03 – 06 – 08 = 21


03 – 06 – 08  = 21

Alhamdulillahirabbil’alamin …

Tiada yang tak patut disyukuri. Satu per sekian juta detik yang bahkan kerap tak termaknai dalam sisa-sisa kemarin yang nyaris terlupakan itu mengguratkan rasa tersendiri dalam ketersadarannya akan arti sebuah titik. Ya, titik. Sejangkau penglihatan yang memaknai dan menandai keberadaannya. Ia. Di sini, di dunia yang bernama semesta.

Di tengah harap-cemasnya menjadi DEWASA dan rasa takutnya menjadi TUA, ia belajar memahami masa KANAK-KANAKnya; mencoba mempertahankannya, dan pada akhirnya, mau tidak mau harus tinggal mengenangnya.

Karena bagaimanapun ia… sadar, bahwa 21 tidak sama dengan 12.

Ia kerap merisaukannya. Seperti ketika ia merasa benar-benar kehilangan semua masa-masa usia belasannya, untuk selama-lamanya. Bahwa menurutnya, masa itu berarti telah berakhir dan ia terlambat, bahkan sama sekali gagal akan segala hal yang ingin ia capai pada saatnya.

Padahal seharusnya, ah, ya, seharusnya ia biasa-biasa saja. Seharusnya. Apa yang harus dirisaukan? Jalani saja, tanpa perlu banyak berpikir yang hanya membuatmu sekadar berpikir tanpa berbuat apa-apa. Berpikir akan menjadi sesuatu yang sangat penting ketika dapat termanifestasikan dengan baik, kelak, atau setidaknya sesaat setelah dirimu melakukannya. Selama ini ia terlalu banyak berpikir.

21 mengingatkannya pada satu masa di mana dirinya mendongak ke udara menyaksikan semacam fenomena tentang manusia yang tumbuh dewasa; saudaranya yang lebih dulu hadir ke dunia, teman-temannya, tetangganya dan orang-orang yang menurutnya sudah cukup LAYAK dengan angka 21 itu. Wajah yang meyakinkan, ekspresi yang mantap dan garis-garis karakter yang kuat. Fisik yang tangguh. Kepribadian yang kukuh. Dan jiwa yang sedemikian dewasa.

Ketika ia berkaca, bayangannya masih nampak sama. Tak banyak yang berubah pada dirinya. Lagi-lagi ia dilanda resah, tetapi kemudian ia berusaha menepisnya. Ya, inilah dirinya. Si lelaki 21 tahun yang masih menenteng tas ranselnya yang berisi mainan dari masa lalunya, foto-foto kecilnya, catatan-catatan sekolahnya, nilai-nilai rapor terbaiknya, hingga pensil warna yang tersisa lima sentimeter saja dengan buku gambarnya yang selalu penuh hingga halaman belakang.

Ia yang masih disuapi ketika malas makan. Ditertawakan ibu warung ketika jajan makanan yang laris dibeli anak lima tahunan. Harus selalu diingatkan jadwal shalat, terutama shalat Shubuh. Mengendap-endap ke dalam kamar dan tidur di antara kelelapan Ibu dan Bapaknya ketika ia sulit tidur sendirian. Merengek minta dibelikan sesuatu hingga ngambek berhari-hari jika tak digubris. Meninggalkan banyak pakaian dan piring kotor di keranjang cucian. Menyecarkan sampah bekas serutan pensil, repihan kertas dan remah makanan di lantai. Memberantakkan isi lemari tanpa sanggup merapikannya lagi. Menyusahkan Ibu dan Bapaknya dengan segala masalah yang tiada habisnya.

Ia yang masih bukan siapa-siapa.

Ia yang merasa tak berguna dengan kepala duanya. Ia yang merasa sia-sia dengan ketakberdayaannya.

Akhir-akhir ini ia sering dihampiri mimpi dan abstraksi kecil tentang hidupnya sendiri. Hatinya tak jauh berbeda dari kalender dinding yang tersobek setiap harinya, berganti angka, berganti bentuk, berganti warna, berganti rasa. Pemikiran-pemikiran yang membuatnya gila dan tak bisa menyembunyikan ekspresi gamangnya kepada setiap orang yang ditemuinya.

Ia semakin menikmati kesendiriannya.

Entahlah, apakah ia punya atau tidak, rencana untuk mengisi 21-nya. Mengerjakan TA. Wisuda pada waktunya. Melamar kerja. Atau diam saja di rumah; hal yang paling ditakutkannya sekaligus teramat sangat dinikmatinya.

Argh, apa yang harus dirisaukan? Jalanilah dan hidup berjalan dengan cara-caranya. Tuhan selalu punya rencana, dan kau hanya tinggal menjalankannya, mengikuti instruksinya, bertanya jika tak mengerti, meminta, memohon dan memasrahkan kembali segalanya pada-Nya. Apa yang kaumiliki? Tak ada. Semua ini milik-Nya. Hidupmu pun dalam genggaman-Nya.

21-mu adalah bagian dari semua-Nya.

Selamat 21. Semoga ia memberimu tempat ternyaman di bangku yang tidak terlalu depan atau paling belakang, setidaknya tempat duduk yang membuatmu merasa nyaman ketika menyaksikan adegan demi adegan di layar bioskop 21, sendirian, dan kau bisa tertawa lepas, menangis bombai dan terguncang hingga memburaikan berondong jagung pada sepasang kekasih yang sedang bercumbu di sebelahmu. Lalu kau pulang dengan sejuta pengalaman dan menuliskannya kembali untuk kemudian kaukenang.***

Bandung,
04 Juni 2008 12:03:29

Iklan

2 thoughts on “03 – 06 – 08 = 21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s