Expired


Awalnya saya tidak menginginkan dia. Bersikap biasa-biasa saja, bahkan saya cenderung menepis semua umpan-umpan yang dilemparnya. Hingga ketika dia mengajukan suatu hal yang bersifat sangat pribadi, saya menanggapinya dengan sikap dingin. Dan saya bilang, dia bukan tipe saya.

Namun akhirnya saya menginginkan dia. Dan kesadaran itu datang bersamaan dengan saat dia pergi. Mungkin dia bosan. Atau jera. Barangkali lelah menanti.

Lantas saya teringat pada pengalaman seorang sahabat jauh saya. Sejak awal masuk kuliah setengah tahun yang lalu, ia memendam perasaan mendalam terhadap seorang seniornya. Ia menjadi pengagum rahasia. Dan sikapnya lama-lama menjurus pada tindakan obsesif, sampai-sampai ia kesengsem sopir angkot yang mirip dengan seniornya itu. Namun sayang, ia selalu gagal mendapatkan nomor ponsel dan alamat facebook seniornya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seniornya tengah bermesraan dengan seseorang yang tak asing baginya. Orang itu adalah teman ia semasa SMA. Orang itu adalah predator yang memangsa sahabat-sahabat dekatnya kala SMA. Dan orang itu kini menjadi jurang curam yang memisahkan ia dari seniornya. Orang itu, selalu orang itu yang mengacaukan hidupnya.

Sahabat saya sempat berniat menyadarkan seniornya dengan cara memberi tahu kelakuan si predator. Hingga kemudian kami berdiskusi. Hingga kemudian kami sepakat bahwa selera seniornya bisa dilihat dari pilihannya. Saya dan sahabat saya percaya bahwa orang baik hanya akan mendapatkan orang baik juga.

Sahabat saya pun pelan-pelan memupuskan perasaanya pada seniornya. Dan setelah hatinya terbebas dari ambisi dan obsesi mendapatkan seniornya, ia baru mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya: nomor ponsel dan alamat facebook seniornya.

“Wah, selamat! Ditunggu traktirannya!” saya ikut senang.

“Biasa aja ah! Gue malah udah wall to wall sama dia. Tapi gue udah bener-bener ilfil. Cinta sudah terlambat. Na na na na…”

Oh.

Dan mungkin seperti ini jugalah kejadian cinta-sudah-terlambat itu.

Saya meng-SMS dia dengan kalimat yang sama sebanyak tiga kali dalam interval waktu satu jam. Saya tahu, dia adalah tipe orang yang tak akan pernah tahan membiarkan ponselnya dalam kondisi pulsa limit. Dan saya juga tahu, dia bukan tipe orang yang bisa jauh-jauh dari ponselnya. Dan saya juga tahu, lima menit adalah waktu terlamanya saat membalas SMS saya.

Jadi, saya khawatir terjadi sesuatu pada dia sebab sudah beberapa hari tak pernah membalas SMS saya. Saya meneleponnya. Sambungan pertama gagal. Sambungan kedua masuk kotak suara. Sambungan ketiga dan keempat dijawab operator. Sambungan kelima sukses.

“Halo? Ini siapa?”

“Ini saya.”

“Oh, kamu. Nomor baru ya? Ada apa?”

“Cuma mau tanya, kenapa kamu nggak pernah SMS dan balas SMS saya lagi?”

“Oh, hehe. Sori, sori. Tadi aku lagi di jalan. Biasa, weekend sama keluarga. Jadinya nanggung mau bales SMS juga.”

“Hm…”

“Eh, sori ya. Lagi pada mau makan malam bareng. Lanjut nanti, ok?”

“Ok. Bye.”

“Bye.”

And, bye.

Yeah, bye.

Tadi siang, saya sempat meng-SMS dia, menanyakan apakah dia me-remove facebook saya sebab ada friend request dari akun atas namanya lagi. Dan tak lebih dari semenit, dia langsung membalas, “Enggak kok. Itu akun facebook-ku yang satu lagi. Hehe.” Kemudian sorenya saya meng-SMS dia lagi. Dua kali. Dan dia tidak membalasnya.

Ok, clear.

Ya. Dan memang seperti inilah kejadian cinta-sudah-terlambat itu.

Bagi dia, respon positif saya tak ada bedanya dengan nomor ponsel dan alamat facebook milik sang senior bagi sahabat jauh saya.

Basi.**

————————————-

Bandung, 18/01/2010 23:08:29
Sambil meratapi sariawan di bibir dalam yang luar biasa perih—lebih perih daripada yang terasa di dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s