The Savior


Niwa pikir, setelah pindah sekolah, keadaannya akan berbeda. Ternyata, justru jauh lebih parah. Pengawasan Joe semakin ketat. Belum lagi, ini, kotak berwarna merah yang dicurigai berisi makan siang. Seperti anak TK saja, gerutunya.

Sepanjang perjalanan dari gerbang, Niwa merasa tubuhnya dihujam ratusan pasang mata, dan telinganya memerah akibat suara-suara yang mengiringi setiap jejak langkahnya. Dan satu hal yang pasti: Niwa tahu, mata Joe tidak akan melepaskannya.

Dari dalam Mercy, Joe dengan alat semacam teropong kecilnya tersenyum saat Niwa mengacungkan jari tengah padanya dari jarak puluhan meter. “Anak nakal,” umpatnya. Joe sadar bahwa gadis itu sudah cukup dewasa untuk memahami hal-hal yang dulu tak dipahaminya. Itu berarti Niwa hanya perlu sedikit kebebasan untuk bergerak, dan kepercayaan atas kemampuannya menjaga diri. Ya, Joe mengerti gadis itu butuh privasi. Ia benar: ini hanya sekolahan, bukan hutan. Ah, ini saatnya ia sedikit bersantai dengan menyalakan sound system, mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama sambil menyesap rokoknya dalam-dalam. Tetapi ia terpaksa me-mute-kan kabin ketika harus mengangkat telpon, “Ya, ada apa Tuan?”

***

“Hai, cantik,” Niwa dihadang tiga orang lelaki genit dan, ehm, agak berbirahi saat hendak mencari ruang Kepala Sekolah. Satu diantara mereka yang merasa paling percaya diri berusaha mendekatinya, mengulurkan tangan, “Gue Gilbert.”

“Ni…,” saat Niwa hendak membalas jabat tangannya, Gilbert menepisnya dan mencolek dagu Niwa. Refleks, Niwa menghindar, dan wajahnya sedikit marah. Bagaimanapun, ini adalah pengalaman terburuknya selama berpindah-pindah sekolah. Di sekolah-sekolah sebelumnya, Niwa begitu dihormati dan disegani, lebih-lebih setelah teman-temannya tahu siapa Niwa sebenarnya.

Niwa mendadak enek saat melihat Gilbert mencium tangannya sendiri yang tadi ia gunakan untuk menyentuh Niwa. Secara fisik, Gilbert nyaris mencapai kesempurnaan. Tubuhnya proporsional, kulitnya bersih dan wajahnya tampan menawan. Semua wanita akan tergila-gila padanya tepat pada pandangan pertama, hingga melihat ia bertingkah, membual dan menepuk dada kencang. Cuma gadis bodohlah yang tahan lama-lama jatuh cinta padanya. Niwa bahkan tak memerlukan waktu lama untuk lekas membencinya.

Melihat perangai Niwa yang cenderung lembut, Gilbert semakin beringas. Tak kepalang, ia berusaha membelai pipi mulus Niwa yang bahkan lalat dan nyamuk saja tergelincir saat melaluinya.

“Apa-apaan sih, lo?!” Niwa mulai emosi dan berupaya melepaskan diri. Kini, giliran tangannya yang mendarat di wajah Gilbert untuk sebuah tamparan. Tetapi, sesaat setelahnya, tangannya berada dalam genggaman Gilbert. Oh, Tuhan. Mimpi apa ia semalam. Ia tak percaya hari ini lebih buruk dari perkiraannya. Dan ia tambah tak percaya: tak seorang pun berusaha menolongnya!

Anak-anak yang lewat dan berada di dekatnya hanya mampu memberikan tatap keprihatinan, bahkan ada yang pura-pura tak melihat. Parahnya, murid-murid lelaki di sana seakan telah kehilangan kejantanannya. Mungkin mereka ingin menolong, tetapi ada sesuatu yang membuat mereka sedemikian tak berdaya. Sepertinya, Gilbert bukan preman-sekolah biasa.

