Stolen


Terinspirasi dari puisi Ary Dharmayanti di sini:

Dini hari. Hujan sudah berhenti sejak malam bergerak pada angka delapan, beberapa saat sebelum laki-laki itu pamit pulang. Di dalam kamar, dia berusaha memejamkan mata, namun kesadaran masih membulannya dalam keterjagaan. Di balik selimut, dia meringkuk, dan samar terdengar dia menggumam, “Krisan….”

Wajah laki-laki itu meledak dalam kepalanya, juga dadanya. Namun tak berarti kemudian hilang tak berbekas. Justru sebaliknya, laki-laki itu lindap di sana. “Krisan….”

Dia benci terus menerus menyebut nama laki-laki itu. Sudah lebih dari dua kali sejak Krisan pergi. Meninggalkan handuk setengah basah bekas rambut dan badannya. Meninggalkan mangkok dan gelas kotor di bak cuci piring yang belum tertangani. Terlebih, meninggalkan satu rasa kehilangan yang tak terdefinisi.

Saat-saat itu kembali terputar di kepalanya. Saat-saat pertemuan pertama. Saat-saat dia mengutuk keberadaan Krisan di dunia. Bukannya meminta maaf karena membuat dia jatuh, Krisan malah tak acuh, dan berlalu dalam angkuh. Dia sangat membenci Krisan, dan selalu menghindari momen-momen kebersamaan dengannya. Sayangnya, takdir selalu punya cara untuk mempertemukan mereka berdua.

Mereka duduk satu kelas, dan bangku dia tepat berada di belakang bangku Krisan. Mereka terikat tugas kelompok, jadwal piket, hingga jadwal latihan ekstrakurikuler pada hari yang sama. Dan dengan cara yang semena-mena, takdir menempatkan mereka pada satu area kompleks. Tempat kos Krisan berjarak beberapa blok dari rumahnya.

Tadi sore, Krisan datang dengan kondisi basah kuyup usai menantang hujan deras, dan terlalu gengsi membawa payung. Senyumnya mengembang saat pintu dibuka. Senyum Ada Maunya yang biasa dia lihat. Dia tahu, Krisan datang dengan maksud yang muncul seiring buku catatan yang dikeluarkan dari balik pakaiannya.

Krisan memang cenderung begitu. Bersikap baik jika ada maunya saja. Dia merasa pertemanan mereka hanya kamuflase sederhana yang memperhalus bentuk simbiosis parasitisme-nya.

Tetapi, tidak untuk saat itu. Krisan datang dengan maksud berbeda dan tak terduga. “Aku baru dapet rumus ajaib dari temen kosku, buat nyelesein soal-soal rumit ini, dan kita siap total buat ulangan besok!”

Tali Putri yang menempel pada Sinyo Nakal itu seakan berubah menjadi selang-selang klorofil yang menyuburkan. Krisan tidak datang untuk mencontek, melainkan memberi formula efektif. Krisan tidak datang untuk membuat dia susah dan tertekan, melainkan memberi keceriaan.

Hujan menghadang Krisan pulang. Mereka tak lagi larut dalam soal-soal fisika yang memuakkan, melainkan terjebak dalam pembicaraan yang sudah terlalu disesaki basa-basi. Sampai Krisan menemukan sepucuk surat di kolong meja belajar dia. Surat cinta.

“Buat Lena?”

Dia tak perlu menjawab pertanyaan Krisan. Dan sudah cukup terlambat baginya untuk menahan Krisan membuka isi surat dan membacanya. Dia tak perlu repot-repot menambahkan label “Kurang Ajar” sebab Krisan memang terlahir dengan tabiat kurang ajar, dan semua orang pun tahu itu.

Dia malu, isi hatinya yang tertuang dalam surat itu dibaca Krisan. Dan dia tahu, Krisan juga punya perasaan yang sama terhadap perempuan yang namanya tersebut dalam surat yang belum terkirim itu.

“Lena pasti terbuai kata-kata mautmu,” Krisan terlihat putus asa. “Aku sih, nggak bisa bikin kata-kata semanis ini.”

“Tapi saya lihat, Lena selalu kagum pada semua tindakan heroik kamu,” kini, dia lah yang terlihat lebih putus asa. “Saya nggak bisa berbuat banyak untuk dia.”

“Bias, setiap orang punya cara-cara tersendiri untuk mencintai dan mengekspresikan rasa cintanya.”

