Di Kebun Binatang ini …


Apa yang diharapkan dari sebuah pertemuan?

Saya tidak akan lekas tidur hanya untuk memastikan jawabannya. Tetapi malam itu saya tidak bisa tidur karena justru saya tidak punya harapan apa-apa darinya. Hanya ingin bertemu, berkumpul dan melakukan segala hal yang bisa dilakukan di dunia nyata secara bersama-sama. Terlalu asyik membayangkan apa yang akan terjadi esok hari membuat saya tak juga terjerat mimpi.

***

Pagi itu, ponsel saya berdering-dering setiba saya di jok depan sebuah angkot, dan tepat ketika saya akan mengabari seseorang bahwa saya sedang dalam perjalanan. Hanya panggilan tak terjawab, lantas saya melanjutkan menulis pesan: “Angkotnya kosong banget, jadi ngetemnya lama.”

Memandangi suasana Pasar Simpang yang nampak lengang, dan menguping pembicaraan sopir angkot dengan seseorang di seberang ponselnya memberikan hiburan tersendiri di tengah suasana bosan dan perasaan bersalah terhadap seseorang yang sepertinya sudah menunggu di depan gerbang Kebun Binatang.

Terlepas dari ketakjuban saya pada seorang sopir angkot yang menggenggam ponsel high-tech saat mengemudi, ough, ia yang kira-kira sudah hampir berkepala empat itu nampak mesra memerlakukan lawan bicaranya. Saya jadi ingat ketika bagaimana adik saya menelpon kekasihnya: kamu lagi ngapain? Udah makan? Semalam tidur jam berapa? Oh, ya, aku baru aja sarapan…

Bagaimanapun, saya tepat duduk di sampingnya dan tak mungkin menutup telinga dan terpekik nyaring saat ia bilang, “Yang di rumah kayak biasa, cemberut aja kerjaannya. Dulu aku suka minta maaf biarpun itu bukan salahku. Tapi sekarang…”

Saya berusaha untuk mengalihkan perhatian sambil berjuang menolak kecurigaan: ia sedang berbicara dengan selingkuhannya. Dan, entah apakah ini sebuah kemujuran atau sebaliknya, akhirnya saya tiba di depan gerbang Kebun Binatang sesaat setelah ia bilang, “Kamu masuk angin? Emang semalam habis berapa rit? 10 rit? Ya udah, sekarang kamu mandi dulu, bersih-bersih lalu minum obat dan istirahat…” Mereka… Sesama sopir angkot-kah?

Jarum jam bahkan baru menunjukkan pukul 7:39 ketika akhirnya saya turun dan meninggalkan segala prasangka dan kejutan-kejutan luar biasa dari sang sopir angkot. Rasanya masih terlalu pagi untuk semua hal yang seharusnya tak perlu saya dengar hingga membuat saya bebas berspekulasi.

“Niken,” saya tersenyum, berharap dengan begitu dapat mengurangi kekecewaannya karena keterlambatan saya, “udah lama nunggu? Maaf, tadi angkotnya ngetem.”

Beruntung, Niken a.k.a Kenary tak terlalu perduli. Dan sebagai penebus rasa bersalah, saya pun menawarkan diri untuk membawakan tikar lipat yang dibawanya.

Berselang lima belas menit kemudian, Takiyo dan Abc datang, tak ubahnya dengan apa yang tadi saya lakukan. Dan beruntungnya lagi, Kenary tak lantas memanfaatkan ketepatan waktunya untuk bersikap seolah kami tak cukup disiplin dan layak dijudge “Jam Karet”. Setelah membayar tiket, kami masuk dan mulai menempelkan tanda panah, petunjuk bertuliskan “Kodpar Kemudian.com” di pohon-pohon, pagar besi, dinding batu dan di tempat-tempat lainnya yang dapat dijangkau penglihatan orang-orang. Sampai akhirnya kami pun tiba di tempat yang telah kami sepakati untuk pertemuan ini.

Setelah menggelar tikar, saya langsung bertolak kembali ke depan gerbang yang jauhnya sekitar ratusan meter dari tempat tujuan, untuk menemui Hymen yang mengabari saya bahwa ia sudah tiba di depan gerbang. Cukup melelahkan. Yeah, anggap saja olah raga pagi. Lalu saya meminta “izin keluar-masuk” kepada petugas, dan menemui sang Hymen yang katanya langsung datang dari kampus—walah?

