Ke Dokter, Lagi, dan Antre


pills_by_dimshik.jpgSaya benci, lagi-lagi dokter yang harus saya kunjungi. Tetapi, saya lebih benci: sakit tanpa meminum obat. Sudah ratusan kali saya bilang tidak enak badan, sehingga saya sudah sangat bosan, dan tidak enak hati. Memperkaya dokter dengan jerih payah kedua orang tua saya. Pernah saya bungkam, dan rasa sakit yang saya rasakan bertambah parah. Ujung-ujungnya, tetap saja, orang tua yang susah.

Sore ini, ba’da Magrib, untuk yang kedua kalinya di bulan Maret ini, saya mengunjungi dokter, lagi. Saya mulai melupakan dokter sebelumnya yang terakhir memberikan resep obat yang tidak ber-efek apa-apa. Ibu saya menganjurkan saya untuk berobat ke dokter yang membuka praktik di dekat rumah kami. Ialah dokter yang memeriksa saya sejak dua bulan usia saya.

Wah, saya dan ibu saya sempat ngedrop saat melihat ruang praktik dokter itu sangat penuh. Ada sekitar sebelas orang yang duduk di ruang tunggu, dan sembilan orang di ruang depan. Kami nyaris pulang, tetapi akhirnya tertahan dan berusaha sabar karena kata ibu saya, tidak semua orang yang ada di sana adalah pasien, beberapa pasti teman mengantar saja. Saya menghitung, diagnosa pasien tercepat adalah lima menit. Anggaplah saya pasien ke-sepuluh. Berarti, saya harus menunggu sampai sejam lagi. Lalu, setelah saya pun masih berdatangan pasien-pasien lainnya.

Ini bukanlah sesuatu yang luar biasa seandainya ada seorang petugas pemberi nomor urut periksa pasien. Bisa kamu bayangkan, ada sekitar dua puluh orang lebih menunggu giliran tanpa memegang nomor urut. Jadi, di sini benar-benar dituntut kejelian dan kesadaran untuk menunggu giliran. Budaya antre, mau tidak mau harus ditegakkan. (Dasar, dokter pelit; tidak mau bagi-bagi rejeki dengan mengangkat seorang petugas karcis!”

Tetapi, betapa luar biasa. Saya salut kepada kesadaran kami semua di sana. Saya sempat kasihan juga pada pasien-pasien setelah saya yang masih balita. Inginnya saya mendahulukan mereka daripada saya sendiri. Tetapi, bagaimana mungkin? Pastinya, pasien berikutnya yang merasa datang setelah pasien anak balita tersebut akan menyerobot masuk dan saya menunggu lagi. Nampak kurang manusiawi, mungkin. Lantas, seandainya kamu yang berada di sana saat itu, apa yang akan kamu lakukan?

Saya pun baru mendapatkan giliran menjelang setengah sembilan malam.***

25/03/2008 22:20:44

Iklan

3 thoughts on “Ke Dokter, Lagi, dan Antre

  1. haha, tapi km tau ga? di dunia kedokteran, itu ada loh yang namanya self limited disease? penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya tanpa perlu obat? seperti, flu, batuk, pilek (asal ga lebih dari 2 minggu, mungkin pertanda TBC). jadi yang dokter beri, bukan untuk menyembuhkan penyakit, tapi cuma untuk menghilangkan symptom dari penyakit tsb,hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s