Kini, kedua teman Gilbert mulai beraksi dengan kegenitannya. Niwa semakin terpojok dan tak berdaya. Mereka menyudutkannya ke ujung lorong yang sepi. Sekolah negeri macam apa yang murid-muridnya kacau begini, rutuknya. Ia berjanji akan mengadukan ini pada papanya, dan membuat ketiga pemuda sialan ini menyesal seumur hidup.

Di saat Niwa tak tahu harus berbuat apa lagi, muncullah seorang anak lelaki yang entah dari mana asalnya. Serta-merta ia memukul kepala Gilbert dengan ranselnya. Niwa tak bisa melihat jelas sosoknya, hingga Gilbert berpaling pada anak lelaki yang bertubuh tinggi-kurus itu. “Curut lo!” dengan mudahnya Gilbert menjatuhkan tubuhnya hanya dengan satu tonjokan. Lalu kedua temannya turut memukuli pahlawan malang itu.

“Joe!” seru Niwa saat melihat bodyguard tersayangnya itu datang dan berlari ke arahnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Joe langsung menghajar ketiga bocah kurang ajar itu. Dengan sekali pukulan saja, hidung kedua teman Gilbert langsung berdarah. Gilbert sendiri lumayan tangguh. Joe cukup berkeringat saat menghadapinya, bahkan sempat terkena satu tendangan di perut akibat kelalaiannya, juga karena awalnya terlalu menyepelekan Gilbert. Tetapi, bukan Joe sang bodyguard namanya jika harus dikalahkan seorang bocah ingusan seperti Gilbert. Pengalamannya berkelahi hingga bertaruh nyawa dengan para mafia sudah bisa dibilang ‘cumlaud’. Gilbert pun akhirnya menyerah saat tangannya ditarik ke belakang tubuhnya, dan diam-diam Joe menodongkan senjata ke pinggangnya.

“Gue nggak akan segan ngehabisin nyawa lo, kalo elo berani-berani ganggu Nona Niwa!” ancam Joe penuh penekanan sebelum menghempaskan Gilbert ke lantai.

Keributan di lorong itu mengundang banyak orang dan perhatian. Mereka datang berkerumun, bersorak dan bertepuk tangan saat Gilbert menyerah dan terjatuh. Ia dan kedua temannya pun melarikan diri dengan disoraki anak-anak lainnya.

Dan, entah kenapa tiba-tiba Niwa ingin sekali memeluk Joe. “Thanks, Joe,” ucap Niwa tulus. Sejak dulu ia tahu kehadiran Joe adalah untuk melindunginya, tetapi ia baru benar-benar merasakan keberartiannya saat ini.

“Ini tugas saya, Non,” jawab Joe, kemudian perhatiannya tertuju pada anak lelaki yang tertatih-tatih dan kesakitan akibat dikeroyok Gilbert dan teman-temannya. Joe melepaskan pelukan Niwa, lantas matanya menunjuk anak lelaki itu.

Niwa pun menghamipirinya, “Hei, tunggu!”

Anak lelaki itu menoleh. Nampak bercak merah di sudut-sudut bibirnya, juga memar-memar di wajah sendunya. Rambutnya yang agak panjang terlihat berantakan, dan celana putihnya menjadi kotor dan penuh bekas tendangan. Wajahnya begitu dingin saat bertatapan dengan Niwa.

“M-m-makasih, ya,” ungkap Niwa terbata, sedikit terbius kebekuannya.

Anak lelaki itu hanya mengangguk, lalu pergi. Niwa terus memerhatikannya hingga Joe mulai menginterogasi dirinya.

“Non tidak apa-apa? Ada yang terluka atau sakit?” Kali ini kecemasan Joe bukan semata didasarkan pada gaji bulanannya, melainkan atas perasaan tulus terhadap anak majikannya. Bagaimanapun, Joe sudah ‘mengasuh’ Niwa sejak SD hingga menjelang akhir SMA ini.

