Opera Sabun di Paris Van Java


Bahwa kebetulan adalah kata magis yang sengaja mengalihkan perhatian kita dari satu fakta di mana memang-sebenarnya-hal-itu-harus-terjadi.

Saya menghubungi dia untuk menemani saya menghadiri sebuah acara. Bukan kebetulan jika namanya terlintas begitu saja di kepala saya saat seorang teman memberi tahu bahwa ada banyak tiket untuk dibagikan secara cuma-cuma. Cukup lama kami saling mengenal, meski tidak terlalu intim. Beberapa kali agenda nonton bareng menjadi latar dan alasan kami berjumpa.

Dia sangat ramah. Mudah baginya untuk bergaul dengan siapa saja. Jadi, saya tidak perlu khawatir melibatkan dia di antara segerombolan lelaki-gila-kata-kata-yang-sedang-berburu-pustaka. Ya, tampak kontras di mana dia perempuan satu-satunya. Untungnya, kami sama sekali bukan lelaki-lelaki buas.

Tetapi, saya tetap merasa perlu bertanggung jawab atas kebosanannya ikut menunggu bagian lain dari kami (si gerombolan) yang belum datang (atau memang sama sekali tidak akan datang). Maka, saya mengajaknya berkeliling mall, lalu berakhir di 21. Membicarakan pemandangan dan ‘penampakan’. Membahas poster film. Lalu duduk-duduk di sofa tanpa punggung, tepat di seberang loket.

Sisa euforia Transformers mengawali pembicaraan kami di tempat duduk. Sementara soundtrack KCB mengalun di seisi ruangan, nama-nama ajaib seperti Dewi Persik, Jupe, Andi Soraya, Kiki Fatmala & Bang Ipul, juga artis ka(cangan)wakan lainnya menjadi celoteh usil berbumbu sindir. Kendati dia membenci mereka, bahkan hingga nama Ben Joshua, dia bukanlah tipe manusia Indonesia yang bilang “Film Indonesia sampah!” tanpa mengerti apa-apa. 3 Hari untuk Selamanya yang menurut kami lebih layak dijuduli Selamatkan Piring Pusaka itu mengalahkan antusiasme kami terhadap cerita di film Push yang meskipun efek dan segalanya keren namun tak cukup mengguncang diri kami.

Lalu, kemunculan sepasang kekasih di hadapan kami membuat dia agak terpekik. Mereka berdua adalah teman kampusnya. Dia menemukan semacam kemenangan atas situasi tersebut. Fakta bahwa mereka jalan berdua tentu saja mementahkan bantahan si laki-laki soal status hubungan mereka. Jadi, menurut dia, si laki-laki itu itu tak mau mengakui punya hubungan dengan perempuan yang konon jadi buah bibir di antara teman-temannya itu. Ah, ya, perempuan memang selalu punya cara-cara menakjubkan dalam menanggapi segala persoalan.

Lepas dari nuansa gosip ria, kami mulai merasa tak nyaman saat loket yang lengang mulai dipenuhi banyak orang. Oh, ada huru-hara Tria and the gang. The Changchuters datang untuk promosi film The Tarix Jabrix 2. Mereka menggantikan tugas penjual tiket. Hatur nuhun, A, kami tidak tertarik. Sebelum para Changchut Rangers mengeroyok kami yang apatis terhadap idola mereka, lebih baik kami segera melarikan diri.

Tiba di Paris Van Java, kami langsung digiring ke Blitz Megaplex. Pertunjukan animasi yang akan kami saksikan (entah) beberapa saat lagi akan dimulai. Sementara kami menunggu, melihat-lihat pemandangan sekitar yang terkesan eksklusif, tampak kontras dengan suasana di mall yang sebelumnya kami kunjungi.

Pada saat itulah dia benar-benar terpekik. Ada dua pasang lelaki dan perempuan yang mengganggu pemandangannya. Entah kenapa dia harus berlari ke luar setelah bilang, “Ada mantanku…”

Saya tidak tahu siapa yang dia maksud. Di seberang sana ada banyak pasangan.

Tak lama, dia pun kembali sambil bertekad, “Nggak, aku nggak apa-apa! Aku harus siap!”

Saya masih tidak mengerti apa-apa. Sampai akhirnya dia melambai pada seseorang di seberang, dan saya melihat seorang lelaki membalasnya. Oh, itu mantan pacarnya. Dan lelaki itu menghampiri kami, lengkap dengan kedua dayang dan seorang teman lelakinya. Dia dan lelaki itu saling ber-hai-apa-kabar-lagi-ngapain. Sementara saya diam-diam didera gejala deja vu saat melihat wajah laki-laki itu. Siapa. Di mana. Pertanyaan itu mencuat demi mencari jawab atas gejala deja vu tersebut.

