I Just Wanna Say I L U, Potret


Jujur, saya merasa agak tertipu (sedikit kecewa juga) begitu membuka segel album (Kaset) Potret yang baru dan hanya menemukan sebelas track lagu (yang terdiri dari tujuh lagu baru, satu lagu lama yang diaransemen ulang dan tiga scoring dari dua lagu baru dan satu lagu lama tersebut) sementara dalam sebuah acara musik, Wong Aksan bilang (mungkin bercanda atau mungkin berbohong) ada enam belas track lagu di album potret yang keenam ini. Sempat misuh-misuh juga jadinya, dan bakalan keterusan kalau lupa sedang puasa —akhirnya saya tahu bahwa ternyata yang dimaksud 16 track itu adalah: 8 track lagu dan 8 track lagi scoring—itu pun dalam CD, bukan kaset)

Ternyata, album “temu kangen” Potret yang sudah vakum selama lima tahun ini merupakan sebuah proyek album soundtrack film remaja berjudul CHIKA. Kalau didengar-dengar, kini, antara Potret dan Melly (solo atau pun soundtrack) tidak ada bedanya dari segi lirik lagu dan melodi. Semua orang tahu bahwa Potret merupakan band yang memiliki identitas yang cukup unik. Memiliki lirik yang orisinil, tidak melulu tentang cinta, nyleneh dan nakal dalam memandang sesuatu, memiliki nada-nada dan melodi yang seenak bunyi tapi memang benar-benar enak di hati. Semua itu mengingatkan bagaimana saya menangis bombay dan termehek-mehek waktu mendengar lagu Bunda untuk yang pertama kalinya; saya yang terhanyut dalam kenikmatan lagu Bagaikan Langit; saya yang takjub dan terbelalak dengan lagu Diam, Kemarin dan Sadomasochist; saya yang tertawa sekaligus introspeksi ketika mendengar lagu Mak Comblang; saya yang terbahak waktu mendengar lagu Kentut Siapa dan R (dibaca Y); saya yang serasa piknik dengan lagu Trocadero; saya yang geleng-geleng dengan lagu Cerita Kota dan Drum And Vocal; saya yang… wah, banyak sensasi rasa yang saya alami ketika mendengar lagu-lagu Potret. Bagi saya, idealisme lagu-lagu Potret memang layak untuk dua bahkan empat jempol.

Tapi, di album barunya yang sekarang, saya mulai merasakan sedikit kehilangan gregetnya. Entahlah, mungkin karena sekarang Melly sudah menjadi sprinter yang produktif; dikejar deadline oleh para produser film yang memakai lagu-lagunya, sehingga mungkin akhirnya Melly agak mengenyampingkan idealisme demi profesionalismenya.

Kabarnya, hanya perlu waktu dua bulan saja untuk menyelesaikan album I Just Wanna Say I L U ini (semoga ini bukan excuse, atau bahkan ‘tipuan’ seperti yang dikatakan Wong Aksan mengenai jumlah track dalam album ini). Dari segi lirik, penurunan tensi-Potretnya terasa agak melorot. Mungkin karena MESTI disesuaikan dengan alur CHIKA. Lirik-lirik nyleneh dan nakal itu terasa kurang pas untuk lagu-lagu cinta. Bahkan di sini saya tidak menangkap unsur magis itu, justru saya anggap sebagai pemasukan kata yang-agak kurang pas, dan kurang sinkron dengan irama/melodi lagunya yang manis. Saya optimis bahwa Melly mampu menciptakan kata-kata yang lebih magis dan wah, dan bisa ‘kawin’ dengan irama/melodi lagunya (kalimat ajaib itu tidak harus selalu non-baku di antara yang baku, atau sebaliknya).

Meski begitu, saya pun tidak memungkiri bahwa masih ada energi Potret di album ini. Dari delapan track lagu yang dihadirkan, hanya ada TIGA lagu saja yang nuansanya SANGAT POTRET. Ialah tentu saja, I JUST WANNA SAY I L U, MUSIM PUTUS dan BAGAIKAN LANGIT (LOUNGE VERSION-yang sungguh sangat ENAK); secara lirik dan melodinya sangat mengidentitaskan Potret. Sedangkan di lagu: TAK MUDAH, APA HARUS PUTUS DULU, BILA AKU JATUH CINTA, LUKISAN CINTA dan MUNGKIN sungguh tidak ada bedanya dengan lagu-lagu soundtrack Melly yang dibawakan solo/berduet lainnya, hanya mungkin ada kata-kata non-baku yang nyelip diantara kata-kata baku, atau bahkan sebaliknya, yang efeknya jadi terasa aneh. Dan satu hal lagi, sejak proyek BBB (atau mungkin sejak HEART), Melly jadi keranjingan membuat SCORING. Saya berpositif thinking bahwa hal ini tidak semata ditujukan demi memenuhi/melengkapi jumlah track lagu yang sedikit (Ih, sekarang Melly mulai PELIT).

 

 

Iklan

One thought on “I Just Wanna Say I L U, Potret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s