PMS


Day 12 – whatever tickles your fancy

Beberapa hari belakangan ini, suasana hati saya kurang baik. Teman saya bilang, ini disebabkan saya yang terlalu nyinyir dalam menyikapi setiap persoalan. Dia juga bilang kalau saya terlalu banyak memberikan respon negatif terhadap segala hal yang terjadi. Intinya, kalau saya ini seorang bapak, maka saya sedang berada di level bukan teladan yang baik untuk istri dan anaknya. Parah, ya?

Well, apa pun itu, saya hanya sedang bersikap jujur terhadap diri sendiri. Buat apa memasang mimik senang tapi palsu? Meskipun memang, saya lebih sering berusaha menutupi kenyataan itu hanya agar badai perasaan di dalam dada saya tidak menimbulkan efek samping bagi orang-orang di sekitar saya. Kalau sudah begitu, saya bakal meracau lewat tulisan.

Seminggu terakhir ini saya tidak punya waktu untuk menulis sesuatu yang bisa disebut cerpen atau tulisan serius semacamnya. Sekalipun ada, segudang alasan bakal bersuara, seperti capek, nggak ada ide dan inspirasi, dan sebagainya—yah, untungnya itu bukan sebuah kewajiban. Atau, kalau sempat, saya bakal menulis catatan cepat di facebook lewat ponsel. Tapi itu sudah tak pernah lagi terjadi sejak berbulan-bulan yang lalu. Sejak fase jatuh cinta dan patah hati itu berakhir.

Hal paling sederhana dan ekonimis yang bakal saya lakukan adalah meracau—kalau dalam istilah anak jaman sekarang mungkin itu disebut menggalau—di twitter atau facebook. Saya rasa, setiap orang bakal merasakan kenikmatan yang berbeda saat memposting racauan di twitter dengan di facebook. Saya pribadi punya beberapa kriteria dengan segala alasan mengenai mana tulisan yang hanya boleh tayang di facebook atau twitter, dan mana yang boleh tayang di kedua-duanya.

Kedua fasilitas itu cukup membantu, sampai beberapa hari belakangan ini, saya merasa kalau twitter lebih “panas” dibanding facebook. Dan itu menambah suasana hati saya semakin buruk. Ada banyak manusia sok hebat dan eksklusif yang memandang sepele orang lain hanya karena sesuatu yang tak lebih dari 140 karakter itu. Dan ada banyak penampakan yang menegaskan fakta di mana, semua orang bakal bersikap baik jika dan hanya jika ada maunya saja. It sucks. Tapi itulah aturan main kehidupan yang nggak bisa ditolak. Semua orang bakal bersikap sesuai kelas yang dilabelkan atas dirinya, bukan? Ya sudahlah, kita nurut saja apa kata Bung Bondan Prakoso.

Sementara waktu, saya mencoba mengeluarkan diri—tidak sepenuhnya sih, hanya membatasi frekuensi—dari semua itu, salah satunya dengan menenggelamkan diri dalam buku terbaru yang dibidani penulis favorit saya bersama sejumlah teman laki-lakinya yang baru saya beli sore harinya. Entahlah. Mungkin saya terlalu berekspektasi lebih terhadap buku yang saya pikir bisa sedikit memberikan oase di tengah gersang perasaan saya, sehingga yang saya dapatkan justru malah sebaliknya. Malam itu, saya tidur dengan perasaan kesal, sebal, dan sedikit menyesal. Juga sedikit muak sampai mual dengan testimonial-testimonial, terutama dari para pembual. Harap dicatat, saya sedang berbicara soal subjektifitas, oke? Tadinya saya berniat membuat ulasannya, tapi malas jadinya. Nanti dibilang sok tau. Ya, ya, ya, ya sudahlah.

Dan selama beberapa hari terakhir ini juga, asam lambung saya kembali memberontak. Oke, hidup saya menjadi teramat lengkap.

Tapi sekitar dua atau tiga hari yang lalu, semua kehebohan jiwa itu mulai memasuki tahap yang bisa dibilang sedikit membaik. Akhirnya, saya mendapatkan petunjuk kalau Aloevera alias lidahbuaya bisa membantu mengatasi gangguan asam lambung, dan beberapa teman dan tetangga berbaik hati memberikan lidahbuaya segar untuk saya. Oh, terimakasih banyak. Itu sangat membantu. Dan saya pun menemukan bacaan yang setidaknya bisa mengobati sedikit kekecewaan terhadap bacaan sebelumnya, bahkan memberikan kepuasan yang mampu mencukupi pengharapan saya. Selain itu, kemarin, saya menemukan DVD yang membuat malam Minggu saya sedikit lebih berarti.

Dan tadi pagi, saya kembali menghubungi seorang teman nun jauh di sana setelah beberapa bulan tidak melakukannya, dan lantas curhat soal beberapa hal yang nggak bisa saya ceritakan kepada orang lain. Lucunya, saya menangkap gelagat kalau dia pun sedang berada dalam situasi yang kurang lebih sama, meski kasusnya beda. Kami sempat membahas hal konyol mengenai memulai hidup baru di tempat baru, tapi kami harus menjalaninya bersama-sama. Yah, andai semuanya berjalan semudah kami mengucapkannya. Dan saya tahu, itu cuma sedikit cara kami melarikan diri dari sesuatu yang membebani itu.

Agaknya, saya mulai membaik—semoga—dan terbebas dari fase PMS ini. Teman saya bilang, PMS versi saya adalah Pria Melankolis dan Sensitif. Parah, ya? -___-

One thought on “PMS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s