Oh, ok, tampaknya ini bukan sekadar gejala deja vu, melainkan juga gejala ke-pikun-an. Oh, shit, faktor umur. Ya… ya…

Tetapi ternyata saya tidak sepikun itu. Saya hanya butuh perangsang ingatan. Dan buktinya, satu nama yang dia ucapkan menjadi kunci bagi ruang-ruang ingatan saya yang tersembunyi. Astaga… dunia ini sangat sempit! Ternyata, mantan pacar dia yang baru saja membuat saya deja vu tak jelas itu adalah kenalan saya saat sedang menjalani interview terakhir di perusahaan fotografi dulu! Lelaki itu tidak lulus seleksi karena, mungkin, saat itu ia masih dikejar tugas akhir.

Dia bilang lelaki itu atlet skateboard dan prestasinya sudah berkaliber nasional. Wah, keren! Lantas insting paparazzi saya menggeliat-geliat liar, berusaha mencari tahu lebih detail soal hubungan mereka dan alasan kenapa mereka berpisah. Oh, sialan, tindakan saya ternyata malah membuat dia menangis. Ah, ya, perempuan memang selalu punya cara-cara melankolis dalam menceritakan segala persoalan.

Dengan sok tahunya saya bilang, “Udahlah, ngapain nangisin mantan pacar? Bikin dia kesenengan aja. Mestinya kamu bisa nunjukin kalau kamu bisa jauh lebih bahagia selepas dari dia. Wew, liat sekarang, dia cuma jalan sama dua cewek, itu pun satunya punya temen cowoknya. Nah kamu sekarang lagi jalan sama LIMA orang cowok ganteng dan jago nulis pula!” hahaha…

Tapi itu tak berhasil membuat dia berhenti menangis. Duh… saya harus bagai mana. Apa kata orang kalau melihat semua ini. Seandainya saja menangis seperti pipis. Setiap orang pasti sadar tempat untuk melakukannya. Dia tidak akan mungkin berani menangis di depan umum, juga menangis di dalam bioskop.

Usai menonton animasi-negeri-sendiri bikinan salah seorang teman saya bersama teman-teman kampusnya itu, kami memutuskan untuk jalan-jalan mengitari Paris Van Java. Wew, serasa di Paris-parisan. Hahaha. Bangunan-bangunan antik. Besi-besi melengkung dan berbentuk spiral. Lampu-lampu klasik. Sayangnya tidak ada replika Eiffel di sana.

Tidak lengkap rasanya jika dalam sebuah kunjungan mall, kami tidak mencari Gramedia. Hahaha… sok penulis keren! (Amien…) Yeah, selain mengikuti tren buku terkini, juga menambah motivasi bagi kami. Sambil melihat-lihat harga, menilai-nilai sampul buku, membayangkan cerita lewat sinopsis, mengingat-ingat nama penulis yang siapa tahu sempat saya kenal, saya juga mencari-cari di mana keberadaan buku kumpulan cerpen saya. Oh, sedihnya, ternyata Lovaskeptika belum masuk Gramedia PVJ. Hikshiks. Tapi kabar baiknya, menurut seorang teman saya, Lovaskeptika sudah ada di TogaMas Bandung, dan Gunung Agung di Istana Plaza. Syukurlah.

Perhatian saya dan teman-teman saya tercurah pada buku-buku di rak Novel. Sampai tiba-tiba saya melihat sosok itu lagi. Laki-laki itu. Mantan pacar dia. Oh, ya ampun. Laki-laki itu seperti hantu yang terus menghantui jejak mantan pacarnya. Saya langsung meng-SMS dia, memberitahukan keberadaan laki-laki itu, namun SMS saya gagal terkirim. Dan tak lama kemudian, dia datang memberi tahu saya bahwa baru saja mereka berpapasan lagi. Astaga…

Saya jadi merasa perlu bertanggung jawab lagi untuk memberikan penghiburan. Akhirnya saya temani dia. Mencari-cari buku Agama yang belakang diminatinya, sambil meyakinkan dia bahwa semua kebetulan yang terjadi pada hari itu bukanlah kebetulan tapi sudah jadi bagian dari rencana takdir. Mungkin ada pesan lupakan-dia-dan-kamu-pasti-bisa di balik semua ini. Ya, dia berusaha memercayainya.

Maka, ketika kami shalat Ashar di mushola, saya bilang dia harus siap-siap jika ternyata ada pertemuan mendadak lagi dengan laki-laki itu, atau bahkan perempuan-perempuannya.

Well, ternyata kami hanya bertemu dengan dua orang perempuan yang bersamanya saja.

Saat hendak pulang, dia sudah bersiap-siap lagi jika HARUS SEKALI LAGI bertemu dengan mereka, atau salah satu dari mereka. Dia bilang, “Ah, nanti kalau lewat parkiran cewek-cewek itu ngelaksonin, aku mau ikut numpang pulang aja sama mereka. Ahaha…”

Dan syukurnya, lakai-laki dan/atau pun perempuan itu sudah tidak ditampakkan lagi wujudnya.***

————————————–

Bandung, 17/07/2009 16:39:55

setelah lama absen nyurhat, hakhakhak

7 thoughts on “Opera Sabun di Paris Van Java

  1. WAH,,,,,,
    mas slesain donk cerpenny,,,,,
    dy plngny ma cwe yg nangis tdi ngk,,,,?
    trus mantan pcrny tu kmn si,,,,,

    cz penasaran ne,,,,,
    hehehehehe…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s