KENAPA ORANG ENGGAN MENGUMBAR KEJELEKAN TENTANG DIRINYA?


id_autumn_by_marisilme1

Beberapa hari yang lalu, akhirnya, ada juga yang mau menegur saya di tengah-tengah pekerjaan saya.

Ah, tidak. Tidak. Sebenarnya, sayalah yang pertama menegur salah satu dari mereka dengan bertanya mengenai bagaimana dan dengan siapa ia pulang kerja setiap malam (oh, sungguh sialan, sepanjang bulan ini kami harus bekerja dari tengah hari sampai malam).

Lalu ia balas menggoda, bertanya apakah saya sedang menawarinya rencana pulang bersama. Tentu saja ia bercanda. Dan siapa bilang saya serius menanggapinya. Semua ini saya lakukan demi basa-basi mengisi waktu basi, dan setidaknya menegaskan pada mereka bahwa saya masih punya pita suara dan cukup pandai merangkai kata. (meski kepada sebagian orang, saya cukup sulit memulai komunikasi)

Orang di sebelah kami pun rupanya penasaran mengenai seperti-apa-sih-rasanya-mengobrol-dengan-orang-super-silent-seperti-saya. Ia memulai dengan bertanya di mana saya tinggal, dan apakah saya pergi dengan berkendaraan motor atau angkot. Kemudian pertanyaannya nakal, bertanya apakah saya sudah punya pacar atau masih jomblo, atau jangan-jangan homo.

Spontan saya bilang, kalau saya belum boleh pacaran dengan bahasa yang entah kenapa harus berbunyi, “Kata Mama jangan dulu pacaran.” Dan sontak, orang-orang yang tengah asyik dengan mouse-pen dan monitornya menaruh fokus perhatian pada seorang pemuda-hampir-22 yang baru saja mencetuskan dirinya sebagai seorang ANAK MAMI ini.

Well, faktanya saya memang anak mama saya. Bukan mama kamu, mama dia atau mama mereka. Dan kenapa harus malu menjadi seorang anak mami?

Lalu, seorang perempuan yang tengah hamil tua bersuara, memberitahukan pada orang-orang di sana, mengenai kebiasaan-kebiasaan-rumahan saya, dari mulai makan-dengan-kecepatan-di-bawah-rata-rata karena ia pikir saya masih disuapi dan sialnya saya mengiyakan, hingga kebiasaan tidak pernah pergi kongkow bersama teman di waktu malam karena takut dimarahi mama, dan setiap pulang kerja selalu dijemput papa. Ia tahu, karena selama hampir sebulan ini kami sering istirahat makan bersama dan cukup intens berkomunikasi. Dan saya pikir, ia hanya sedang berusaha fun dengan hal-hal yang dianggapnya sebagai kekurangan dari diri saya, yang menurut saya justru sebagai hal yang-biasa saja.

Yeah, meskipun ia sempat bilang, “Amit-amit jabang bayi, semoga anak gue nggak kayak elo, Dun!” sambil mengusap-usap perutnya yang hampir meletus itu, saya tidak bersusah hati karena saya tahu kapasitasnya sebagai seorang manusia sejauh mana. Ups, tapi ia yang mulai. Saya cuma melempar umpan balik.

Oke, saya cuma tersenyum saat akhirnya mereka puas menertawakan saya. Ya, ya, saya merasa mereka sedang mencemooh, meski mereka bilang cuma bercanda. Dan di saat seperti ini, saya justru semakin bernafsu untuk mengungkapkan sisi-sisi buruk dari diri saya. Saya bilang saja kalau saya ini sebenarnya anak sulung yang bermental bungsu. Manjanya minta ampun. Dan saya tidak bisa mengendarai Matic sekalipun. Dan kalau punya pacar nanti, biar saya saja yang dibonceng, perduli setan dengan omongan orang. Karena tak ada yang lebih tahu tentang diri saya selain saya sendiri dengan Tuhan.

Dan perempuan hamil itu semakin intens mengucapkan kata amit-amitnya. Seolah dengan begitu, semua energi jahat dan busuk yang baru saja keluar dari mulut saya dan merupakan sesuatu yang tidak disukainya bisa tertangkal dan terjauhkan dari jiwa anak yang beberapa bulan lagi akan dikeluarkan lewat rahim emasnya.

Dan, siapa berani taruhan kalau memang amit-amit-jabang-bayinya terkabul, tidakkah perempuan itu merasa menyesal karena anaknya nanti tidak menjadi seorang ANAK YANG LEBIH MENDENGARKAN DAN MENGHIRAUKAN KALIMAT ORANG TUANYA SENDIRI DIBANDING TEMAN ATAU PACARNYA? Karena sifat yang dimiliki seseorang yang kini mereka sebut sebagai ANAK MAMI ini justru lebih dianggap sebagai hal negatif yang harus dihindari anaknya.

Hei, siapa bilang ANAK MAMI itu malas dan tidak mau bekerja keras? Kalau maminya bilang, Nak, lakukan ini dan jangan lakukan itu, maka tentu saja si anak mami ini akan menurutinya. Dan, ah, saya pikir wajar saja kalau si anak mami ini agak sedikit manja, karena ia sangat menyayangi orang tuanya, lebih dari manjanya seorang kekasih pada kekasihnya.

Mari kita cerna perlan-pelan. Oh, maaf, saya tidak memaksakan. Jika tidak mau, jangan dilakukan.

Dan, intinya, satu hal: orang baik tak perlu berkata baik tentang dirinya. Dan saya adalah orang baik, karena saya bukan orang baik. Karena manusia adalah tempatnya baik dan tidak baik.

Hm, baiklah. Mari kita menjadi orang baik. Oh, maaf, saya tidak memaksakan. Jika tidak mau, jangan dilakukan.***

Iklan

3 thoughts on “KENAPA ORANG ENGGAN MENGUMBAR KEJELEKAN TENTANG DIRINYA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s