Maafkan Dirinya, Teman, Akhir-akhir Ini Ia Sedang Ingin Sendirian


Jika ia tak membalas SMS-mu, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: tidak ada pulsa, dan egosentrisnya sedang meruncing. Jia ia tak mengizinkanmu ke rumahnya pada hari bukan kuliah, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: ia tidak berada di rumah, dan egosentrisnya sedang meruncing. Dan jika ia terpaksa berdusta tentang sesuatu kepadamu, sejak dulu hanya ada satu masalah besar padanya: egosentrisnya sedang meruncing.

Ya, ia begitu egois.

Bahkan ia tahu karena egosentrisnya itu, beberapa orang terdekatnya merasa tersakiti. Tetapi ia bersikap tak perduli. Karena ia egois.

Jauh di dasar hatinya, ia sadar bahwa egois bukan sifat yang mencerminkan kepribadian positif seseorang. Bahwa egois adalah selalu memposisikan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Bahwa dengan menjadi seseorang yang egois berarti telah membangun penjara untuk diri sendiri dan mengucilkan diri dari orang lain. Bahwa pada akhirnya, si egois tidak akan memiliki teman, sahabat, bahkan kekasih.

Ah, ia tak perduli karena ia begitu egois.

Ia sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Mengurung diri seharian di dalam kamar sambil melakukan sesuatu yang mustahil ia lakukan ketika ada orang lain di dekatnya, benar-benar membuatnya bahagia bukan kepalang. Berjalan-jalan ke taman kota, menikmati polusi udara, mencicipi makanan di pinggir jalan, membeli DVD bajakan, mengitari mal dan duduk di bangku bioskop tanpa teman adalah serangkaian agenda menyenangkan dalam setiap hari di kehidupannya. Ia tak pernah suka berdebat tentang pilihan-pilihan yang hanya akan membuang waktunya percuma, sekaligus ia tak terbiasa memaksakan kehendaknya untuk disepakati bersama. Pada dasarnya ia tidak suka memaksa dan termasuk tipe si PENGALAH. Maka dari itu ia tak suka jika harus berbagi kepala dengan seseorang, terutama untuk hal-hal yang tidak ingin ia lewatkan.

Akhir-akhir ini ia sedang ingin sendirian. Lebih ingin sendirian dari waktu-waktu sebelumnya. Entah kenapa. Mungkin ia hanya sedang ingin mencari jawaban atas pertanyaan itu: kenapa ia sedang ingin sendirian, lebih ingin sendirian.

Diam-diam ia menemukan semacam alasan: karena akhirnya ia akan sendirian, dan semua orang akan berakhir dalam kesendirian.

Maafkan dirinya, Teman.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s