Akh…hirnya… [Bisul-mu Pecah Juga]


Akh…hirnya… [Bisul-mu Pecah Juga]

Kerja keras selama beberapa minggu, bahkan selama nyaris tiga tahun ini benar-benar dipertaruhkan hanya dalam waktu satu jam. Bayangkan, satu jam yang menentukan. Satu jam yang terasa satu abad… [walah, lebay, dun!]

Pertemuan dengan puluhan dosen nampak tak berarti apa-apa dibanding tiga orang dosen penguji yang mendadak lebih menyeramkan dari setan-setan dalam mimpi. Wajah-wajah penuh tekukan, kedua alis yang ditautkan dan kalimat-kalimat pertanyaan, serangan dan sanggahan yang menukik tajam langsung ke sasaran menjadi momok tersendiri, memicu adrenalin sekaligus menciutkan nyali-perpaduan yang aneh, bukan? Ah, saya rasa tidak ada yang lebih aneh dari kehidupan itu sendiri… [dududu, ngelantur, dun!]

Masalahnya bukan lagi apakah kau berakhir dengan kata LULUS atau TIDAK LULUS, melainkan apakah kau sanggup melewati proses ini dengan kata BAIK, SANGAT BAIK, atau MEMUASKAN, SANGAT MEMUASKAN, atau justru SANGAT BURUK dan MENGECEWAKAN. Terutama jika kau seorang perfectionist-wannabe. Percayalah, artinya lebih jelek dari perfectionist itu sendiri. [perfeksionis jelek ya, dun? Ah, masa?] Dan masalah berikutnya adalah… jeng jeng jeng jeng… apa kabar dengan besok, dun? [siul siul siul]

Apa pun yang kau rasakan saat ini, tak ada yang tidak patut kausyukuri. Percayalah, kesempurnaan bukan barang murah yang bisa begitu saja kaucuri. Setidaknya saat ini kau sudah mulai terlepas dari jeratan yang mengikat lehermu, yang bernama… [harus saya namakan apa, ya?] yah, itulah. Sejak dulu, aktivitas sekolah dan kuliah cukup jauh dari kategori menyenangkan. [bohong, ah, dun! Buktinya, dirimu begitu menikmatinya, dan, ehm, yakinkah dirimu siap untuk meninggalkannya?]

Baiklah, mari kita hembuskan napas lega [oups, napas puasamu itu lho, dun, semriwiiiing-hey, katanya aroma mulut orang berpuasa itu disejajarkan dengan wangi kesturi! OOT lagi, hehe…]. Akhirnya… dirimu mulai jadi kepompong, dun. Yah, seperempat-manusia-lah, mungkin, atau bahkan kurang. Bisulmu sudah pecah pun, tetapi, waspadalah bisul berikutnya yang akan tumbuh jauh lebih besar dan menyakitkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s