Kami berdua tak langsung masuk karena jam sudah menunjukan pukul 8:30 dengan kemungkinan bahwa akan ada beberapa orang lagi yang datang, dan saya tidak perlu keluar-masuk lagi untuk menemui Kemudianers yang teridentifikasi dari dresscode putihnya. Sebenarnya saya, juga Hymen, sudah cukup pegal berdiri lama di depan gerbang, mengamati setiap orang yang berbaju putih dan “mencurigainya” sebagai Kemudianers. Beberapa benar dan kebanyakan meleset. Seperti saat melihat seorang pemuda berkulit bersih dan berambut ikal, juga tentu saja berbaju putih, datang dengan wajah agak bingung dan seperti sedang mencari-cari seseorang, saat itu saya pikir ialah salah satu yang kami tunggu. Dan ternyata benar; ia memperkenalkan dirinya sebagai Rifai alias Someone From The Sky. Kemudian datang seorang gadis kecil yang berkerudung dan berbaju putih mendekati kami, lalu memperkenalkan diri sebagai Suci alias Suciner setelah yakin bahwa kami yang ia cari. Selebihnya, saya dan Hymen hanya menebak-nebak asal setiap orang yang berbaju putih.

***

Saat itu, waktu kira-kira sudah menunjukan pukul sembilan lebih sekian puluh menit, ketika akhirnya saya dan Hymen memutuskan untuk menyerah karena sudah tak ada lagi Kemudianers yang menunjukan tanda-tanda kedatangannya. Kami masuk dan bergabung dengan Takiyo dan yang lainnya yang sudah bersiap-siap memulai acara.

Kami saling memperkenalkan diri: menyebut nama asli, id di Kemudian, bla bla bla… sampai akhirnya, untuk yang kesekian kalinya dalam pagi itu ponsel saya berdering dan inbox memory-nya sudah cukup penuh dengan kabar-kabar kedatangan juga pembatalannya dengan berbagai alasan. Saat itu, Ena a.k.a Kucing Betina mengabarkan bahwa ia sudah tiba dan sedang mencari keberadaan kami. Lagi-lagi saya yang “menjemput”. Untungnya kami cepat bertemu di dekat Gedung Kesenian, tak jauh dari lokasi pertemuan.

Perkenalan pun dilanjutkan. Dan, lagi-lagi, ponsel saya yang ternyata low-batt itu berdering dan memunculkan pesan dari seseorang yang baru datang. Ia lalu menelpon dan meminta saya “menjemputnya” di depan. Sial, ponsel saya mati, dan setelah dipaksa hidup hanya bisa berkirim SMS dengannya. Saya pun, lagi-lagi pergi ke arah gerbang yang letaknya masih tetap ratusan meter dengan beberapa kali melewati tanjakan dan turunan—benar-benar melelahkan. Setelah beberapa lama terjadi miss-communication akibat masalah low-batt itu, akhirnya saya bertemu dengannya: Novie a.k.a Vieajah.

Dan, benar-benar kejadian yang berulang; saat tengah diadakan games merangkai kata dan kalimat, lagi-lagi, ponsel saya berdering, dan… ya, saya harus menjemput Zonic di gerbang. Hhh… nampaknya saya akan syok berat saat mendapati bobot tubuh saya berkurang beberapa kilogram, lagi, di timbangan.

***

Dalam permainan “Tebak Karya”, saya berusaha tetap kelihatan biasa-biasa saja saat Hymen membaca karya saya. Dan, saya sangat senang ketika tak seorang pun diantara kami mampu mengenali itu sebagai karya saya. Atau, seharusnya saya bersedih karena ternyata saya tak cukup berkarakter dalam menulis? Berbeda ketika karya Abc dibacakan Suciner, atau karya Takiyo Annabhani yang dibacakan …—siapa, saya lupa lagi. Gaya mereka cukup kental sehingga mudah diidentifikasi. Well, saya memang masih perlu berlatih lagi. Setahun lebih dua bulan di Kemudian mungkin masih kurang buat seorang bukan penulis seperti saya.

