SATU BULAN LAGI


waiting_by_bellz

Menghitung hari… detik demi detik…

Ya ampun, lama sekali! Ah, saya tidak mengerti. Dan mereka lebih tidak bisa memahami. Ayolah, saya tidak kuat lagi. Saya menginginkan diri saya kembali seperti sedia kala adanya. Saya menginginkan kembali bobot dua kilogram yang terlepas dari tubuh kurus saya, yang dikarenakan ketidakpastian situasi dan kondisi ini.

Oke, sebut saya bodoh, tolol, idiot, autis… sesukamu. Dengan catatan: jangan di hadapan saya dan banyak orang, atau di hadapan saya ketika kita sedang berdua saja. Bukan karena saya tidak mau mereka tahu kekurangan saya. Bukan pula karena saya takut benar-benar menjadi orang sepayah itu. Tetapi, setidaknya hargai saya sebagai seorang manusia; seperti halnya saya menghargai kamu sebagai-seseorang yang lebih ‘tinggi’ dari saya.

Satu bulan lagi. Dan itu pun jika dalam minggu-minggu ini, atau bahkan dalam hari-hari, jam-jam, menit-menit dan detik-detik yang serbatidakpasti ini, kepalamu tidak sedang diperciki kembang api warna-warni yang kadang membuatmu berpikir untuk bertindak lebih terpuji dari malaikat dan tekutuk dari iblis.

Saya tahu, ini dunia nyata. Bukan dimensi panjang kali lebar yang statis sekaligus dinamis memajang gambar bergerak yang diberi judul “The Devil Wears Prada” yang endingnya cukup idealis dan prinsipil bagi tokoh utamanya. Saya tidak yakin. Dan apakah itu cukup ideal untuk tokoh utama dalam cerita sebenarnya?

Satu bulan lagi. Dan itu pun jika situasinya sudah bisa dibilang mulai pasti.

Berhentilah menceramahi saya tentang konsep: tidak ada pekerjaan yang mudah dan enak; sebelum kita benar-benar bertukar peran seperti ibu dan anak dalam “Freaky Friday”. Kamu tak akan tahu maksudnya sebelum benar-benar mengalaminya. Lagi pula, hidup ini apa bedanya dengan judi, lotre, atau sekadar undian spekulatif iseng-iseng berhadiah. Dan kenapa dalam situasi ini kamu meletakkan kalimat “Rejeki setiap orang sudah diatur Tuhan” jauh di belakang, dan menukarnya dengan kalimat “Kalau tidak dicari, rejeki yang kecil pun tidak akan datang”?

Satu bulan lagi. Itu yang kamu katakan ketika saya bilang ingin mengakhiri semua ini, lewat sebuh surat yang sempat membuatmu berpikir lama menelaah apa maksudnya.

Satu bulan lagi. Apakah itu juga yang akan kamu katakan ketika kontrak ini berakhir dan ada perpanjangan tetapi saya memutuskan untuk berhenti sampai di sini?

Saya punya banyak alasan. Lebih banyak daripada kamu saat mengatakan, satu bulan lagi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s