Belajar Bersahabat


McD. Simpang – Dago

17:40

“Jadi, gini…,” Dean memulai. Kupikir, pertemuan ini cuma sebatas temu kangen–setelah hampir sebulan kami jarang bertemu. “Anti pikir, Vie ngubah kita jadi orang-orang yang musuhin dia.”

Aku menelan ludah. “Dia bilang gitu?”

“Kemarin, Anti ketemuan sama Nina dan Yusuf.” Aku mengangguk. Kulihat foto-foto mereka di facebook. Dean melanjutkan, “Mereka bikin rapat kecil, dan inti kesimpulannya udah diungkapin Nina tadi pagi, via chatting.”

Dia terus membahas semuanya, sementara aku mendengarkan sambil melahap nasi dan ayam. Tak berapa lama kemudian, Vie datang. “Ini dia Biang Kerok-nya.”

“Eh sialan, lo!” Vie duduk di sebelahku. “Jadi, apa ini artinya gue harus mundur?” Aku tertawa. Lalu, Vie benar-benar memundurkan tempat duduknya.

Done. Case closed. Clear,” kataku, lantas menghirup Coke.

“Anti emang gitu sih, sejak kuliah. Selalu punya masalah sama temen-temen deketnya,” Dean bercerita lagi. Seingatku, saat kuliah dulu, mereka memang dekat. Dan seingatku lagi, mereka tak pernah benar-benar terlihat–katakanlah berumusuhan, ribut, atau apa pun itu.

Atau, aku tidak pernah tahu?

“Anti cemburu sama kamu, Vie,” tegas Dean. “Dia ngerasa tersisihkan sejak kamu gabung sama kita-kita.”

“Kalo gitu, salahin dia aja,” Vie menunjukku, “yang udah ngenalin gue sama kalian.”

Sekarang, mau tak mau, aku harus terlibat dalam permasalahan ini. Permasalah perempuan. Permasalahan anak sekolahan–ya, sebab seharusnya, ini tidak terjadi pada manusia-manusia berumur dua puluhan ini.

Atau, masalah seperti ini tidak pernah pandang bulu?{}

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s