Dia menghela napas. Krisan juga. Dan selama beberapa saat, mereka dilanda badai keheningan dengan latar belakang gemuruh hujan yang sesekali diteriaki petir.

“Kayaknya, Lena bakal lebih milih kamu,” Bias mendesah. Dadanya serasa berat. Dia memang terlalu putus asa, sampai-sampai menyerah kalah sebelum benar-benar berusaha memperjuangkannya. Di matanya, Krisan memiliki spesifikasi yang lebih komplit dibanding dirinya.

Serta-merta, Krisan menarik kedua sisi bahu Bias. “Lihat ke sini. Begini. Tatap lawan bicaramu secara meyakinkan. Jangan kosong! Hei, apa-apaan kamu?” Krisan berusaha menarik wajah Bias agar tatapan mereka tidak terlepas.

Bias merasa ada yang aneh. Namun entah di mana, dan bagaimana dia harus menjelaskannya. Dia hanya menuruti apa yang dikatan Krisan.

“Mata adalah jembatan menuju perasaan,” kata-kata itu terdengar seperti mantra. Bias merasa semakin sulit bernapas, dan jantungnya dagdigdug tidak jelas. “Jadi, tatap terus matanya. Ya, seperti ini. Pertahankan. Boleh berkedip, tapi jangan sampai memecah chemistry yang mulai terjalin.”

Genggaman tangan Krisan di bahu Bias mulai melunak, namun tatapannya justru semakin kuat. Dari jarak yang sangat dekat ini, Bias mampu mencium aroma sup yang beberapa saat lalu mereka nikmati, di tengah hela napas Krisan yang terasa hangat saat sedang berbicara.

“… dan setelah kamu benar-benar berhasil mengikat mata lawan bicara, kamu bilang apa yang ingin kamu bilang. Ungkapkan semua perasaan kamu….”

Bias gemetar. Wajah Krisan semakin mendekati wajahnya, dan hidung mereka nyaris bersentuhan.

I love you…,” bisikan Krisan terdengar lebih mengejutkan daripada petir di luar, membuat Bias semakin gelagapan.

“C-c-cukup…,” Bias mendorong tubuh Krisan sebelum akhirnya mengembus napas panjang. “Saya rasa, saya nggak perlu latihan semacam ini.” Dia tidak berusaha meneliti ekspresi Krisan lebih lanjut. Bergegas ke dapur, Bias membawa mangkok-mangkok, sendok-sendok dan gelas-gelas kotor dari kamarnya, meletakkannya di bak cuci piring. Namun, bukannya mencuci benda-benda itu, dia malah mematung dan menatap kosong pada kucuran air dari keran.

Wajah laki-laki itu seakan masih dekat dengan wajahnya. Dan kehangatan tubuh laki-laki itu pun seolah telah tertinggal di tubuhnya.

Dia belum sempat mencuci mangkok-mangkoknya ketika suara laki-laki itu memanggilnya. “Bias, ada telpon dari Lena.”

Untuk pertama kalinya, pembicaraan itu terasa kosong bagi dia. Seakan, dia tak lagi merindukan suara perempuan di seberang sambungan telepon selulernya. Seolah, kemewahan yang dulu dirasakannya setiap berkomunikasi dengan perempuan itu sudah berakhir dan hanya tinggal kenangan indah. Tiba-tiba, dia ingin segera mengakhiri pembicaraan hambarnya dengan perempuan itu.

Dan tiba-tiba, dia melihat laki-laki itu sebagai sosok yang berbeda. Yang tak biasa.

Laki-laki itu pamit pulang setelah mereka tak saling bicara selama belasan menit dan hujan benar-benar reda. Dia melihat punggung laki-laki itu menjauh dan hilang ditelan malam. Kemudian, dia merasakan ada sesuatu yang ikut hilang.

Entah apa. Entah mengapa. Semalaman dia mencarinya. Entah ke mana. Entah di mana. Dia tak menemukan apa-apa. Dia tak kehilangan apa-apa.

Mungkin hanya hatinya.

***

Pagi hari. Langit sudah berganti, dan dia tak sempat tidur, alih-alih bermimpi. Di dalam kamar, dia masih mencari-cari. Di balik selimut, dia masih meringkuk, dan samar terdengar dia terus menggumam, “Krisan….”

Dan tiba-tiba, dia ingin cepat bertemu dengan lelaki itu. Untuk menanyakan apakah ada sesuatu yang dibawanya, hingga membuat dia tidak bisa tidur semalaman.{}

2 thoughts on “Stolen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s