Dan, “kekacuan” pun mulai terjadi saat jam makan siang. Sang Kucing Betina mengeong-gila, dan rasanya terlalu sulit untuk tidak saya sambut dengan tangan dan dada yang sangat terbuka. Kami berdua saling melempar “ikan asin – bahan tertawaan panjang”, terutama saat membahas Hymen yang secara misterius tidak mau makan. Dari mulai dugaan: jaim, kekenyangan, berbeda selera makanan (kami makan nasi, ia makan rumput sendirian), membayangkan di dalam tubuhnya yang tinggi besar tersimpan banyak cadangan makanan yang dapat didaur-ulang di saat-saat tertentu, hingga menuduhnya sedang puasa mutih. Ah, ada-ada saja. Maafkan kami, Hymen. *peace*

Akhirnya, nasi timbel sekepalan yang saya makan pun tak tahu ke mana larinya karena bukannya kenyang yang saya rasakan seusai makan, melainkan sakit perut dan kebelet kencing karena tak berhenti tertawa dengan Kucing Betina yang gila. Bahkan saya sudah kehilangan tenaga.

Berlanjut pada acara Tukar Kado, bahan-bahan pembuat sakit perut itu masih saja diadonkan Kucing Betina. Sampai saya pikir: sebenarnya, ia seorang penulis puisi atau pelawak?

Tapi, jujur saja, tanpa kehadirannya, mungkin pertemuan itu tak akan sempurna. Saya menyesal mengatakannya, sebenarnya. Jika ia membaca ini, kepalanya akan bertambah besar, ekornya akan bertambah panjang dan hidungnya akan berkedip-kedip nakal. Dan tanpanya, mungkin saya hanya akan menjadi seseorang yang berpura-pura tidak suka tertawa dan berbuat gila. I luv you, sistah… *miaw*

Meski akhirnya saya malu pada Someone From The Sky dan Suciner–yang sama-sama kuliah di fakultas Seni Rupa di dua kampus yang berbeda–nampak begitu adem ayem tur tentrem. *cool*

***

Setelah acara resmi diakhiri, kami mulai berkeliling. Melihat orang utan dengan segala tingkah menggelikannya, siamang yang pernah melakukan ‘pelecehan’ terhadap Abc beberapa hari yang lalu, dan monyet jepang yang berpantat merah, membuat saya semakin sadar bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna secara bentuk. Konon, evolusi manusia diawali dari mereka—halah, tahu apa saya soal semua itu. Dan, hei, kunjungan ke Kebun Binatang ini bukan untuk membahasnya. Entahlah, sejak Kenary mengusulkannya sekitar sebulan yang lalu, kemudian didukung saya dan akhirnya Takiyo dan Abc, kami berempat mulai membahas rencana kopdar di Kebun Binatang. Ya, selain menambah keakraban, menyambung silaturahmi dan memuaskan rasa penasaran terhadap satu sama lain, juga sebagai penyegaran atas kenangan kapan terakhir kali kami ke Kebun Binatang. Saya: sekitar lima tahun yang lalu, saat masih kelas satu SMA.

Naik perahu bersama yang membuat saya pusing pada awalnya, memberi kenangan dan kesan tersendiri. Saya bahkan lupa, dulu saya pernah naik perahu ini atau tidak. Ah, tidak banyak yang bisa saya ingat dari saat-saat dulu. Maka, saya sangat berharap tidak akan melupakan saat-saat ini di tahun-tahun berikutnya, ketika mungkin saya masih ada dan kita masih dapat berjumpa dan saling menyapa.

Dan ketika suatu hari nanti kita kembali ke tempat ini lagi, kita masih dapat mengingat setiap detil kejadian yang pernah terjadi, setiap jengkal kenangan yang pernah tercipta: “Dulu, saya pernah ke sini bersama teman-teman terbaik dan terhebat yang pernah saya miliki, yang membuat saya selalu ingin kembali dan tetap merasa bersama mereka setiap mengenangnya.”

***

Apa yang didapatkan dari sebuah pertemuan?

Malam ini saya ingin lekas tertidur dengan menyimpan banyak kenangan sepanjang hari ini, dan memimpikan kembali semua kenangan indahnya.***

[Bandung, 11 Mei 2008 22:23:31]

2 thoughts on “Di Kebun Binatang ini …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s