Satu Sesi Buka Puasa


Masih sekitar lima belas menit lagi Adzan Magrib berkumandang. Menunggu, sepasang kekasih duduk berhadapan di dalam restoran yang tinggal menyisakan beberapa bangku kosong. Dua piring nasi timbel komplit dan semangkok sop buah, juga dua botol air mineral yang mereka pesan belum dihidangkan.

“Hari yang melelahkan,” Manaf menghela napas, memulai pembicaraan. “Di kantor banyak cobaan dan godaan.”

Tersenyum, Sarah berupaya mengingatkan, “Sabar, Kang. Mungkin ini ujian Ramadhan di awal masa kerja Akang.”

“Asap rokok membuatku sesak; menambah tekanan untuk pekerjaanku yang menumpuk. Tapi percayalah, orang-orang yang makan dan minum di hadapanku mulai nampak jauh lebih normal dan sama sekali tidak mengganggu shaumku.”

“Alhamdulillah. Semakin berat godaannya; semakin besar pahalanya, Kang.”

“Mudah-mudahan. Tapi, kau tahu, ada godaan yang jauh lebih menggoyahkan iman?”

Menatap tajam, Sarah lekas menukas, “Perempuan?!”

Mendelik, kemudian beberapa saat Manaf terdiam mendengar ucapan Sarah, “Untuk apa Akang menyuruhku menutup aurat, sementara Akang masih penasaran dengan aurat perempuan lain?”

“Bukan penasaran,” sanggah Manaf. “Yang namanya godaan, siapa yang tahu akan datang kapan? Dan, mengalihkan pandangan saat sedang berbincang apakah termasuk perilaku yang sopan? Terlebih dia klienku.”

“Tapi bisa, kan, tidak melibatkan syahwat?” Manaf tidak menjawab. Seketika Sarah mengoreksi, “Maaf, aku baru ingat kalau laki-laki tidak bisa hidup tanpa kata itu.”

“Oh, tadinya kupikir kau satu-satunya perempuan yang bisa hidup tanpa emosi dan cemburu buta.”

“Cemburu? Baiklah, aku telah salah memilih jadwal buka puasa hari ini.”

Tepat sesaat setelah Sarah bangkit dari kursinya, Manaf tersenyum kemudian meletuskan tawa kecil. “Kau jelas cemburu. Akuilah.”

Sarah semakin kesal karena mulai dianggap selorohan, dan diam-diam dijadikan tontonan orang-orang di sekitar. Manaf menahannya pergi, “Duduklah, biar kuaykinkan kau bahwa buka puasa denganku bukan sesuatu yang salah. Dan, hey, ini belum waktunya marah-marah. Masih belasan menit lagi.”

“Selamat, Akang berhasil membuatku hampir batal,” akhirnya Sarah kembali duduk, “dan malu.”

“Oh, maafkan, sungguh aku tidak bermaksud,” Manaf merasa bersalah. “Tapi terbukti, kan, perempuan masih lebih manut perasaan? Belum selesai aku berbicara, maunya langsung memotong saja.”

Sarah mulai diam, kemudian berusaha mengendalikan emosinya saat Manaf melanjutkan, “Maksud dari godaan yang menggoyahkan imanku, tadi, adalah pekerjaan itu sendiri.” Sarah berupaya memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa bersalah atas praduga-tak-bersalahnya.

“Kau tahu,” Manaf melanjutkan, “berapa banyak kata ‘nanti’ yang kuucapkan pada diriku sendiri ketika mendengar kumandang Adzan hanya karena pekerjaan yang terlalu tanggung untuk dihentikan barang sejenak? Konsentrasi shalat pun terbagi, antara Yang Kusembah dengan sang Pekerjaan. Dan kau tahu, berapa banyak waktu istimewa yang kulewatkan begitu saja hanya karena alasan pekerjaan yang jika tidak segera kuselesaikan akan berdampak buruk bagi kehidupanku di DUNIA? Alhasil, mana sempat aku menunaikan shalat sunnah, tadarus, dan hal-hal lainnya untuk dapat menyempurnakan ibadah shaumku. Malam hari pun aku kalah dengan lelah dan kantuk. Aku benar-benar bersyukur jika dapat melaksanakan sahur tepat waktu.”

Sarah benar-benar menyimak, hingga ketika Manaf selesai berbicara pun ia tak lekas menukas. Melihat Manaf mulai menutup mulutnya, akhirnya Sarah berujar, “Kang, pada dasarnya amal ibadah wajib dan sunnah yang Akang sebutkan tidak hanya harus dilakukan di saat Ramadhan saja. Semua itu tidak pernah terbatasi waktu untuk dikerjakan. Baiklah jika Akang menganggap ini Ramadhan terakhir hingga harus dilalui semaksimal mungkin, harus lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Tapi, kenyataan tidaklah semudah ketika anggapan atau niat mulia itu terikrarkan. Namun demikian, aku yakin, Allah Maha Mendengar setiap bisikan dan niat tulus seseorang.”

“Aku malu pada-Nya,” lirih Manaf dalam. “Aku tak lebih dari si Omong Besar.”

“Kang, pekerjaan yang akang tekuni sehari-hari adalah sebagian dari amal ibadah, selama dilakukan di jalan-Nya dan hasilnya digunakan di jalan-Nya pula. Nilainya mungkin berbeda dalam kaca mata kita. Dalam pandangan-Nya, wallahualam, Kang. Bagaimanapun aku percaya apa yang Akang lakukan sekarang semata-mata bukan demi kepentingan dan kebutuhan Akang pribadi. Maka, tak ada yang patut kulakukan selain mendukung Akang, dan berdoa semoga Akang dapat meluluskan niat Akang untuk mengisi Ramadhan ini dengan segala amaliah yang mulia.”

“Oh, subhanallah,” menyembunyikan titik-titik keharuan, Manaf menutup wajah dengan telapak tangannya.

“Dan yang terpenting,” imbuh Sarah, “Akang ikhlas menjalani semua ini. Tetap sabar dan tidak banyak mengeluh akan mempermudah dan membuat segalanya terasa jauh lebih indah.”

Manaf kembali menampakkan wajahnya, dan betapa takjubnya ia ketika melihat gadis di hadapannya menjelma bidadari dengan cahaya putih di sekitarnya. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus bidadari ini untuk menemaniku, batin Manaf.

Adzan Magrib berkumandang beberapa saat setelah pesanan mereka dihidangkan.

Di luar dugaan, Manaf kembali berkaca-kaca ketika hendak menyantap hidangan tajilnya. Sebelum bertanya kenapa, Sara mengikuti arah pandangan Manaf dan melihat seorang anak kecil berbaju compang-camping mengigit plastik berisi air teh di trotoar, di seberang restoran.***

[08/09/2008 13:21:57]

=====
Tadinya mau dibikin 100 kata. Tapi, tau-tau malah manjang; dan akhirnya menjadi semacam ekstensi dari cerpen Ramadhan tahun lalu yang berjudul PULANG. Bagi yang belum membaca, jangan khawatir, karena cerpen ini bisa menjadi bagian yang mandiri kok. Selamat membaca dan mengomentari…😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s