Pssst… Jangan Ngomongin Orang Lain!


“Semua orang di ruangan ini suka ngegosip ya?” Pertanyaan saya langsung diiyakan seorang teman yang dengan baiknya menemani saya selama waktu lembur kemarin. “Nggak bawahan nggak atasan, hobinya ngomongin orang lain.”

“Kalau bawahan sih wajar ngomongin atasan,” saya melanjutkan. “Setiap hari kita ngalamin tekanan yang kadang-kadang tidak berperikemanusiaan-dan-kekaryawanan. Saya pikir, atasan kita yang well-educated dan terhormat itu nggak bakalan melakukan kegiatan serendah yang kita lakukan. Pantes gitu atasan kita ngomongin klien-klien sampai koleganya di belakang? Dan yang paling saya benci adalah sikap hiprokrit mereka. Kamu tau, di depan saya, si Bos bilang hasil desain Mr.X itu jelek dan kurang teliti, sementara si Mr.X sendiri masih diforsir kerja dengan sallary yang dimanipulasi.”

“Makanya, kamu jangan sakit hati kalau sampai nama kamu dijelek-jelekkan di hadapan karyawan lain,” kata teman saya.

“Ah, itu sih udah saya prediksi dari awal. Dari waktu dia bilang yang jelek-jelek soal Mr.X itu, saya bisa nilai si Bos orangnya kayak gimana.”

“Si Ibu juga sama. Malah kemarin aku sempet denger, katanya mereka mau manfaatin si Mr.X. Ya ampun.”

“Hm… dasar. Saya juga nggak ngerti kenapa mereka sampai segitunya ngomongin si Mr.Z. Memangnya ada masalah apa sih di antara si Bos dengan si Mr.Z?”

Teman saya kemudian menjelaskan panjang lebar. Sampai akhirnya saya sadar, secara tanpa sadar saya telah terjerembap ke dalam umpatan saya sendiri. Saya telah terjebak  pada aktivitas bergosip, membicarakan orang lain. Tapi sekali lagi saya bilang, wajar saja jika bawahan membicarakan atasan. Dengan lebih banyak alasan.

“Udah ah, daripada ngomongin orang lain, mending kita ngomongin diri kita sendiri, diri kita masing-masing,” usul teman saya bijak.

“Oke. Kita mulai dari mana nih?” saya bertanya sambil menyelesaikan tugas-tugas desain yang kejar deadline untuk eksibisi hari Jumat nanti.

“Mulai dari kamu aja…”

Seperti mendapat umpan, akhirnya saya pun dengan gamblang memaparkan diri sendiri secara narsistik. Saya serasa melepas helai demi helai pakaian yang membalut tubuh saya. Menelanjangi diri di hadapan teman saya. Begitulah saya ketika bertemu dengan seseorang yang berhasil membuat saya nyaman.

“Ya ampun… Masa?… Terus?… Oya?…” dan masih banyak lagi reaksi yang ditunjukkan teman saya. “Astaga, aku nggak ngira ternyata ada manusia jenis kamu di dunia ini.”

“Manusia jenis saya? Maksudnya?”

“Ya kamu tuh bisa dibilang aneh. Nggak lazim. Extraordinary. Ckckck.”

“Hell yeah. Bukankah Tuhan punya selera artistik yang luar biasa? Tentu saja Tuhan lebih jenius dari Salvador Dali dan Einstein.”

Teman saya tertawa. Kemudian giliran ia yang bercerita tentang dirinya.

Ya, setiap orang memang punya sisi ajaib masing-masing. Baiklah, saya tidak akan membicarakan dirinya. Dan mari kita kembali membicarakan tentang diri saya saja. Haha. Terkadang narsisme itu sangat ampuh meminimalisir dosa dari kebiasaan membicarakan orang lain. Jadi, sepanjang sisa waktu lembur kemarin kami habiskan dengan membicarakan diri sendiri. Meskipun memang sesekali kami nyerempet-nyerempet pada hal-hal yang menjurus ke arah membiacarakan orang lain. Ya ampun, bergosip itu memang menyenangkan. Hehe. Teman saya bilang, itu bisa mengurangi stressing juga kebencian terhadap seseorang. Haha. Bagaimana bisa? Menurutnya, jika kita membenci seseorang, maka bicarakanlah dia sepuas dan sesanggup mulutmu berbicara. Ah, ada-ada saja. Dosa, dosa. Haha. Apa sih kelakuan manusia yang nggak jauh dari dosa? Berbuat baik saja, kalau dibayangi rasa ria tetap dosa, katanya. Ah, sudahlah.**

——————————-

Bandung, 03/02/2010 18:08:38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s