“Aku nggak apa-apa, Jo. Cuma sedikit shock,” Niwa berusaha meyakinkannya. “Ada kamu, hatiku jadi tenang.”

Tiba-tiba Joe membenci batas usia diantara mereka. Seandainya Niwa sudah menjadi gadis belia beberapa tahun yang lalu … Ah, Joe, kau hanya seorang bodyguard! Sadarlah!

“Joe, aku boleh minta tolong?” pertanyaan Niwa membuatnya kembali tersadar akan posisinya.

“Dengan senang hati, Nona.”

“Aku penasaran dengan pemuda itu. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?”

Joe mengangguk.

“Oke, sekarang aku mau mencari ruang Kepala Sekolah. Kamu tunggu saja di mobil. Aku yakin, setelah kejadian tadi, nggak akan ada yang berani macam-macam lagi.”

“Tunggu, Non!” tiba-tiba Joe teringat sesuatu. “Tadi Tuan berpesan, kalau ada apa-apa, Non bisa menggunakan sesuatu dalam kotak merah itu.”

Niwa memerhatikan kotak merah yang sedari tadi dibawanya. Lalu Joe membisikkan sesuatu padanya, “Itu pistol dari Tuan Besar. Hati-hati, jangan sampai ketahuan.”***bersambung***

[Minggu, 13 April 2008 07:46:50]

Iklan

2 thoughts on “The Savior

  1. “A Glassess Boy”

    Seseorang sedang mendekam di depan sebuah wastafel di dalam toilet cowok. Wajahnya lebam kebiru-biruan akibat pukulan-pukulan yang didaratkan pada wajahnya. Perutnya sakit karena berulangkali mendapatkan tendangan dari sol-sol sepatu yang keras. Tulang rusuknya terasa seakan mau patah. Sakit sekali. Apalagi pada bagian ulu hatinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika tiba-tiba sebuah tendangan menghantam bagian itu.

    Anak itu melepaskan kacamatanya. Kacamata itu terlihat retak di sebelah kanannya. Anak itu mendesah kecewa. Ternyata kacamata pemberian ayahnya itu harus rusak karena aksi nekatnya tadi. Tangan anak itu mulai meraba pipi sebelah kirinya. Wajahnya yang putih mulus kini harus berhias memar ungu dan . . . .

    “Auww, Sakit!” pekik anak muda itu ketika menyentuhnya. Dia kemudian mengambil seteguk air dari watafel dengan tangannya. Dia meminumnya kemudian berkumur sebentar lalu memuntahkannya lagi. Terlihat air hasil muntahan itu berwarna merah bercampur darah. Rupanya bibir anak muda itu juga terluka karena pukulan tadi.

    “Wah, harus ke UKS nih!” ucap pemuda itu.

    Dia lalu membasuh mukanya dengan air. Tak lupa dia juga mencuci rambut dan bekas memar di lutut dan tangannya. Anak itu sedikit mengerang karena harus menahan rasa sakit ketika air yang dingin itu menyentuh luka itu. Rasa perih yang tak terhindarkan rasanya mulai menyebar di seluruh tubuhnya.

    “Padahal tadi tinggal sedikit lagi. Seharusnya, orang itu tak usah datang untuk menolongku,” gumamnya. Anak itu lalu mengambil kacamatanya. Sedikit retak tak masalah. Dia masih bisa menggunakannya untuk melihat. Toh, di rumah dia masih menyimpan satu lagi untuk cadangan kalau-kalau terjadi hal seperti ini.

    Setelah merapikan baju dan tasnya dia berdiri tegak. Nampaknya adegan heroiknya tadi cukup menguras energinya. Dihajar ramai-ramai oleh tiga orang preman cilik tadi bukanlah hal yang membanggakan. Apalagi berada di depan umum. Itu adalah hal yang sangat memalukan.

