Garis


Ternyata, saya punya masalah serius dengan garis. Saya disadarkan seseorang (sebut saja bakal bos saya). Ia bilang, goresan garis yang saya hasilkan tidak rapi. Kemudian saya mulai mencari-cari kambing hitam. Pertama, rasa pegal di tengkuk dan punggung membuat saya berpikir bahwa saya terlalu kaku dan tegang saat sedang membuat garis. Kedua, rasa sakit di buku-buku jari membuat saya curiga bahwa ada yang salah dalam cara saya memegang/menggenggam pensil. Ketiga, saya tidak mengerti kenapa saya selalu gagal membuat garis semulus yang diinginkan; dan ini membuat saya menghawatirkan sesuatu yang saya sendiri sulit menjabarkannya.

Dari ketiga poin itu, poin pertama saya aborsi. Titik beratnya di poin kedua, yang kemudian beranak jadi poin ketiga.

Sejak dulu, saya selalu memerhatikan cara dan gaya orang-orang ketika memegang/menggenggam pensil/pulpen. Mayoritas, mereka meletakkan pensil/pulpen di antara jempol dan telunjuk, dan hanya kedua jari itu saja yang ada di atas pensil/pulpen. Sementara saya, selama bertahun-tahun, menambahkan jari tengah di atas pensil/pulpen. Ada sih, teknik yang saya kira cukup ekstrim, yang dilakukan satu-dua orang teman saya: mereka meletakkan pensil/pulpen di antara jempol dan jari tengah.

Efek yang saya rasakan dari cara yang saya lakukan adalah, sejak dulu bentuk tulisan saya mudah berubah-ubah. Jika dibahasa-komputerkan, kadang-kadang bentuk hurufnya Times New Roman, lain waktu menjadi Century Gothic, lalu Comic Sans, bahkan bentuk teraneh yang lebih buruk dari Cakar Ayam. Jadi, jika ada kasus surat kaleng yang bertulisan tangan, saya bakalan lolos dengan sangat mulus.

Saya heran, orang-orang selalu bilang tulisan tangan saya bagus. Bahkan saat SMP, guru Geografi saya sering menyuruh saya menulis di papan tulis hanya karena menurutnya tulisan tangan sayalah yang paling indah di antara yang lainnya. Saya justru merasa sebaliknya. Bukan hanya karena saya nggak pedean, tapi memang, saya merasa bahwa tulisan tangan yang bagus sifatnya konstan. Sementara yang terjadi pada diri saya adalah, tulisan tangan saya dipengaruhi mood, jenis alat tulis, dan faktor lainnya.

Dan kemarin, saya dikritik habis soal garis sampai akhirnya ditugaskan memenuhi 10 lembar A4 bolak-balik dengan garis-garis.

Menurut saya, tulisan tangan sangat berkaitan dengan garis. Tarikan-tarikan garis, bentukan-bentukan huruf yang dihasilkan tangan kita tentu dipengaruhi bagaimana cara kita memegang alat tulis dan menggerakkannya. Saat SMA dan kuliah, era kapur tulis sudah tinggal sejarah, dan saya mulai bermasalah dengan spidol dan papan putih. Tulisan saya mulai tampak kacau. Garis-garis yang saya buat di papan tulis kelihatan tidak setegas yang dibuat orang lain. Saat itu saya mengetahuinya, hanya mungkin belum benar-benar menyadarinya.

Dan kini saya sadari, goresan garis saya memang tidak rapi. Dan saya akui, agaknya, memang ada yang salah dengan cara saya melakukannya. Saya tidak bilang semua orang yang punya cara memegang alat tulis seperti saya bakal bermasalah dengan garis. Mungkin ada faktor lain yang entah apa (salah satunya, mungkin, tingkat getaran di dalam tubuh seseorang, tapi entahlah, katanya sih goresan garis yang saya hasilkan penuh getaran).

Saya merasa bahwa ini bukan sesuatu yang mudah untuk diubah. Bagi orang seumur saya, mengubah gaya menggoreskan garis akan berbeda dampaknya jika dibandingkan dengan mereka yang masih baru belajar menulis. Bukannya saya pesimis, tapi saya merasa bahwa goresan garis yang saya produksi sudah menjadi bagian dari identitas diri saya. Hal ini cukup menjelaskan tentang bagaimana para psikolog menganalisis karakter/kepribadian seseorang dari coretan tandatangan atau dari coretan-coretan bebas. Garislah yang mengidentifikasikannya.

Semalaman saya mengompres telunjuk saya yang terasa sakit seperti kejepit pintu (padahal kejepit jempol saya sendiri) dengan air hangat. Dan mestinya hari ini saya datang lagi ke Studio untuk menyerahkan 10 lembar A4 bercoretan garis itu pada sang bakal bos saya. Tapi kemarin saya bilang bahwa hari ini saya ada urusan, jadi mungkin baru bisa datang lagi besok.

Entahlah, bagaimana harus menjelaskan semua ini pada dirinya. Tapi saya (pura-pura) berharap bahwa goresan garis-tidak-rapi-saya masih bisa diubah dan dijadikan lebih baik, apa pun caranya. Ya, saya jadi kepingin tahu bagaimana cara mereka melakukannya. Apakah ada senam jari. Apakah dengan terapi khusus. Entahlah. Dan apakah dengan masalah saya ini ia akan menerima saya di Studionya, atau…? Entahlah. Semuanya tergantung juga pada garis nasib saya. Hahaha.

Tapi kalau memang permasalahan saya tentang garis ini sudah tidak bisa diubah, saya tetap tidak memandangnya sebagai suatu kecacatan atau kekurangan yang membuat saya kepingin mengamputasi tangan kanan saya. Oke, mungkin di mata bakal bos saya itu, jelas ini sebuah abnormalitas yang bakal menggugurkan diri saya sebab saya dianggap tidak profesional. Namun, saya selalu percaya: lain tempat lain ilalang, lain pula belalangnya.**

P.S. garis yang rapi itu analoginya seperti garis vektor, sementara garis yang tidak rapi-bikinan-tangan-saya seperti garis yang dihasilkan dalam piksel setelah beberapa kali perbesaran. Sudah ratusan kali saya mencoba, hasilnya tetap sama. Hmh…

————————–

———-
Bandung, 29/12/2009 11:50:32
Apa jadinya kalo nggak ada Miss. Kokom alias komputerku tersayang (meskipun sudah mulai lelet dan uring-uringan nggak keruan)?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s