[cerbung] Layang-layang: (2) Masa Lalu


“Masih cemburu?” kamu bertanya, beberapa saat setelah kita tiba di sebuah rumah makan.

“Tergantung,” saya menghindari tatapan. Mestinya, kamu mengejar mata saya dan menemukan segudang kecemburuan di sana. Tapi, yang kamu lakukan hanya duduk dan tersenyum, lalu tertawa.

“Kamu mau makan apa?” sejenak tawamu reda.

“Saya masih kenyang.”

“Harusnya kita ke rumah kenyang, bukan ke rumah makan,” senyum itu mengekori kata-katamu lagi. “Kamu suka jus nangka?”

“Jus buah apa aja saya suka, kecuali mengkudu. Kamu suka banget jus nangka? Kenapa?”

“Aku suka banget buah nangka. Manis, dan bikin lengket,” untuk yang kesekian kali, saya melihat senyum itu lagi. Manis, dan lama-lama bikin lengket. “Kalau kamu, suka buah apa?”

“Buah kamu.”

“Boleh, tapi jangan dijus, ya.” Senyummu berubah tawa. Ah, lama-lama saya sudah bisa memprediksi alur ekspresi kamu.

“Kalau mantan pacar kamu, sukanya buah apa?”

“Dia… ah, kenapa harus bahas dia lagi, sih?”

“Biar saya cemburu.”

“Oh, oke. Sekalian aja aku ceritain semua tentang dia. Biar kamu hangus dibakar cemburu.” Dan sepertinya, lama-lama kamu pun sudah bisa menebak alur reaksi saya.

* * *

Setiap orang punya masa lalu, saya mencoba menegaskan hal itu kepada diri saya yang pencemburu. Masa lalu adalah detak jantung pertama yang kemudian berkembang menjadi pemompa aliran darah. Masa lalu adalah ulat yang kemudian berubah menjadi kepompong dan kupu-kupu. Masa lalu adalah angka satu sebelum mencapai seribu.

Masa lalu adalah kamu yang pernah jatuh cinta, mencintai, menyayangi, berusaha melupakan, bersikap lapang dada, mengambil hikmah, yang kemudian bermetamorfosa menjadi diri kamu yang sekarang.

Masa lalu adalah kamu yang sedang duduk di hadapan saya. Kamu yang sedang bercerita panjang lebar tentang mantan pacar kamu, dan seseorang yang pernah membuat kehidupan kamu lebih bernilai dan tak ternilai.

“Kamu sangat beruntung,” komentar saya di jeda kamu bercerita, “punya masa lalu yang indah.”

“Ya. Tapi, aku ngerasa kurang bersyukur,” ucapmu setelah rehat sejenak dan menghirup jus nangka-mu. “Istilah klasik bilang, kita nggak bakal pernah tau rasanya memiliki, sampai kita benar-benar kehilangan.”

Ada getir menyelinap di kerongkongan saya. Cepat-cepat saya netralkan dengan satu hirupan jus melon yang saya pesan. “Semuanya belum berakhir. Kamu masih punya kesempatan, paling tidak, untuk merevisi poin-poin yang kamu sesali.”

Kamu menggeleng, “Terlalu sulit dan rumit untuk memulainya kembali.”

“Kalian masih saling menyayangi sampai sekarang,” saya berupaya tegar. “Bukankah cinta selalu punya jalan?”

“Entahlah…,” matamu menerawang, menembus jendela. Senyummu hilang. Dingin meruang.

“Kamu tau, saya semakin cemburu.” Kalimat itu gagal membuatmu tersenyum. Menit-menit berikutnya kita lalui dengan kebungkaman. Hening.

“Bagaimana dengan masa lalu kamu?” akhirnya kamu berbicara, bertanya.

“Menyedihkan,” kata itu bergulir seperti es batu yang tergelincir dari genggaman. “Kalau difilmkan, masa lalu kamu seperti melodrama indah yang menghanyutkan dan mengharukan, sedangkan masa lalu saya seperti semi-porno murahan yang memuakkan.”

Kamu tersenyum getir. Sementara, kerongkongan saya semakin kering dan leher saya serasa dicekik makhluk gaib. Saya benar-benar malu dan merasa kehilangan harga diri di hadapan diri saya sendiri. Perbandingannya sedemikian jauh: kamu putih, saya hitam; kamu langit, saya kuburan.

“Setiap orang punya masa lalu,” kata-katamu membuat saya tercekat. Dua orang mengatakan hal yang sama kepada saya. Ialah kamu, dan diri saya sendiri. “Masa lalu menjadi bagian dari diri kita yang sekarang dan masa depan.”

“Berarti, saya akan tetap menjadi aktor semi-porno murahan yang memuakkan di masa sekarang dan masa depan….”

Sekilas, ujung-ujung bibirmu kembali bereaksi. Kamu kembali tersenyum. “Kalau gitu, aku bersedia jadi penonton setia kamu,” dan kamu pun tertawa.

“Dan saya bakalan terus memutar melodrama indah tentang kamu dan orang-orang yang pernah hadir di hidup kamu. Saya bakalan berandai-andai menjadi salah satu dari mereka.”

“Kalau kamu bisa jadi tokoh yang jauh lebih baik, kenapa enggak jadi diri kamu sendiri aja?”

“Aktor semi-porno seperti saya nggak punya stok pede yang mumpuni buat bisa masuk ke cerita indah seperti yang pernah kamu alami. Salah-salah, nanti melodrama kamu berubah jadi melodrama semi-porno.”

Kamu tertawa lagi. Akhirnya. “Wah, bagus dong! Filmnya nanti pasti lebih laku.”

“Laku dibajak.”

“Yang penting laku. Nanti Lucu-ku jadi selebritis. Tambah lucu deh.”

“Cina-ku juga. Tambah… cina deh.”

Kita pun tertawa. Dan sepertinya, masa lalu sudah tak menjadi masalah bagi kita berdua. Masa lalu berhenti sampai kamu yang duduk di hadapan saya selesai menceritakan kejadian-kejadian paling berkesan yang pernah kamu alami dengan orang-orang yang kamu anggap sangat berarti.

Sekarang adalah saat untuk memulai cerita tentang saya dan kamu. Tentang kita. Tentang masa kini.

“Abis bercerita, aku jadi lapar.”

“Abis dengerin cerita, saya juga jadi lapar.”

“Oke. Jadi, kamu mau pesan apa?”

“Hm… gado-gado aja deh.”

Matamu berkilat saat saya mengucapkan nama makanan itu.

“Kenapa?” sebenarnya, saya takut menanyakannya.

“Hm… enggak. Cuma jadi inget seseorang aja.”

Masa lalu? Ah, mungkin cuma Adam dan Hawa saja yang tidak akan membahas masa lalu saat pertama mereka bertemu.**

2 thoughts on “[cerbung] Layang-layang: (2) Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s