Pick The Moment


Wisuda. Kata itu yang ingin lekas saya gapai tepat di hari pertama ospek. Tiga tahun yang lalu, dan alangkah klisenya saat itu tersebut sebagai kemarin.

Beberapa detik yang lalu (saat menonton Extravaganza yang semakin garing) saat-saat itu kembali hadir. Saya mengajak Bapak untuk sedikit mengenangnya. Waktu itu: subuh-subuh sekali kami bergegas ke Jln. Turangga dan saya yakin Bapak masih sangat mengantuk (meskipun ia bersumpah tidurnya sangat berkualitas tanpa diusik mimpi); dan Ibu merutuk karena merasa paling bertanggung jawab atas kelengkapan barang bawaan saya untuk ospek (padahal saya sendiri menyanggupi).

Bapak mengamini, rasanya seperti baru kemarin…

…rambut ini dipotong habis dan hanya boleh disisakan satu senti. Saat itulah Bapak benar-benar “mengakui” saya sebagai anaknya. Gundulisme adalah cita-cita terpendamnya yang begitu ingin ia realisasikan pada kepala satu-satunya anak lelaki-yang tentu saja bersilang paham dengannya. Meskipun ia tahu saya hanya terpaksa menuruti prosedur ospek.

…merasa pasrah pada penyakit yang saya sebut sebagai Kejang Rahang (rahang terasa kaku dan rasanya lebih naudzubillah dari sakit gigi; membuka mulut secara normal dan mengunyah makanan secara wajar saja rasanya lebih bodoh dari memurutkan jeruk nipis pada luka di kulit). Kejang Rahang membawa saya pada kehangatan selimut dan kenyamanan bantal serta pelayanan manis para senior berwajah malaikat, di saat teman-teman yang lain mengerang di tengah neraka Jurit Malam.

…merasa bangga memakai seragam kampus sampai kemudian nongkrong di mal sepulang kuliah dan dianggap pramuniaga oleh pengunjung lainnya.

…mengeluh tentang teman-teman baru yang “tak bisa diandalkan” sehingga sering menghabiskan pulsa dengan teman SMA.

…berbincang dengan seseorang mengenai ketakutan tak beralasan terhadap seorang dosen yang pada masa-masa selanjutnya memuramkan kehidupan dan merusak enam hari yang menyenangkan hanya dengan dua jam praktik di laboratorium dan dua jam teori di dalam kelas. Makhluk selanjutnya yang saya takuti setelah hantu dan segala jenis binatang.

…jatuh cinta, patah hati, berbunga-bunga, mematahkan hati, menjodohkan teman, merusak persahabatan, menjadi dalang drama percintaan teman, menasihati teman, membenci teman, menyukai teman, mencintai teman, melupakan teman.

…bertengkar dengan teman, bertengkar dengan orang tua karena teman, bertengkar dengan dosen karena dosen, bertengkar dengan damai, hingga akhirnya bertengkar dengan diri sendiri atas pertengkaran-pertengkaran tak berarti.

…menjadi mahasiswa bodoh yang hanya berpikir tentang bagaimana caranya besok bisa tampil lebih keren dari hari ini, dan hari ini bisa bertemu dengan dia dan berbincang-bincang atau sekadar duduk bersampingan. Dan percaya setiap tugas pasti ada yang mengerjakan (mungkin jin pendamping).

…dan menjadi mahasiswa yang ingin lekas-lekas menjadi wisudawan.

Hei, rasanya baru sedetik yang lalu nama saya disebut kemudian saya berjalan menghampiri para Senat untuk mengisi telapak tangan saya dengan telapak tangan mereka, dan seorang yang berada di tengah memindahkan kuncir toga dari rusuk kiri ke rusuk kanan. Sedetik yang lalu itu berskala sebelas jam yang lalu, sebenarnya.

Hanya untuk prosesi inilah…

…tiga tahun yang sarat jatuh bangun itu dijalani.

Dan entah bagaimana bisa, jauh di luar perkiraan, semua ini rasanya sama sekali tawar. Padahal, mestinya saat yang paling dinantikan selama tiga tahun itu menjadi sesuatu yang luar biasa, spektakuler. Saya ingin bahagia bahkan hingga menitikkan air mata, tetapi yang ada malah godaan untuk tertawa atas hal-hal yang tidak jelas sebabnya. Tertawa tidak selalu berarti bahagia, meski sama sekali bukan berarti bersedih. Tertawa bisa menjadi alternatif yang cukup efektif ketika kita bingung memilih satu dari sepasang situasi hati tersebut.

Tetapi saya bahagia melihat Ibu dan Bapak bahagia.

Ternyata, sekali menjadi tidak egois rasanya cukup menyenangkan juga. Rasa tawar itu mungkin cuma semacam kekosongan kecil yang tak bisa saya penuhi untuk diri saya sendiri. Momentum ini boleh jadi bukan milik saya, melainkan hadiah kecil dari saya untuk Ibu dan Bapak.

Sampai-sampai saya lupa mengabadikan diri saya seorang sendiri dalam balut jubah hitam dan toga saking terlalu asyiknya meleburkan diri dengan orang lain. Oh, biarlah… Meski kata mereka, “Sayang banget kalo nggak punya foto wisuda yang lagi sendiri. Wisuda kan nggak setaun sekali, sulit lagi,” saya rasa perusahaan mana pun tidak akan menagih foto dengan pose seperti itu. Tapi, yah, yah, lain kali saya ke studio foto sendiri dengan atribut yang merepotkan itu. Memang sulit menjadi “pionir” orang sinting-orang yang berhak merasa nyaman dengan pemikiran dan pemahamannya sendiri. Mungkin saya hanya terlalu takut dianggap tidak waras akibat terlalu sering bersilang pendapat. Argh… apa sih?

Tetapi ada warna kecil yang akhirnya sedikit memberikan aroma dalam ketawaran itu. Tanpa diduga, beberapa orang KemudianersBandung datang! Saya tidak berhak menilai apa-apa tentang kedatangan mereka, alih-alih menguar praduga, kecuali berterima kasih atas perhatian mereka. Meski sayangnya mereka datang terlambat, beberapa saat setelah acara usai dan orang-orang bubar. Momentum adalah momentum. Sedikit-banyak, kecil-besar, hitam-putih tetap saja menjadi momentum.

Hm, mungkin momentum ini akan jauh lebih berarti dan menarik untuk dibahas setelah bertahun kemudian, setelah ia menjadi hanya tinggal kenangan.

Saat saya kembali menuliskan…

…rasanya seperti baru kemarin…

—————————–
P.S. hatur nuhun pisaaaan, hatur nuhun nu teu kalangkung kanggo Niken, Takiyo, Rivai sareng ABC anu tos dongkap jauh-jauh ka Preanger^^
Khusus buat Takiyo: mahapkan diriku telah memberitahukan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dirimu tahu, dan yang paling diriku sesalkan adalah mengatakan semua itu dengan ekspresi semudah memberitahukan bahwa angkotnya baru aja pergi narik penumpang lain. Hehehe… santai saja, Bung, kan masih ada Niken… Dadun, ABC sama Vai^^

One thought on “Pick The Moment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s