    Adegan penyelamatan tadi berada di luar rencananya. Dia tidak tahu kalau jadwal hari ini adalah Gilbert menggoda seorang siswi cantik yang masih baru di sekolah. Seharusnya pagi ini Gilbert cs sedang berada di kelas sambil menggoda Nindi sang primadona sekolah. Tapi, tak apalah. Entah Nindi atau gadis baru itu yang digoda oleh Gilbert tak jadi masalah, yang penting hari ini skenarionya berjalan dengan lancar.

    Anak itu kembali mengecek tasnya. Dia heran kenapa Gilbert sempat sempoyongan ketika ia pukul dengan tas sandingnya. Oh, ternyata kamus Indonesia-Inggris yang kemarin dia pinjam dari Intan masih berada di dalam tasnya.

    ”Pantesan Gilbert tadi KO. Kamus gede gini yang buat nimpuk.”

    Anak itu tersenyum sendiri ketika melihat benda itu masih ada di tasnya. Rupanya penyakit “lupa” miliknya telah menyelamatkannya juga. Dia seharusnya mengembalikan kamus itu besok pada Intan. Tetapi, karena penyakitnya itu. Kamus itu masih tetap bersarang di dalam tas kucelnya.
    Anak itu berjalan menyusuri lorong WC ini. Saatnya ke UKS untuk merawat lukanya ini. Tetapi, ketika dia akan memegang knop pintu tersebut. Tiba-tiba saja pintu itu di dobrak dengan kasar! Tubuh anak itu sampai terlempar beberapa kaki ke belakang.

    “Auw, siapa sih orang ini? Mau kebelet kok nafsu banget?” gumam anak itu. Dibalik kacamatanya yang retak anak itu mengawasi siapa orang yang bertanggung-jawab atas semua ini.

    “Anjrit! Rupanya loe ngumpet disini?! Awas loe, gue hajar baru tahu rasa loe!” teriaknya dengan penuh umpatan yang menjijikan. Anak berkacamata itu terkejut! Rupanya orang itu adalah Rock. Salah seorang dari anak buahnya Gilbert. Tubuhnya lumayan besar. Tapi, anak berkacamata itu yakin itu bukan hasil dari fitness tetapi timbunan lemak yang ia makan.

    Rambutnya keriting dengan beberapa memar di wajahnya. Nampaknya, itu adalah hasil dari kenekatannya berkelahi dengan pria berjas tadi. Anak berkacamata itu bangun sambil tersenyum. Kemudian, membetulkan letak kacamatanya.

    “Ngapain loe cengar-cengir?! Kayak kambing aja! Sini gua tambahin make up di tampang loe!” tantang Rock. Dia rupanya sudah emosi karena kalah berkelahi tadi. Mungkin dia ingin melampiaskan rasa malunya pada anak berkacamata itu.

    Tapi, rupanya anak berkacamata itu malah semakin tertawa lebar. Itu membuat Rock semakin panas. Dia ingin segera menghajar kembali tampang innocent anak itu.

    “Kurang ajar loe! Nggak tahu bahasa manusia ya! Diem tai!” bentak Rock garang. Emosinya kembali meluap ketika melihat anak berkacamata itu semakin tertawa lebar ketika mendengar ancamannya. Seaakan-akan ancaman yang dia lontarkan hanyalah lelucon belaka.

    Tiba-tiba anak berkacamata itu menghentikan tawanya. Suasana berubah menjadi sunyi mencekam. Rock sempat heran dengan tingkah anak itu. Mungkin anak itu menjadi gila setelah kepalanya kena tendangan sepatunya menurut Rock. Tapi, rupanya tidak. Mata anak itu berubah menjadi tajam menatapnya. Dingin. Seakan rohnya telah hilang termakan kabut. Dari balik kacamatanya terlihat aura mistis yang belum pernah Rock rasakan. Rasanya hanya dengan tatapan mata itu, darahnya terhenti. Setiap urat terasa terikat. Udara habis. Anak itu tak seperti yang tadi! Dia lain! Saat itu juga tiba-tiba Rock merasa kalau dirinya terancam.

