Perang (Batin)


Sang Penjajah: “Ayolah, tentukan pilihan sebelum cita-citamu untuk mati tersenyum menjadi batal.”

Sang Terjajah: “Sekali-sekali jadilah bijaksana. Jadilah dewasa. Jadilah panutan. Jadilah kebanggaan.”

Sang Penjajah: “Hahaha… pintar sekali dirimu. Saya tahu, kata-kata itu kamu jiplak dari Perempuan itu, kan? Perempuan yang hanya bisa mengobarimu semangat juang tanpa tahu apa-apa yang kau rasakan dan hadapi. Kau tahu, dia bicara begitu karena memang itulah tugasnya, bukan semata-mata karena ia perduli padamu atau mencemaskan kecemasanmu atau… Jangan terlalu Ge-er lah jadi orang. Kau tahu, cuma orang-orang TOLOL saja yang mudah Ge-er.”

Sang Terjajah: “Bukannya Ge-er. Tapi semua yang dia katakan itu benar. Bukan pepesan kosong seperti mimpi-mimpi busuk dan firasat-firasat anehmu yang menyesatkan. De javu-lah. Kedutan mata kanan-lah. Mistikus paradoksial-lah. Mana bisa kenyataan lebih fiktif dari fantasi? Dasar orang aneh! Kamulah yang saya rasa terlalu lemah untuk situasi ini.”

Sang Penjajah: “Oh, ya? Lantas, apa istilah yang lebih pas untuk orang yang sulit mengambil keputusan seperti kamu? Keputusan dibuat dengan hati yang matang kan? Dan hati hanya akan matang dengan keberanian dan kekuatan. Mana? Sampai sekarang tak ada keputusan? Mau saya yang memutuskan malah terus-terusan kamu halangi.”

Sang Terjajah: “Keputusan macam apa? Tidak ada keputusan yang mesti dicetuskan. Cukup jalani dan relakan segala yang terjadi. Kau selalu bilang, setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri. Mana kau tahu ini jalanmu atau bukan jika baru selangkah dua langkah saja kau lantas menyerah hanya karena tersandung kerikil pecah?”

Sang Penjajah: “HANYA? Lihat kaki saya berdarah-darah! Kaki KITA! Jangan bilang itu rasanya lebih enak dari bermasturbasi! Saya beri tahu, cuma orang putus asa dan tak punya pilihan yang memaksakan diri berada dalam tekanan dan siksaan. Buka matamu lebar-lebar! Ada berapa arah mata angin yang kau tahu? Hei, arah-arah itu sengaja dibuat untuk dilalui. Jika kau jengah dengan utara, kau masih punya selatan, barat, timur, bahkan barat daya, timur laut, tenggara, dan masih banyak yang di antara-antaranya. Jangan terlalu percaya dengan ucapan mereka yang seolah-olah nadimu akan berhenti berdenyut jika kau hentikan langkah dan memutar arah.”

Sang Terjajah: “Ini candu yang mematikan, yang mestinya kau enyahkan! Kakimu—kaki KITA berdarah karena apa, kalau bukan karena keteledoran? Ke mana pun, di mana pun, kaki kita akan terus tersandung dan berdarah jika kau tak memancangkan kewaspadaan. Belajarlah dari kesalahan dan besarlah dari pembelajaran.”

Sang Penjajah: “Ah, persetan dengan semua itu. Masih banyak cara menjadi kaya selain berhemat, bukan?”

Sang Terjajah: “Dan kau selalu punya banyak cara untuk menjadi pecundang. PECUNDANG.”

Sang Penjajah: “Oh, kau sedang ingin berganti peran? Kok, jadi saya yang ada di posisi terjajah?”***

Bandung,
12 Januari 2009 21:34
Diketik dengan kepala pusing dan hati yang benar-benar superdongkol

One thought on “Perang (Batin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s