Anu dalam Kepalaku


Hilir mudik kereta mimpi
Di stasiun labirin aku berdiri
Berpikul kardus-kardus kenangan
Mengantongi keresek muntahan kepahitan

Kereta mimpi menggilas sepi
Berkomplot dengan pasar disesaki kaki
Saling melempar bising, mengadu gaduh
Lenguh orgasme bianglala dan angin yang bersetubuh

Seseorang yang duduk di sebelahku: tak henti mencumbu jendela
hingga dehidrasi
Yang di hadapanku: tak henti memotret
hingga segalanya terduplikasi
Dan yang berada di kepalaku: tak henti menciptakan kereta mimpi
yang di dalamnya ada aku sendiri yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi dan aku sendiri yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi dan aku sendiri
yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi
dan aku sendiri
yang dalam
kepalaku:
ada kereta
mimpi
dan aku
sendiri
yang
dalam

One thought on “Anu dalam Kepalaku

  1. A Lady with Mercy

    “Dun, dah jadi nih! Tolong lanjutin yak! n_n v”

    Sebuah mercy tiba-tiba saja meluncur di depan sebuah sekolah negeri yang notabene salah satu sekolah berkelas di kota itu. Semua mata tertuju pada mobil mewah itu menebak-nebak siapakah yang akan turun dari mobil mahal tersebut. Soalnya, jarang sekali sekolah itu kedatangan seseorang yang begitu penting sampai-sampai harus sebuah mercy sport yang mengantarnya.

    “Joe, kamu yakin sekolah ini tidak akan gempar melihatku mengendarai ini?” tanya seorang gadis.

    “Tentu saja tidak. Karena ini pesan Tuan Besar,” jawab seseorang bernama Joe yang sedang duduk di belakang stir.

    “Tapi, di luar sana banyak sekali orang yang melihatku,” ucap gadis itu sambil melihat keluar melewati jendela mobil. Di luar sana banyak sekali pasangan mata yang menuju kepadanya. Gadis itu sedikit khawatir.

    “Tenang saja Non Niwa. Non hanya belum terbiasa saja,” kata Joe menenangkan. namun meskipun begitu. Niwa juga tidak bisa tenang. Sebab, di luar sana banyak sekali orang yang mengawasinya. Seolah-olah dia adalah tamu penting yang ditunggu-tunggu banyak orang.

    “Fyuh! Tahu begini mendingan aku naik bus kota saja. Kalau begitu aku keluar dulu. . .”

    “Eits, Non! Tunggu dulu! Biar saya saja yang bukakan pintu, Non,” tawar Joe. Niwa melenguh kesal. Tampaknya ajudannya yang satu ini benar-benar memperlakukannya seperti seorang tuan putri. Niwa sih tidak masalah apabila ayahnya memberikan kepercayaan pada Joe untuk menjaganya. Tapi, kalau sampai overprotecting seperti ini kan repot juga.

    Joe akhirnya keluar dengan setelan jas berdasi serba hitam. Dengan sepatu kulit dan kacamata hitam. Dia nampak seperti seorang mafia yang akan mengadakan transaksi.narkoba. Padahal nggak. Dia cuma mau nganter anak majikannya ke sekolah.

    Semua orang terperangah melihat penampilan Joe yang parlente. Tampaknya hari ini sekolah mereka akan kedatangan tamu penting. Sampai-sampai seorang sopirnya saja berpakaian serapi itu. Apalagi ditambah badan Joe yang tinggi dan wajahnya yang lumayan tampan. Tak kalah dengan Fadli Nuril yang main di Ayat-Ayat Cinta. Spontan saja menambah decak kagum para siswi dan guru yang berada disana.

    “Wah, kelihatannya sekolah kita bakalan dijadikan lokasi syuting nih!” ucap seorang siswi yang kebetulan berada di sekitar situ.

    Dengan langkah yang tegap Joe mulai melangkah tepat di depan pintu mobil itu. Tangannya menyentuh knop pembuka pintu lalu membukanya secara perlahan. Dan nampaklah seorang putri cantik nan jelita dari dalam mobil itu. Niwa keluar dengan seragam khas sekolah itu. Atasan hitam batik dengan bawahan putih polos. Kini giliran para cowok yang terkagum-kagum dengan seorang dewi yang baru saja turun dari mercy itu. Mereka sangat terpana dengan kecantikan Niwa. Sampai-sampai mata mereka tak bisa berkejap ketika memandangnya.

    Niwa mulai melangkahkan kaki keluar. Bagaikan seorang selebritis yang turun dari limosinnya, Niwa keluar dengan anggunnya. Tatapan-tatapan penuh cinta mulai mengarah kepadanya. Mereka berharap bisa mendapatkan perhatian dari Niwa walau hanya sesaat pandangan matanya.