    Anak itu menyeringai mengerikan. Seperti hewan buas yang siap menerkam buruannya. Rock tidak bisa berkutik diselimuti aura itu. Hal ini seperti yang ia rasakan ketika bertarung dengan pria berjas itu. Anak ini, bukan orang biasa.

    “Nampaknya, aku tak usah berpura-pura lagi disini. . . .” desisnya membelah udara.

    Tampak sebuah kilatan cahaya di balik tangan anak kacamata itu. Sesuatu yang bening dan tajam. Menyilaukan. Lalu, hanya angin yang akan bercerita.

    ****
    “Wah, lukamu parah banget! Habis jatuh darimana? Berantem ya?” tanya Bu Fanes sambil mengobati luka Edo dengan alkohol agar tidak ada bakteri yang masuk.

    “Dari tangga. Tadi, keburu-buru ambil buku Bu. Jadi, nggak sengaja saya terjatuh,” ucap Edo sambil tersenyum. Tak mungkin dia menceritakan hal yang sebenarnya kepada gurunya yang satu ini. Dia pasti takkan percaya.

    “Huh, kamu tuh ya! Selalu aja ceroboh. Padahal sudah dibilangin kalau tangga itu berbahaya, kamu tuh harus permisi dulu sama penunggunya waktu lewat. Kalau nggak. Begini deh jadinya,” pesan Bu Fanes. Edo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gurunya yang satu ini memang aneh. Selalu saja percaya dengan hal-hal yang mistis dan tak masuk akal baginya. Sama saja dengan keadaan Bu Fanes yang masih lajang sampai saat ini. Padahal Bu Fanes lumayan cantik bagi Edo. Apa karena hobi Bu Fanes mengumpulkan benda-benda keramat ya? Ah, nggak tahu deh! Edo tak mau ikut campur dengan masalah itu.

    “Nah, sudah selesai! Nih, ibu bawakan juga obat buat di rumah. Nanti diminum ya!” pesan Bu Fanes sambil selesai menyimpulkan perban di kepala Edo.

    “Terima kasih, Bu!” ucapnya sambil berpisah. Edo kemudian mengambil tasnya dan segera pergi menuju kelasnya. Bu Fanes juga melambai-lambaikan tangannya kepada Edo. “Hati-hati ya!”

    Edo pun kembali ke kelasnya. Suasana lumayan longgar ketika Edo berjalan di koridor. Mungkin karena saat itu pelajaran sedang berlangsung. Sesaat kemudian dia telah sampai di dalam kelasnya. Pasti di dalam teman-temannya sudah membicarakan kejadian tadi. Edo pun membayangkan reaksi heroiknya tadi jadi bahan pembicaraan seluruh sekolah! Ah, bangganya dia!

    “Tapi, ngomong-ngomong gadis tadi siapa ya? Kayaknya pernah lihat deh!” ucap Edo kepada dirinya sendiri. Tak terasa dia melamun sambil terus mengingat-ingat wajah gadis itu. Matanya mendongak ke atas sambil terus mengingat-ingat. “Siapa ya?”

    Kaki Edo terus melangkah ke depan tanpa melihat. Tak terasa sudah sampai di tikungan. Lalu, tiba-tiba. . . .

    “Bruk!!!”

    Edo jatuh terjengkang. Heran deh! Hari ini dia banyak sekali jatuh gara-gara tertabrak. Siapa sih yang berani nabrak dia.

    “Maaf-maaf. Saya sedang terburu-buru,” ucap suara itu tersenggal-senggal meminta maaf. Edo sempat jengkel juga dibuatnya.

    “Makanya kalau jalan itu hati-ha. . . .”

    Edo tak bisa meneruskan kata-katanya ketika melihat orang yang ditabraknya. Oh, jangan lagi deh!

