Kopi Darat: Penting Nggak sih?


Entah kenapa istilah ini yang harus digunakan untuk menyebut kegiatan pertemuan—tatap muka (di dunia nyata) bagi orang-orang yang sebelumnya hanya saling berinteraksi di dunia maya. Padahal, secara padanan kata, Kopi artinya apa, Darat artinya ke mana. Konon, dahulu kala, sebelum teknologi internet merajalela, istilah Kopi Darat ini ngetren di kalangan orang-orang yang saling berkirim salam di radio. Ah, wallahualam…

Saya sendiri baru tahu istilah Kopi Darat (Kopdar) setelah bergabung beberapa lama dengan komunitas Kemudian.com. Itu sekitar setahun yang lalu. Dan rasanya menyesal telah melewatkan begitu saja kesempatan Kopdar Kemudianers pertama di Bandung. Tetapi akhirnya, penyesalan itu sedikit terobati seiring berjalannya waktu, beberapa Kemudianers mulai mengajak Kopdar kecil-kecilan; sekadar ketemuan di kafe. Dan, efek terbesar yang benar-benar saya rasakan dari sebuah agenda Kopdar adalah ketika menghadiri Kopdar akbar Kemudian.com yang bertajuk PERKOSAKATA2008 yang diselenggarakan di Jakarta, 6 April 2008 lalu. Mungkin tepatnya, lebih kepada kesannya yang mendalam.

Bayangkan saja, selama berwaktu-waktu kita hanya bisa chit-chat di YM! dan saling berbalas kritik-caci dan puji di akun masing-masing di Kemudian.com, membayangkan sosok-sosok manusia di seberang sana dari avatar-avatar dan tulisan yang mereka tampilkan sebagai perwakilan atas dirinya, hingga merasakan kecocokan yang membuat kita nyaman bertukar pikiran dan berkeluh-kesah, merasakan pertemanan bahkan persaudaraan yang cukup mendalam… semua itu kita lakukan di dunia maya.

Tidak adakah sedikit keinginan untuk mencocokkan segala interpretasi yang tercipta selama kita berinteraksi di dunia penuh tipu-daya itu dengan segala kondisi yang apa adanya di dunia yang lebih riil dan nyata? Tidakkah energi pertemanan yang kita rasakan ingin benar-benar kita wujudkan dalam bentuk yang lebih nyata dan berhakikat dari sekadar memandangi monitor dan memijit-mijit keyboard?

“Ah, lebih baik kita gak usah ketemuan. Gue takut lo kecewa dengan bentuk asli gue. Udah, asyikan kek gini aja kan?”

“Gue ekstrovert cuma pas waktu online doang. Aslinya gue introvert dan ngebosenin banget. Gue bingung, nanti kita mo ngomongin apaan, malah diem-dieman.”

Bisa dipahami, alasan-alasan pesimisme dan minderisme seperti itu kerap menghantui pikiran para calon “peserta” kopdar. Yah, bahkan ada sebuah novel yang menceritakan hal itu.

Tetapi, ah, saya pikir, kalau alasannya cuma karena itu, rasanya apa yang sudah kita lakukan kemarin-kemarin hari hingga mengorbankan tenaga, pikiran, waktu dan biaya itu hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Sekali-dua kali menganggapnya sebagai “Just for having fun” it’s okay-okay saja. Masalahnya kalau sudah lebih dari itu. Ya… sayang aja kalau saya mah.

Tetapi memang, segala sesuatunya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Setiap orang punya motivasi dan keinginan yang berbeda. Ada yang hanya ingin sekadar bermain-main dan meraja di dunia maya tetapi menjadi seseorang yang biasa-biasa saja di dunia sebenarnya, atau sebaliknya. Ada yang ingin mencari teman, pacar atau calon pendamping hidup. Ada yang belajar. Ada yang hanya buang-buang uang. Ada yang mesum dan membuka situs begituan sekaligus mendownloadnya untuk menambah koleksi pribadi. Dan sebagainya. Yah, yah, i see… i see…

Di Kemudian.com sendiri, khususnya, kecenderungan keragaman motivasi itu sangat nampak. Saya meng-klik kata “BANDUNG” pada akun saya di Kemudian.com untuk menemukan user lain yang juga ber-regional Bandung. Surprise! Ada lebih dari 12 halaman user id, dimana setiap halamannya terdiri dari sekitar dua puluh user id. Ckckckck… banyak bener user yang tinggal di Bandung. Kemudian saya mencoba menghubungi mereka dengan cara meng-add id YM mereka, kemudian menginformasikan segala rencana kegiatan Kopdar KemudianersBandung yang akhir-akhir ini mulai digalakan. Dan, surprise! Dari sekian banyak member, tak banyak yang merespon dan hanya sekitar sepuluh kepala yang nongol saat acara kopdar. Ckckckck… saya berpositif thinking saja: mereka semua sibuk. Yah, saya cukup beruntung dan perlu bersyukur masih punya banyak waktu luang di sela-sela rutinitas kuliah. Kalau sudah bekerja, mungkin waktu saya lebih terkonsentrasikan di sana.

Bahkan hari Minggu pun…

Bahkan sekali dalam sebulan pun…

Sebenarnya, apa sih hal-hal positif, bahkan mungkin negatif, atau mungkin hal-hal macam: “apaan sih, gak ada gunanya banget, buang-buang waktu” dari kegiatan Kopdar?

Apa yang membuatmu ingin menghadiri Kopdar, juga, apa yang membuatmu ingin menghindarinya?

Dan, apakah Kopdar itu penting? Atau sebaliknya? Atau penting-nggak penting?

Kenapa?

2 thoughts on “Kopi Darat: Penting Nggak sih?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s