Insomnia dan Lelaki Mimpi


Pada malam-malam panjang itu, ia terpasung dan membelah kepalanya sendiri. Ada kepingan CD dan DVD bajakan yang dibelinya dari Kota Kembang; American Pie 6 yang membuatnya bergidik, muak dan agak terangsang; American pie 7 yang membuatnya iba dan bosan. Kemudian ia menemukan draft cerpen dan novel perselingkuhannya yang mulai mengendap dan digerayangi rayap. Hasrat-hasrat yang masih berlabel haram. Cita-cita. Dan cinta terpendam.

Ranjangnya berderit-derit kala mereka bersenggama; ia dan keterjagaannya yang binal dan lebih menggebu-gebu dari sepasang pengantin baru. Sorot matanya bak mercusuar yang memata-matai penyusup pantai. Kafein telah menghitamkan hemoglobin dalam tubuhnya, hingga ia kehilangan warna merah untuk menyempurnakan lukisan tidurnya.

Tetapi, akhirnya beberapa butir Depresan berhasil membawanya pada gerbang bernama Twilight Zone. Suatu kondisi dimana dirinya tak lagi menyadari batas keterjagaan dan keterlelapan atau mimpi.

Sesaat ia menjelma Lelaki Mimpi.

Ia duduk, tetapi nampak seperti berdiri-ah, ya, begitulah yang terjadi dalam dunia mimpi, tak ada sesuatu yang pasti. Kursi-kursi tanpa kaki. Dinding yang setiap detiknya berubah warna dan pola. Gelap dan terang yang seolah nampak serupa. Tetapi ia benar-benar dihadapkan pada berlembar menu tentang mimpi aneka versi.

Bertemu dengan sahabat lama.
Ponselnya bergetar dan ia menemukan sebuah pesan, petunjuk yang membawanya pada sebidang tanah lapang berwarna merah padam, dan bertemu seseorang. Sahabatnya. Sosok terindah dalam masa kecilnya yang tidak begitu menyenangkan. Gadis berkulit terang dengan mata bulat besar dan berambut hitam panjang. Awan berubah menjadi slide yang memajang gambar-gambar kecil mereka di halam belakang, di Kebun Binatang, di Taman Lalu Lintas, di ruang kelas nol besar. Mereka tertawa dan tersipu tiba-tiba seperti bintang tamu Ceriwis dalam segmen Diana dalam Berita. Dan semuanya berwarna merah ketika ia menciumnya secara serta-merta.

Bercinta dengan mahkluk berpayudara besar.
Entah Pamella Anderson, entah siapa, mungkin sosok ibu Stiffler dalam American Pie seri pertama dan kedua. Ia teringat kata-kata temannya, “Mimpi basahmu akan kaulalui dengan sosok-sosok yang tak menentu. Tetapi, percayalah, dengan siapa pun kau tetap menikmatinya.” Ya, sudahlah, tak perlu dipertegas. Yang jelas, saat itu ia mencoba posisi yang berbeda dari mimpi-mimpi sebelumnya. Hm…

Tangan kiri dan seorang kakek.
Ia tiba di sebuah ruangan yang agak gelap. Seperti kandang ayam besar di sebuah peternakan. Atau, entahlah, mirip bagian dapur sebuah rumah kayu versi puluhan tahun yang lalu dengan alas masih berupa tanah. Ia sedemikian ngeri, tetapi kemudian justru tertarik pada sebuah tangan yang tergeletak di sana. Seperti alat penggaruk punggung milik saudaranya. Tetapi tangan itu benar-benar bergerak dan tak ada panel baterainya. Jejarinya seperti tentakel yang menggerakkan tubuh gurita. Hup! Ia menangkapnya, dan tangan itu memaksanya menemui seorang kakek yang terduduk menghadap tungku, meminta ia memasangkannya. Dan kakek yang tubuhnya dua kali lipat lebih kecil darinya itu mengaku bahwa ia kerabatnya yang sudah meninggal. Dan kerap minta didoakan.

Berbincang soal rambut dengan sosok misterius.
Sebuah cary tahun tujuh puluhan berhenti, dan ia turun dengan seorang lelaki tua yang wajahnya tak terlihat sempurna, tertutup sebagian rambutnya. Ia tak tahu siapa lelaki itu, hanya sedikit mengingat bahwa dirinya usai menghadiri seminar tentang pemerintahan di gedung Balai Kota, kemudian menumpang pulang pada temannya karena hari sudah larut malam. Mungkin lelaki tua itu ayah temannya. Siapa pun, yang jelas ia tidak tahu kenapa ia harus berjalan mengikutinya. Dan berbincang soal rambutnya yang menurut lelaki tua itu harus segera dipotong. Harus. Sementara ia memikirkannya, sosok itu terus berjalan dan menghilang di ujung jalan buntu.

Berakhir di dasar danau.
Entah kenapa ia harus duduk berboncengan dengan sepasang suami istri yang tidak ia kenal. Untuk sebuah tujuan yang tak begitu diinginkannya: sebuah taman bermain yang menurut banyak orang sangat menarik untuk dikunjungi. Ia cemas dengan perjalanannya yang berkelok. Hingga di tikungan terakhir, sepeda motor yang dinaikinya tak terkendali setelah menabrak dinding pembatas jalan. Melambung, kemudian ia terlempar ke danau di samping kiri jalan. Ia dapat merasakan bagaimana jantungnya berdegup ekstrim cepat kemudian melambat saat ia terhempas lalu tenggelam di dasar danau, dan dadanya sesak setelah sekian volume air danau yang cokelat berpindah ke tubuhnya melalui lubang hidung, telinga dan mulutnya. Perlahan dirinya merasa tak mampu merasakan apa-apa, dan jiwanya terlepas seperti ketika ia menanggalkan pakaiannya.

Lelaki Mimpi telah tiada.

Dengan perasaan takut dan gelisah, ia menguburkan Lelaki Mimpi pada jam dinding di atas bantalnya. Pada angka satu. Masih angka SATU! Lalu ia berharap terkubur bersamanya ketika menyadari bahwa malam masih sangat panjang untuk dilalui, sementara dirinya sudah bermimpi sebanyak itu dalam rentang waktu yang sangat singkat, dalam tidurnya yang kilat.

“Mari kita bercinta,” Insomnia menggodanya, “lagi.”

“Denganku saja,” pil-pil penenang pun tak mau kalah saing.

Ia sedemikian gelisah. Betapapun hanya ada dua pilihan: tetap terjaga sepanjang malam, atau tidur dengan berjuta kemungkinan tentang mimpi yang tak terbayangkan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s