  2. ======Komen gue:==============

    Dear Nirozero, (*hayah, pake “dear”… =P)

    Well, cerita lo selalu keren. Unpredictable. Tapi, gue ngerasa ada beberapa hal yang rasanya tuh… wew,, agak janggal dan ‘kasar’ (maksudnya, kurang halus masuk ke cerita), dan cukup ngganggu strukturnya.

    Beberapa hal itu udah gue kelompokkin menjadi 3 bagian

    1.Redudansi (pengulangan) dan pleonasme (pemborosan)

    maksudnya: gue ngerasa ada pengulangan kata yang sama dalam satu kalimat, dan itu buat gue cukup “boros”. Selain itu juga penempatannya kurang pas.

    Seperti di bagian:
    “Wajahnya lebam kebiru-biruan akibat pukulan-pukulan yang didaratkan pada wajahnya”
    kenapa gak jadi gini aja:
    “Wajahnya lebam kebiru-biruan akibat pukulan yang bertubi-tubi.”
    *orang gak bakalan mikir pukulannya ke perut, kalo wajahnya lebam kebiruan.

    Terus, di sini juga:
    “Anak itu sedikit mengerang karena harus menahan rasa sakit ketika air yang dingin itu menyentuh luka itu.”
    Gimana kalo gini aja:
    “Anak itu sedikit mengerang karena harus menahan rasa sakit ketika air yang dingin itu menyentuh lukanya.”

    Ada lagi nih:
    “Rasa perih yang tak terhindarkan rasanya mulai menyebar di seluruh tubuhnya.”
    Enakan gini deh:
    “Perih yang tak terhindarkan, rasanya mulai menyebar di seluruh tubuhnya.” Atau “Dia mulai merasakan perih yang tak terhindarkan menyebar di seluruh tubuhnya.”

    Dan, di bagian ini:
    “Mungkin anak itu menjadi gila setelah kepalanya kena tendangan sepatunya menurut Rock.”
    Gue sih lebih milih gini:
    “Rock pikir, mungkin anak itu menjadi gila setelah kepalanya kena tendangan sepatunya.”

    2. Kerancuan
    Bagian ini gue artikan sebagai sesuatu yang agak sedikit kurang logis, dan membingungkan.

    1.tentang penggunaan kata “anak muda” yang kadang berubah menjadi “anak itu”, terus “pemuda itu”. Cari aja satu kata ganti yang konsisten; kalo dari awal “anak itu”, ya teruslah pake “anak itu”

    2.di bagian ini juga : “Tak lupa dia juga mencuci rambut dan …”
    *mencuci rambut???>>kesannya kayak keramas. Masa, di sekolah keramas? hehehe

    3.terus di sini: “Setelah merapikan baju dan tasnya dia berdiri tegak. Nampaknya adegan heroiknya tadi cukup menguras energinya…”
    *gak ada korelasi yang jelas antara BERDIRI TEGAK dengan MENGURAS ENERGINYA. Kecuali lo tambahkan keterangan bahwa ketika ia berdiri tegak, ia merasa tak bisa setegak biasanya karena kejadian tadi cukup menguras energinya.

    4.Nah, bagian keseluruhan paragraf ini, sumpah gue bingung nafsirinnya: “Adegan penyelamatan tadi berada di luar rencananya. Dia tidak …”
    *waduh, menurut gue, ini terlalu JGER!!! GLEG!!! Binguuuung banget, gue. Bisa lebih di-clearkan, tapi tetep ada efek keingintahuan buat si pembaca. Apalagi lo pake kata-kata “skenarionya berjalan lancar.” Asli, anehhhhh. Maksudnya, gimana tuh?

    5.terus, ini agak kurang gimanaaaa gitu: ““Nah, sudah selesai! Nih, ibu bawakan juga obat buat di rumah. Nanti diminum ya!”
    *memang, si ibu ini ‘dokter’ di sekolah yak? Penjelasannya mana? Gak mungkin dia kasih obat secara sembaranganlah. Si edo juga sakitnya kurang jelas di mana. Maksud gue, sakit yang perlu diobati dari dalam itu. Dan kayaknya, ini gak perlu juga. Tapi kalo emang ngaruh ke cerita sih gak apa-apa.

