Little Miss Sunshine


Day 2 – Your Favorite Movie


Little Miss Sunshine. Judul film ini pertama kalinya saya temukan pada dialog dalam sebuah cerpen yang ditulis teman saya di situs kemudian.com. Tokoh dalam cerpen itu digambarkan begitu menyukai film ini hingga merekomendasikannya kepada tokoh lawannya. Dan secara kebetulan, saya melihat sebuah poster—yang ternyata memang poster film ini, di depan sebuah tempat penyewaan VCD/DVD yang selalu saya lewati setiap berangkat kuliah.

Film bergenre drama komedi satir ini bercerita tentang Olive Hoover (Abigail Breslin) seorang gadis kecil yang hendak mengikuti kontes Little Miss Sunshine. Dalam perjalanan menuju kontes tersebut, keluarga Hoover dihadapkan pada serangkaian persoalan, dan seakan-akan di situlah titik paling emosional bagi masing-masing tokohnya.

Sheryl Hoover (Toni Collette) digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang sehari-harinya harus berurusan dengan anggota keluarga yang bisa dibilang tak biasa. Suaminya, Richard Hoover (Greg Kinnear) adalah seorang motivator yang tidak hanya meletakkan “Sembilan Prinsip Kemenangan”-nya itu sebatas pada slide-slide presentasinya, melainkan juga pada lapisan terdasar dari obsesinya. Ironisnya, hidupnya justru dipenuhi kegagalan. Ia pun seakan membebankan tanggung jawab yang besar pada diri Olive dalam kontes Little Miss Sunshine itu.

Anak sulungnya, Dwayne Hoover (Paul Dano) tengah menjalani sumpah “Aku Tidak Akan Berbicara Sampai Dinyatakan Lulus Sekolah Pilot” setelah mendapatkan ikatan emosional yang kuat dengan spirit Nietzsche. Ia bergantung pada buku catatan kecil dan pulpen untuk berkomunikasi dengan orang lain. Buku catatan itu lebih sering berisi kalimat-kalimat offensif seperti, “I hate everyone” atau “Welcome to the hell”. Kecuali pada satu malam sebelum mereka melakukan perjalanan jauh itu, Dwayne menuliskan, “Don’t kill you’re self tonight!” kepada pamannya, Frank Grinsberg (Steve Carell) yang menderita depresi pasca patah hati yang sangat dalam—namun justru dianggap konyol oleh Olive.

Dan, sang kakek, Edwin Hoover (Alan Arkin) merupakan seorang manula yang patut dijuluki Si Tua Keladi. Ia suka mengumbar hal-hal non-sensor, dan diam-diam mengisap heroin di kamar mandi. Namun demikian, ia sangat menyayangi Olive, dan berhasil meyakinkan cucunya itu mengenai bakat menarinya. Setiap hari ia melatih Olive menari.

Perjalanan menuju kontes Little Miss Sunshine yang penuh dengan hal-hal “menakjubkan” itu akan menjadi perjalanan tak terlupakan bagi mereka, dan kita sebagai penonton. Kerusakan pada VW antik berwarna kuning yang mereka kendarai itu menjadi awal dari momen yang paling tak terlupakan dari film ini: mendorong mobil sampai mesin tuanya beroperasi.

Di luar fakta tentang hidup yang penuh dengan kejutan dan kepahitan, Little Miss Sunshine memberikan penawaran cuma-cuma berupa gelitikan sederhana yang membuat saya percaya bahwa kita selalu punya cara paling bijaksana dalam menertawakan kehidupan.

3 thoughts on “Little Miss Sunshine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s