Unstopable Song


Panggung untuk acara inagurasi sudah nampak dari kejauhan, sedari jalanan sebelum memasuki gerbang kampus. Dan suara bising anak-anak yang sedang cek alat sekaligus latihan terdengar cukup mengerikan di tengah hari yang panas ini.

Ah, lagu–sialan–itu lagi! Aku lupa judulnya, dan sama sekali tak menyesal membiarkan memoriku menghapus ingatan tentangnya. Sambil memarkir sepeda motor, batinku bersungut seperti telah lama memusuhi suara itu.

Baru seminggu yang lalu, lagu itu kuunduh dari sebuah situs penyedia file MP3 yang dapat diunduh secara bebas. Tak ada yang istimewa bagiku. Bahkan versi akustiknya mengingatkanku pada suara pas-pasan teman perempuanku yang hobi membuatku menutup telinga rapat-rapat saat ia mulai membuka mulutnya. Dan kualitas audio yang buruk menjadikan lagu itu tak lebih dari sekadar “bukan sesuatu”.

Sebut saja ini hanya sentimen pribadiku. Hei, aku punya hak untuk suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Dan kupikir, tidak melibatkan diri dalam euforia “Misteri di Balik Lagu Gabby” tidak akan memposisikanku pada sekte minoritas yang udik.

“Eh, katanya lagu itu ditulis Gabby sebelum ia bunuh diri, karena frustrasi.”

Oh, please! Perbincangan beberapa mahsiswi tingkat tiga yang kudengar saat aku berjalan menuju laboratorium komputer mengingatkanku pada diskusi serius adik perempuanku dengan teman-temannya yang masih kelas tiga SMP. Ya, adikku-lah yang memaksaku mengunduh lagu itu demi dapat dikatakan “teraktualisasi” diantara teman-temannya sehingga ia bisa menjadi juru bicara dalam setiap wacana gosip tentang Gabby–setelah isu setan SMS merah. Dan kemudian, setiap hari di sepanjang minggu ini, adikku tak pernah tidak memutarnya. Baik itu dalam MP3 player maupun play list di komputernya. Sementara aku selalu memilih untuk jauh-jauh dari semua hal tentang itu.

“Abang takut, ya, mendengar lagu itu?”

Pertanyaan konyol adikku saat itu kujawab, “Bukannya takut. Abang hanya tidak suka mendengar lagu yang hit hanya karena isu sensasionalnya yang murahan, bukan karena kualitasnya.” Entahlah, apakah adikku paham apa maksud dari jawabanku.

Dan hari ini, di siang yang panas ini, aku harus mendengar lagu itu, lagi, sekaligus opini-opini menggelikan dari teman-temanku–yang mestinya bisa jauh lebih realistis daripada adikku dan teman-temannya.

Tapi, ah, sudahlah. Kupikir, lebih baik aku berkonsentrasi pada materi praktikumku daripada ikut dipusingkan dengan lagu yang–konon–misterius itu.

Ya, aku nyaris terlambat. Kelas tepat dimulai saat aku tiba di laboratorium komputer. Sial! Ternyata aku lupa membawa modul! Praktis, aku tidak boleh berkedip barang setengah detik pun demi mampu menangkap semua hal yang divisualisasikan sang dosen. Dan tentu saja, telingaku mesti lebih tajam dari pendengaran seekor anjing kala menyimak penjelasan dosen yang bersuara ekstrim lirih itu.

Oh tidak! Suara di luar (baca: lagu itu) masih saja terdengar. Jelas. Seperti tidak ada stok lagu lain lagi untuk dibawakan. Tetapi masalahnya, aku dan teman-temanku di sini sedang membahas subjek tersulit dan terpenting. Konsentrasiku kian kacau. Oh Tuhan, tolong hentikan mereka!

Tetapi lagu itu semakin jelas terdengar, bahkan dari ketinggian lantai tiga ini.

