There’s Something About Luna


Luna tampak bahagia memeluk sebuah kado, “Dari Rio.” Adalah sebuah gaun berwarna putih. Cantik, aku berpendapat saat ia mematut diri di hadapanku.

“Rio mengajakku makan malam!”

Aku tak pernah melihat Luna seceria ini. Jatuh cinta bisa mengubah seseorang menjadi sosok di luar kebiasaannya. Aku turut senang.

Agaknya, semakin hari kondisinya semakin membaik. Ia tak lagi tampak menyedihkan seperti saat kami berkenalan dulu, sekitar setahun yang lalu.

“Kaupikir, hidup ini adil?” tiba-tiba saja Luna beretorika. Saat itu, kami sedang berada di restoran cepat saji. Kulihat matanya yang kosong dan sembap menatapku. Kamu berbicara kepadaku? Aku bertanya kepadanya. Dan semuanya berawal dari sana.

Kami bersahabat. Aku suka menjadi pendengar setia, penikmat ceritanya, penampung curahan hatinya. Ia bisa bercerita apa saja secara terbuka. Tentang latar belakang keluarganya yang berantakan, masa kecilnya yang tidak menyenangkan, hingga masa remajanya yang penuh keputusasaan paska dicampakkan mantan kekasihnya yang tidak bertanggung jawab. Demi menutupi aib keluarga, Luna diasingkan di rumah neneknya.

“Anakku lahir prematur dan abnormal. Syukurnya dia meninggal,” Luna berupaya tegar saat menceritakannya. “Lebih baik, daripada ia harus tetap bertahan.” Aku berusaha menghiburnya dengan fabel-fabel lucu, yang harusnya ia dengar sewaktu kecil dulu. Ia menyukainya.

Setiap harinya, kami punya sesi curhat. Mengungkapkan sebuah permasalahan adalah langkah awal menuju penyelesaiannya. Kami percaya, curhat adalah cara terhebat, memiliki kekuatan dahsyat.

Sampai akhirnya, Luna curhat tentang pertemuannya dengan Rio, lelaki baik dan manis, yang berbeda dari lelaki-lelaki sebelumnya. Tiga bulan, mereka menjalani penjajakan, hingga memutuskan untuk berpacaran. Rio berhasil memulihkan kembali kepercayaannya akan cinta.

***

Semuanya berubah setelah makan malam itu. Kualitas kebersamaanku dengan Luna berkurang. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Rio. Persahabatan kami seakan tak berarti lagi. Ya, memang, makhluk paling setia di dunia adalah bayangan. Aku selalu menyertai Luna di mana pun ia berada. Namun, semenjak Rio hadir, Luna tak lagi menganggapku ada. Aku membencinya.[]

tolong bantu Vote untuk cerita ini ya di sini

terimakasih🙂

One thought on “There’s Something About Luna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s