    “Tuh, kan kejadian lagi. Make up Sandra terlalu mutakhir sih? Padahal sudah dibilangin minimalis aja,” kata Niwa dalam hati. Dia kemudian membalas tatapan semua cowok yang ada disana hanya dengan senyum simpulnya yang manis sekali. Sehingga membuat cowok-cowok disana kelimpungan melihatnya.

    “Wah, kalau gue jadi cowoknya. Bikin seribu candi dalam satu malem pun gue rela deh!” ucap seorang penjual es cendol yang sedang markir dagangannya di depan sekolah itu.

    “Yee, abang ada-ada aja. Emang sekarang zamannya Ken Arok?!” bantah teman disampingnya sambil menoyor kepala penjual es cendol tadi sambil sedikit mendoakannya supaya nggak kesambet.

    “Non, perlu saya antar ke dalam?” tawar Joe. Soalnya, dia khawatir Niwa dikerubungi kumbang-kumbang yang sudah siap mendekati bunga yang satu ini. Padahal majikannya tadi sudah kasih pesan sama dia supaya anaknya jangan sampai disentuh seorang cowok pun! Kalau saja itu sampai terjadi. Joe harus rela bulan depan gajinya dipotong setengahnya.

    “Nggak perlu Joe. Aku kan cuma mau masuk sekolah. Bukan masuk ke hutan,” jawab Niwa sewot.

    “Tapi, nanti kalau Non kenapa-kenapa gimana, Non?” tanya Joe lagi. Dia masih khawatir dengan nasib gajinya bulan depan.

    “Tenang aja. Nanti kalau ada apa-apa aku telepon deh! Sudah ya! Bye!” sahut Niwa ketus. Dia agak kesel juga sih dengan sikap pengawalnya yang satu ini. Sambil berlalu pergi.

    “Tapi, tunggu Non!” teriak Joe.

    Niwa menghentakkan kakinya kesal. Lama-lama Joe bisa jadi Ruben nih saking cerewetnya. “Apalagi sih?!”

    “Ini ada titipan dari Tuan Besar. Katanya, buat Non Niwa tercinta,” kata Joe sambil menyerahkan sebuah bingkisan kotak berwarna merah. Tangan Niwa terulur mengambil kotak yang lebih mirip kotak makanan itu dari tangan Joe. Ugh! Berat juga. Memang papinya mau ngasih Niwa makanan apa sih? Kok beratnya sama dengan barbel? Apa Niwa disuruh fitness gara-gara kemarin berat badannya naik sekilo?

    “Isinya apa Joe?” tanya Niwa penasaran.

    “Nggak tahu, Non. Saya tidak berani membukanya,” jawab Joe singkat.

    “Oke deh, Joe. Bye Joe!” ucap Niwa mengatakan selamat tinggal.

    “Bye juga Non. Belajar yang rajin ya!” pesan Joe sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Tuan Putrinya. Dari kejauhan matanya tetap awas mengawasi majikannya yang satu itu dari kejauhan.

    Joe pun kembali ke dalam mercy. Namun, ketika akan membuka pintu. Dering tanda panggilan masuk di ponselnya berbunyi. Joe segera mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya dan menjawab panggilan itu.

    “Ya, Tuan ada yang bisa saya bantu?” jawab Joe.

    “Ya, apakah Niwa sudah sampai di sekolah?” tanya seseorang di seberang. Nampaknya, dia adalah majikan Joe alias papinya Niwa.

    “Sudah Tuan. Misi telah berhasil,” ucap Joe tegas bagai prajurit.

    “Lalu apakah bingkisan tadi sudah kau berikan kepadanya?” tanyanya lagi.

    “Sudah juga Tuan. Non Niwa sudah menerimanya. Tapi, kalau boleh saya tahu isinya apa Tuan? Saya juga ikut penasaran,” ujar Joe. Tampaknya dia juga ikutan penasaran dengan bingkisan misterius itu.

    “Kau tak perlu tahu. Bingkisan itu pernyataan kasih sayang antara ayah kepada anaknya. Yang terpenting adalah kau harus tetap mengawasinya.”

    “Siap Tuan!”

    “Kau masih ingat konsekuensinya?” tanya Tuan Besar dengan nada sedikit mengancam.

    Joe menelan air ludahnya mendengar pertanyaan itu. “Ma-masih Tuan.”

    “Bagus. Laksanakan tugas itu. Sampai jumpa. Tut-tut-tut. . .” ucap Tuan Besar.

    Joe menutup teleponnya. Dia kemudian mengambil sebatang rokok dari sakunya, lalu menyalakannya. Dia hisap rokok itu dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke angkasa. Mata Joe menerawang masuk menatap lorong sekolah itu. Nampaknya masih ada tugas yang belum terselesaikan.

    “Fyuh! That’s no easy for me,” desah Joe.

    – to be continued –

    (Dun, lanjutin yak! Nanti, via sms aja kunci lanjutannya! n_n v)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s