Kata Orang, Saya Punya Wajah yang “Universal”


I. CATATAN KECIL [KENARSISAN] KALA SMA:

AFI [Akademi Fantasi Indosiar] saat itu sedang booming-boomingnya. Saya sempat menjadi salah satu penikmatnya demi tidak dikatakan kuper. Dalam kesempatan nonton bersama keluarga, tiba-tiba saudara saya nyeletuk, “Kalo diperhatiin, si D**** mirip De’ Dadan, ya?” Percayalah, saya langsung mencari cermin, memastikan apakah baru saja saya difitnah atau… Wekz, mirip dari mana?

Tidak hanya AFI yang booming, ternyata, saudara-saudara. Atmosfer KDI pun bisa-bisanya menyelinap masuk ke dunia teman-teman saya. Dan pada suatu ketika, Anne, teman sekolah yang juga tetangga saya bertanya, “Kamu suka nonton KDI nggak?” Saya yang anti-dangdut [demi tidak dikatakan norak, hahaha] menggeleng tegas, “Enggak!” Kemudian dia melanjutkan, “Ada yang mirip kamu, lho.” Wah, wah, wah, perasaan saya mulai tidak enak. “Itu, lho, penyanyi yang dari Bandung; kurus-kurus tinggi itu, namanya… titik-titik [demi menghindari cacian yang lebih keji]”. Saya pikir, difitnah mirip D**** AFI sudah menjadi aib tersendiri. Ternyata, ada yang lebih parah: mirip titik-titik KDI. Saya sih inginnya dikatakan mirip vokalis band luar negeri. Tapi nggak mungkin ye, secara kesing indonesia asli. Hahaha… cintailah produk dalam negeri, wahai gadis-gadis.

Lepas dari tuduhan mirip personel kontes menyanyi itu, suatu pagi, saya yang baru tiba dengan Anne di gerbang sekolah, berpapasan dengan Wulan, teman sekelas Anne. Wulan yang selama ini nampak cuek [bahkan bersikap tidak kenal] pada saya, tiba-tiba saja hangat dan ramah [duh, senangnya diperhatikan Wulan]. Dia dan Anne membahas prestasi-prestasi saya di sekolah [duh, sombongnya]. Dan ujung-ujungnya, Wulan berkata, “Ehm, kalau ngeliat Dadan tuh kayak ngeliat siapaaaa gitu… beneran deh, mirip siapa gitu, kayak pernah kenal…” wait, wait, jangan bilang mirip personel AFI atau KDI, atau whoeverlah!!!

Dan dua orang teman sekelas saya pun pernah mengatakan hal yang sama, “Dan, kayaknya gue pernah ngeliat elo di manaaaa gitu, sebelum kita ketemu di Sembilan Belas…” are you sure?

***

II. CATATAN KECIL [KENARSISAN] KALA KULIAH:

Ucup : “Dun, urang asa pernah ningali maneh.”
Dadun : (dengan mimik sok serius, padahal sudah mulai biasa dikatakan mirip siapa) “Wah, maenya, Cup? Di mana?”
Ucup : “Hm… kehela, uing inget-inget heula…”
Dadun : (berdoa, semoga jawabannya bukan di AFI atau KDI lagi. Basi, atuh.)
Ucup : “Oh, heueuh, dina poto babaturan urang, si Iis.”
Dadun : (lega sekaligus dongkol) “Euh, nya heueuh atuh, Cup. Dan Urang teh jeung si Iis sakelas pas es-em-a. Tilu Ipa Hiji.”
Ucup : “Oh… kitu? Eh, tapi ketang, mun di perhatikeun, maneh teh bener-bener mirip dulur urang.”
Dadun : “Duh, mirip saha deui nyak? Semakin pasarankah wajah diriku ini?”
Ucup : “Mirip Mamang urang! Persis siga maneh, peot, jangkung, rada jabrik saeutik.”
Dadun : “Wah, mirip Mamang-mamang? Kolot atuh?”
Ucup : “Heueuh, mirip si D*** SO7. Mamang urang oge mun ditingali-tingali mah jiga si D*** saeutik.”
Dadun : (shock disebut mirip D*** SO7)

Ithing : “Dun, aku teh waktu pertama ngeliat kamu pas OSPEK, jadi inget sama sodara aku.”
Dadun : “Ah, masa sih, Thing?”
Ithing : “Serius, Dun. Kamu teh kayak sodara aku pisan. Cuma, udah rada tua sih itu mah.”
Dadun : (semakin shock dimirip-miripkan dengan orang yang lebih tua)

Dan semakin hari, setiap bertemu dengan orang-orang baru, tak ayal mereka bilang, merasakan gejala dejavu, telah bertemu dengan saya beberapa waktu sebelumnya, atau bahkan lagi-lagi memiripkan saya dengan saudara, tetangga, teman dan orang-orang yang tidak saya kenal lainnya. Waduh, kloningan saya sudah menyebar di mana-mana? Wekz, atau mungkin saya termasuk salah satu kloningan dari seseorang yang mirip saya? Ataukah saya bersifat seperti bunglon yang bisa memiripkan warna kulitnya pada tempat di mana ia berada? Hahaha… akhirnya saya cuma bisa ketawa saja menanggapi fenomena kemiripan ini. Pssst… mungkin mereka cuma cari alasan aja ya biar bisa ngobrol sama saya… hahaha…

Puncaknya, beberapa hari yang lalu. Saat itu, saya baru saja mengumpulkan surat keterangan pembimbing sebagai kelengkapan sidang. Karena masih terlalu pagi untuk pulang, saya pun mampir ke lab internet yang sedang kosong karena perkuliahan belum berjalan. Beberapa saat kemudian, muncul seorang dosen perempuan, mengambil tempat di sebelah saya. Saat sedang berbincang-bincang, tiba-tiba saja beliau berkata, “Dadan, ibu tuh dari dulu setiap ketemu kamu selalu pengen ngomongin ini. Tapi seringnya lupa…” waduh, waduh, curiga bu dosen mau nembak saya!!! Hahaha, kidding, bu… “Sampe kadang kepikiran, ‘aduh tadi saya mau ngomong apa ya, sama Dadan?’” akunya. Duh, jangan-jangan dia akan bilang… “Kamu tuh mirip…” wah, ternyata dugaan saya BENAR. “Kamu tuh mirip sama Om saya. Sekarang dia kerja di Preport, Irian Jaya. Saya sempet bayangin, waktu mudanya, mungkin Om saya mirip kamu.”

Huhuhuhuhu… ini bukan lagi Dadun si Wajah Universal, tapi Dadun si Tampang Pasaran.

Siapa lagi yang akan dimiripkan dengan saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s