Aku pun berlari ke jendela dan berteriak pada mereka yang berada di panggung untuk lekas menghentikan lagu itu, dan suara apa pun yang membuat temperatur udara semakin tak keruan.

Mereka balas meneriakiku, dan beberapa mendongakkan wajah dengan tatapan aneh.

Astaga. Bagaimana bisa? Ternyata mereka tidak sedang menyanyikan lagu apa pun, bahkan tak ada yang memegang satu alat musik pun! Mereka justru tengah beristirahat dan hanya berkumpul-kumpul di atas dan di bawah panggung.

Sementara lagu itu masih terdengar, dan semakin mengerikan.

Lalu aku berpaling pada teman-temanku di dalam laboratorium komputer ini, dan mendapatkan tatapan aneh yang sama dengan yang diberikan teman-temanku di luar sana.

“Jangan katakan kalau kalian …”

Oh Tuhan, apakah lagu itu hanya terdengar olehku saja? Bagaimana bisa?

Tiba-tiba seorang gadis muncul, dan tak ada yang merasakan dan melihatnya, kecuali diriku. Ia gadis berambut panjang yang sedang membawakan lagu (yang terus terdengar di telingaku) sambil memetik gitar. Gadis yang tak kukenal, namun tanpa sengaja pernah kulihat dalam sebuah tayangan televisi yang membahas misteri lagu itu, dan diklaim sebagai sosok Gabby. Aku benci menebak. Aku benci ketakutan tak bersebab.

Ia semakin mendekat, seperti pengamen di dalam bis yang menadahkan kantong permen kosong pada setiap penumpang. Bedanya, ialah satu-satunya penyanyi yang bernyanyi tanpa ekspresi. Wajahnya putih pucat dan tanpa riak air muka. Dan aku semakin tak tahan mendengar lagu yang terdengar bagai Lingsir Wengi (dalam film Kuntilanak) itu terus dan terus diperdengarkan. Bahkan kedua telapak tanganku pun tak mampu mencegahnya masuk ke dalam pendengaranku.

Hentikan!

Kulemparkan sebuah speaker kecil dari meja komputer terdekatku ke arah gadis itu. Yes, tepat pada kepalanya. Namun ia tak bergeming dan terus mendekatiku sambil menyanyikan lagu sialan itu. Oh, aku benci mengakuinya, tetapi memang saat ini aku ketakutan. Saat ia semakin mendekat, dan nyaris tak ada jarak di antara kami, spontan aku mendorongnya hingga ia terjerembab ke lantai; dan entah kenapa ia masih bisa memetik gitarnya dan terus bernyanyi.

HENTIKAN!

Kali ini kulemparkan monitor empat belas inchi pada tubuhnya yang terbaring di lantai. Ia berdarah. Sebagian darahnya terciprat ke tubuhku.

Dan aku terjatuh dari tempat tidurku.

“Hhhh, syukurlah…” napasku panjang terhembus, meskipun sakit berkumpul di syaraf lenganku yang menahan bobot tubuhku saat terjatuh.

Huh, mimpi sialan!

Tapi… lagu itu masih saja terdengar. Oh Tuhan, apakah aku masih bermimpi?

Tidak. Aku sudah bangun. Dan suara itu sepertinya terdengar dari kamar sebelah. Adikku tak bisa pelan-pelan dan sekali saja memutarkannya. Ya, kali ini aku yakin bisa menghentikannya. Akan kuhapus secara permanen lagu itu dari komputer juga MP3 playernya.

Tapi… tidak. Lagu itu bukan dari sana. Jelas bukan. Melainkan dari komputerku sendiri. Tapi, bagaimana bisa? Aku tak mungkin menyalakannya dalam keadaan tidur, dan lagi pula tak pernah kusimpan file lagu itu di sana.

“Lagunya bagus, kan?” kursi belajarku berputar, dan nampak seorang gadis yang kulihat dalam mimpiku.

…***

Dadan Erlangga,
Bandung, 01 Juli 2008 15:05:26

One thought on “Unstopable Song

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s