Mimpi yang Terlentang di Kolong Ranjang


Day 09 – A photo you took

Foto ini saya ambil sekitar… beberapa minggu yang lalu, saya juga sudah lupa kapan itu.  Yang jelas, pada hari merah selain Minggu. Modelnya adalah teman saya sendiri, Rahadhiani V, dan dengan menggunakan camcorder milik Yuni Y.  Lokasinya di Ciwalk, mall paling indah di Bandung dalam versi pengamatan saya. Tentu saja. Di sini banyak sekali spot yang bagus untuk berfoto-ria. Setiap sudutnya punya medan magnet yang kuat, mengandung nilai estetika yang dahsyat. Aih, bahasnya… Well, ini bukan sekadar pemanis postingan. Tapi beneran, toiletnya saja bikin betah.

Sebenarnya, saya tidak terlalu bisa memotret, dan memang lebih senang dipotret. Namun terkadang, ada sisi tak sadar saya yang menggeliat-geliat setiap melihat hasil jepretan siapa pun yang tampak indah dan unik dalam mata awam saya. Dan pada saat itu, saya semacam didatangi bisikan untuk melakukan hal yang sama, bahkan kalau bisa memotret dengan hasil yang lebih baik.

Kendala pertama saya dalam memotret adalah, saya tidak punya kamera, baik itu yang jelek, kurang bagus, alih-alih bagus. Kamera ponsel pun kurang memadai untuk hal itu. Tapi itu bukan masalah krusial (cailah krusial). Masalah utamanya justru pada vibrasi tangan saya yang tak bisa dihindari saat saya sedang memotret. Saya sering diteriaki, diprotes, dihujat, dicaci-maki, hingga disumpah-serapahi teman-teman saya karena foto yang saya ambil selalu berakhir dengan kata: NGE-BLUR.

Yes! Dengan begitu, saya jadi punya alasan untuk menolak setiap kali disuruh memotret. Hahaha.

Tetapi terkadang, saya pun kepingin mencoba, terutama ketika bisikan itu kembali datang. Oke. Sekali-kali membikin teman saya senang, tak masalah. Tapi, jangan harap foto yang saya ambil bakal seperti yang mereka harapkan. Yeah, saya bosan dengan pose clos-up yang begitu-begitu saja, atau foto full body yang standar. Saya bakal “mengeker-ngeker” angle yang menurut saya tepat. Dan pada saat itu teman-teman saya bakal berteriak, “CEPETAAAN! UDAH BELUM, SIH?” sementara saya bakal nungging, jongkok, bahkan nyaris terlentang di lantai demi mengambil angle yang saya inginkan.

Dan, salah satunya foto di atas inilah yang saya hasilkan.

Di luar kenyataan bahwa foto saya jauh dari kata bagus, setidaknya saya puas sebab sudah berhasil merealisasikan bisikan yang saya dengar saat itu. Meskipun teman saya bilang, “Foto apaan, nih? guenya kok gelap gini?” dan teman yang lainnya cuma memasang ekspresi datar tanda apatis, saya jawab, “Ini foto seni, ala Dadun,” sambil nyengir garing.

Well, bagi saya, dunia fotografi, mungkin masih terlalu jauh untuk ditempuh dan terlalu dalam untuk diselami (cailah jijik banget bahasanya). Tapi saya anggap ini sebagai mimpi yang terlentang di kolong ranjang, sebab bagaimana pun, ternyata, saya menaruh minat yang cukup besar di bidang ini. Dalam level sederhananya, saya selalu berharap bisa memotret objek-objek unik dan menarik untuk dijadikan kaver dan ilustrasi untuk buku-buku-imajiner saya.{}

Iklan

3 thoughts on “Mimpi yang Terlentang di Kolong Ranjang

  1. mimpi itu sama dengan cetak biru ^_^ tinggal menjalani prosesnya untuk nyampe kesana hehehe

    aku juga suka poto2 (dan difoto, meski gak fotogenik yang penting eksis hehehe) , sampe sekarang gak punya kamera oke, kecuali pake henpon tercinta ini…
    bagiku menangkap moment2 tertentu sebuah keharusan, dan juga mencari moment2 unik untuk diabadikan(ceileh….lebay…..) atau setidaknya jadi inspirasi menulis (meski tulisan gw kagak seberapa heheheh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s