M E N I K A H ? ? ?


15c9bf60587698325127eb176208b900

Ada seseorang yang, selepas membaca salah satu tulisan saya, mengajak saya menikah. Tidak, tidak langsung menikah-menikah. Ya, bisa dibilang menikah-menikahan dulu. Dan saya tidak lantas menyanggupi, tentu saja. Oh, plis, saya ini masih kecil! Pipis saja masih harus dipegangi.

Apalagi, setelah berada di lingkungan orang-orang yang sudah beberapa tahun hidup dalam naungan pernikahan, saya semakin merasa yakin kalau saya ini benar-benar masih kecil, kekanak-kanakan dan, shit, obsesi seksual dan segala pemikiran tentang hal itu yang selama ini saya pikir sudah cukup saya miliki, ternyata masih jauuuuh di bawah standar, jika dibandingkan dengan mereka.

Saya tidak bisa tidak ngeres kalau sudah ngomongin pernikahan. Yeah, faktor X dari pernikahan, kan, segala sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan persebadanan.

“Chiuy, nanti malam, gue ‘gituan’ beneran! Ough…”

Itu, kan, yang dipikirkan saat duduk di pelaminan? Berharap tamu-tamu lekas pulang dan waktu cepat berjalan sampai detik itu tiba. Malam pertama. Belah duren. Apa pun istilahnya, toh intinya ke sana juga.

Habis itu, ada malam kedua, ketiga, keempat…

Ya ampun, enak bener ya, menikah itu?

Eits, tunggu dulu. Mari kita (pura-pura) membandingkan prosentase kenikmatan itu dengan ketidaknikmatan saat harus berbagi hal-hal yang sebelumnya hanya menjadi privasi yang seratus persen membuat hidupmu benar-benar hidup.

Oke, jika kamu pikir prosentasenya lebih condong ke kenikmatan itu, maka tunggu apa lagi, lekaslah menikah. Tapi, jika berpikir sebaliknya, maka menikahlah tepat pada saatnya, atau tidak sama sekali.

Oh, ya, ya, Sunnah Rasul, kamu bilang. Alhamdulillah, masih ada orang-orang waras di jaman edan ini. Setidaknya, keberadaan orang-orang semacam ini bisa sedikit meredam murka Sang Penguasa Dunia. Dengan istiqomah terhadap niat menjalankan Sunnah Rasul tersebut, niscaya jutaan keluarga saqinah mawaddah warrahmah dapat tercipta di dunia, hingga ke surga nanti. Amiiin. Dan hal ini bisa mengurangi beban para petugas pengadilan dan pengacara yang mengurusi kasus perceraian.

Jadi, untuk apa sebenarnya kita menikah? Kenapa kita harus menikah? Apakah salah kalau kita menikah karena ketertarikan satu-sama-lain secara fisik dan emosional? Dan seperti apakah menikah yang berlandaskan Sunnah Rasul itu?

Ya ampun, jangan pikir kalau tulisan ini akan membahas jawaban-jawaban atas pertanyaan berat itu. Justru saya sedang mencari jawabannya.

Karena ada seseorang yang mengajak saya menikah, setelah ia membaca salah satu tulisan saya.

Ya, ia mengajak saya menikahkan tulisan saya dengan tulisan dirinya, untuk sebuah proyek novel yang kerangka dan segala macamnya sudah ia persiapkan sedemikian rupa. Ia meminang saya menjadi pendamping-hidupnya dalam mengarungi bahtera rumah tangga selama proses penulisan novel tersebut.

Dan, saya pikir, why not? Kita tidak perlu bergumul di atas ranjang, tidak perlu menggelar resepsi besar-besaran hingga keluar duit milyaran, tidak perlu memikirkan bagaimana harus mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari layaknya pernikahan dua insan secara harafiah. Kita hanya perlu duduk sendiri-sendiri dan menulis. That’s it.

Beberapa aturan main dikumandangkan, selayak undang-undah pernikahan. Oke, saya sepakat dan sejauh yang saya rasa tidak ada yang memberatkan. Malam pertama pun dimulai. Saya sangat bersemangat hingga ingin melakukannya berulang-ulang, dalam sehari, dalam kondisi terlelah sekalipun.

Sampai kemudian…

…kami bertukar tulisan, dan ada hal-hal yang terasa tidak sejalan…

Ada hal-hal yang saya pikir, menurut logika saya sudah benar, tetapi menurutnya keliru. Dan sebaliknya. Ia bilang ada yang janggal, padahal itulah logika yang saya berikan. Justru saya rasa, logikanya yang janggal. Dan saya curiga, ia tidak sedang mengajak saya menulis fiksi melainkan realita (tentang dirinya) karena segala yang keluar dari kepala saya atas nama imajinasi ditentangnya dengan semacam fakta yang tak terduga dan seolah tak boleh dibantah.

Lalu, saya agak kesal dan menghujaninya dengan unek-unek dari kepala saya. Ia pun mencoba meyakinkan bahwa semua ini ia lakukan demi penyempurnaan. Tetapi, tetap saja, saya masih kesal. Sebenarnya, ini proyek kita bersama atau proyeknya sendiri sih?

Saya bilang, yang namanya menikahkan dua tulisan, itu berarti tidak ada pertahanan atas ego sendiri-sendiri, melainkan memadukan dua pribadi menjadi satu individu baru yang terdiri dari gabungan keduanya. Kita mesti bisa saling toleransi dan menenggang rasa satu sama lain. Dan ia bilang, ini memang tulisan-pernikahan. Jadi, tidak akan ada warna yang dominan dari diri kita masing-masing. Sulit, tetapi ia yakin kami bisa.

Baguslah, secara optimisme ia cukup kuat.

Dan, akhirnya, saya berusaha mengalah. Sebelum saya mulai menulis untuk bab selanjutnya, saya mengajukan beberapa pertanyaan padanya mengenai pokok-pokok pikiran yang tak boleh dilanggar LAGI dalam tulisan bagian saya. Dan ia memaparkan beberapa hal, dengan diakhiri kata-kata: Improv sendiri sajalah! (dengan tanda seru yang tak biasa).

Oh, ya ampun. Kami benar-benar bertengkar. Oh, salah. Mungkin sayalah yang terlalu sensitif. Sampai-sampai berpikir, hal ini bisa saja terjadi dalam pernikahan saya nanti.

Bukankah kenikmatan terbesar dalam pernikahan adalah ketika dua perbedaan BERHASIL dipersatukan?

Menikah?

Ya ampun… seperti apa jadinya nanti?***

7 thoughts on “M E N I K A H ? ? ?

  1. @ mega aisyah dan dadun 😉
    that’s exactly what is in my dream 😀
    sex? come on buddies. it’s about menghabiskan waktu seumur-umur dengan orang yang sama
    that what my friend said 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s