu.

Bagian lainnya, tentang tempat tinggal Ollie di gedung apartemen itu. Di awal, dia menyebutkan “tujuh lantai di bawah”, sementara pada bagian berikutnya Intan bilang kalau apartemen Ollie berada dua lantai di bawahnya. Oke, mungkin ada sesuatu yang saya lewatkan, tapi entahlah. Dan satu hal lagi, pada saat Rio membuka identitasnya, dia bilang kalau dia sering nongkrong di lapangan futsal milik Putra di Jakarta; sementara pada bagian sebelumnya, lapangan futsal itu diceritakan berada di Bandung Timur.

Tapi itu bukan masalah besar, karena ada lebih banyak hal yang saya sukai dari buku ini. Konsep penyajian ceritanya unik, dan nggak ngebosenin—saya salut kepada penulis yang selalu berhasil memperbaiki mood saya ketika saya menemukan kejenuhan di satu bagian cerita dengan cara memberikan kejutan di bagian berikutnya. Masing-masing karakternya juga punya warna dan keunikan tersendiri, dan lovable. Cerita cinta yang ditampilkannya pun menarik dan bisa mewakili perasaan dan pengalaman para pembaca—saya yakin, beberapa pembaca bakal bilang, “Ini gue banget!”. Dan yang paling saya sukai lagi adalah, di sini kita tidak akan menemukan kisah cinta yang berakhir bahagia.

Mengenai quotations yang bertebaran di buku ini—yang konon banyak disukai itu—memang cukup menarik. Tapi saya lebih menghargai quotation yang memang murni terlahir dari hati sang penulis, bukan merupakan kutipan dari film, buku, atau filosofi-filosofi lain yang sudah ada. Saking banyaknya, saya sampai sulit membedakan mana yang kutipan dari pemikiran Mahir Pradana, mana yang dari sumber lain. Dari sekian banyak itu, saya lebih tertarik pada kalimat yang diucapkan sopir shuttle menjelang ending (halaman 196).

“Sini ya, aku kasih tahu! Kalau kamu ingin menemukan cinta, terlebih dahulu kamu harus bercinta!”

(yang bisa juga diartikan: kalau kamu ingin menemukan banyak hal tentang cinta, terlebih dahulu kamu harus membaca buku ini!).

Oh, ya, buku ini juga cukup persuasif dan agak provokatif. Akibatnya, sehabis baca ini, saya jadi kepingin nonton film Waking Life dan Psycho.

2 thoughts on “Kalau Kamu Mau Menemukan Cinta, Terlebih Dahulu Kamu Harus Bercinta!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s