Si Lelaki, dan SMS, lagi


Lelaki itu masih berkutat dengan materi kuliah yang cukup terlambat dipelajarinya, bahkan dipahaminya. TERLAMBAT. Ia nyaris akrab dengan kata itu. Buku setebal 332 halaman yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya sejak tiga minggu yang lalu itu belum juga usai dipelajarinya. Entahlah, ia begitu ingin menguasainya, tetapi masih membiarkan rasa malas meninabobokannya. Lebih-lebih karena satu alasan klasik: ia sedang jatuh sakit. Lagi.

Tetapi ia tak pernah punya alasan untuk menolak birahinya membabi-buta dalam setiap kata-kata yang ia ketikkan di layar 14 inchi itu. Ia selalu yakin bahwa hanya dengan menulis-lah ia bisa merasa lega dan mampu mengatasi segalanya. Bahkan ketika tulisannya hanya berakhir di tong sampah atau di penjual gorengan saja, ia merasa sudah melakukan hal yang cukup signifikan untuk dirinya. Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang paham akan maksudnya.

Mendadak monitornya berpendar-pendar lemah, seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal siarnya. Ponsel tuanya berdering sekejap, pertanda sebuah SMS singgah.

“Maaf mengganggu. Cuma mau tanya; apa obat hati untuk dapat mengikhlaskan segala sesuatu?”

Lelaki itu berpikir sejenak, kemudian membalas, “Bersyukur dan mempositifkan segala pemikiran kita. Selalu menganggap diri kita hanyalah makhluk yang tidak tahu apa-apa dan Tuhan yang Maha Rencana selalu memiliki maksud dan tujuan dari setiap keputusan dan kehendak-Nya atas diri kita.”

Seseorang di sana kembali mengiriminya pesan, “Apa yang harus kita lakukan untuk membahagiakan hati yang sedang sedih?”

Lelaki itu berpikir agak lama. Bagaimana bisa ia menjawabnya, sementara hatinya pun tengah diliputi kesedihan. Tetapi, sebisa mungkin ia berimprovisasi demi menunjukkan diri betapa ia teramat ingin menjadi seorang penulis, “Percayalah, tidak akan ada kebahagiaan yang datang tanpa kesedihan. Dan keduanya tidak mungkin bisa datang bersamaan. Maka, masalahnya hanya ada pada waktunya saja. Bersabarlah dalam merindukan kebahagiaan. Dan nikmatilah kesedihan sebagaimana kamu menikmati kebahagiaan. Karena hidup adalah selalu tentang dua hal itu.”

Ah, si lelaki sebenarnya tak paham benar dengan apa yang baru ia ketikkan di layar ponselnya. Tetapi, akhirnya ia sadar bahwa yang baru saja dituliskannya bukan sebuah kekeliruan. Dan sedikit-banyak ia merasa terbantu oleh dirinya sendiri, oleh seseorang yang baru saja melontar pertanyaan untuknya.

Cukup lama si lelaki membiarkan ponselnya di sisi monitornya yang penuh dengan jendela beraneka nama: Stage, Cast: Internal, Property Inspector, Tool, Score, Code dan Behaviors. Ia tengah merencanakan sesuatu dengan benda-benda itu untuk membuat semacam portofolio atas segala yang telah ia buat selama tiga tahun terakhir ini. Semoga ia belum terlambat untuk membuatnya.

“Ketika hubungan seseorang harus dipisahkan oleh waktu, tempat, jarak dan keinginan orang tua, apakah keputusan mengakhiri suatu hubungan adalah jalan yang terbaik untuk semuanya?” inbox memory di ponselnya kembali terisi.

Tak banyak waktu yang dibutuhkan si lelaki untuk lekas membalasnya, kecuali kemampuan mengetiknya di ponsel yang masih di bawah rata-rata, “Belum tentu juga. Saya rasa setiap orang memiliki takaran sendiri dalam menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Dan, saya pikir kalian berdualah yang lebih paham tentang hal ini. Maaf, saya tidak banyak berkomentar karena terlalu sulit memposisikan diri menjadi orang lain yang tengah terlibat suatu hubungan. :)”

Ya, si lelaki tak pernah berhasil menjalin suatu hubungan, sekaligus tak pernah gagal. Karena ia tak pernah mau mencobanya. Lagi. Ah, payah!

“Kalau seseorang mereject panggilan telpon kita, apakah artinya dia sudah tidak menginginkan kita? Sementara segala permohonan sudah kita lakukan, dan dia tetap bersikeras menolak.”

Kali ini si lelaki benar-benar mati kutu. Ia yang telah bosan dengan permainan slide, score dan sprite di Director-nya, dan mulai berpaling kepada televisi yang sedang menayangkan acara kontes menyanyi anak-anak, mulai gusar dengan SMS yang kalau diurutkan dari awal hingga yang terakhir diterimanya; tak lain dan tak bukan adalah HANTU yang datang dari masa lalunya. Dan karenanya, perasaan si lelaki mulai kacau.

Tetapi ia tidak lantas tidak membalas. Dengan dada berdebar, ia mencoba mengetikkan, “Setiap orang selalu punya alasan atas apa yang ia lakukan. Baik ataupun buruk, benar ataupun salah langkah dan keputusan yang ia ambil, tak seorang pun menginginkan yang terburuk untuk hidupnya, untuk hidup orang lain. Kita benar-benar dituntut kedewasaan untuk dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dan karena ia tahu bahwa kalian berdua sudah sama-sama cukup dewasa untuk menjalaninya. Jadi, mengertilah. THE BEST THINK IS THE BEST THING.”

Si lelaki kian tak enak hati. Bagaimanapun ia sadar, seseorang itu, perempuan itu masih sedang membahas hubungan mereka bertahun-tahun yang lalu. Ia semakin merasa bersalah mendapati si perempuan masih sulit melepaskannya. Sejujurnya, ia pun berharap tak lantas dilupakan, hanya sekadar ingin diberi kebebasan dan waktu yang tak bisa diprediksikan sampai dirinya dapat kembali memberi keputusan dengan pikiran terjernihnya. Karena hingga saat sekarang pun, si lelaki masih sedemikian bimbang dengan banyak hal. Dan merasa tak ada yang dapat membantu melaluinya, kecuali kesendirian.

“Ok, thanks. Kamu selalu bisa menenangkan pikiranku dari dulu, hingga sekarang. Kata-katamu membuat hatiku tenang dan senantiasa berpositif thinking.”

Ah, syukurlah perempuan itu sudah sedikit merasa lega. Dan si lelaki merasa bebannya sedikit diringankan. Terimakasih juga, TEMAN.

Si lelaki pun kembali tenang.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s