    6.ini juga: “Hari ini dia banyak sekali jatuh gara-gara tertabrak…”
    *Nah, kapan aja tuh si Edo jatuh gara-gara tertabrak? Terus, si Edo tuh sebenernya cowok berkacamata itu, atau temennya si Gilbert?

    3.Pemenggalan kalimat
    Yang ini, sebenernya, ini tuh salah satu ‘problem’ lo dari dulu yang seriiiiiing banget gue temuin di tulisan2 lo. Dan, entah kenapa, gue ngerasa lo nyaman-nyaman aja dengan hal ini. Kalo gue sih, terus terang keganggu.
    Gue kutip tulisan lo ya:

    1.“Tetapi, karena penyakitnya itu. Kamus itu masih tetap bersarang di dalam tas kucelnya.”
    Kenapa gak gini aja, “Tetapi, karena penyakitnya, kamus itu masih tetap bersarang di dalam tas kucelnya.”
    >> elo tuh menggal kalimatnya gak enak banget. “Tetapi, karena penyakitnya itu.”>> Nah, coba, susunan Subjek-Predikat-Objeknya gimana tuh? Terus juga, nanggung aja, kalimat yang diakhiri dengan titik, tapi masih perlu dilanjut.
    2.“Tetapi, ketika dia akan memegang knop pintu tersebut. Tiba-tiba saja pintu itu di dobrak dengan kasar!”
    >> Ini juga, kenapa gak gini aja: “Tetapi, ketika ia akan memegang knop pintu tersebut, tiba-tiba saja pintu itu didobrak (*bukan di dobrak) dengan kasar!”
    3.“…kamu tuh harus permisi dulu sama penunggunya waktu lewat. Kalau nggak. Begini deh jadinya,”
    Enakan gini: “… kamu tuh harus permisi dulu sama penunggunya waktu lewat. Kalau nggak, begini deh jadinya.”

    Wah, sory bro, gue gak maksud so’ tahu atau so’ menggurui. Gue cuma sekedar sharing aja. Sepanjang gue nulis, hal-hal itulah yang selalu gue hindari. Kalaupun masih ada di tulisan gue, ya, namanya juga manusia, banyak khilaf. Mangkanya kita saling mengingatkan. Gue juga bukan anak sastra atau bahasa. Tapi, ya, pake cara logis aja, bro. Ketika membaca, gue kadang tersendat-sendat dengan hal-hal yang udah gue sebutin tadi. Keindahan ceritanya bisa jadi terganggu. Menurut gue, tinggal itu aja sih yang mesti dirapiin. Selebihnya, alur dsb., gue percaya, lo jago.

    Oh iya, karena ini project bersama kita, gue pikir kita berdua punya hak yang sama kan untuk saling mengingatkan dan saling mengoreksi. Kita juga punya hak untuk menyanggah pendapat satu sama lain, juga untuk menolak memperbaiki, selama kita punya alasan yang kuat untuk mempertahankannya. Ya, balik lagi ke masalah “gue bukan anak sastra” itu tadi. 

    Kalo gue yang salah, bilang aja ya, bro. Gue sih gak bilang ini salah, tapi, setahu gue, memang kurang rapi . Kalo lo mau bales (protes gue) balik juga gak pa-pa. Gue seneng kok, nambah-nambah masukan buat gue. Tapi, sekali lagi beneran deh, gue kayak gini bukan untuk so’ tahu atau so’ menggurui lo. Lah, gue sama elo kan sama-sama ter-dudulz di k.com … hehehe .
    Piss, bro (n_n)v

    Salam,
    Dadun

    *NB: oh iya, gue juga masih bingung nih nyambungin bagian lo yang sebelum bintang (tentang si anak berkaca mata itu) sama bagian di bawah bintang (Edo dll.). ntar takutnya, gue bikin lanjutannya, malah gak sesuai yang lo mau lagi. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s